Golkar Harus Segera Rapat Pleno Tentukan Munaslub

Astri Novaria
04/12/2017 20:50
Golkar Harus Segera Rapat Pleno Tentukan Munaslub
(ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

WAKIL Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Mahyudin mengingatkan pengurus dewan pimpinan pusat (DPP) untuk menghormati upaya hukum praperadilan yang ditempuh Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto sebelum memutuskan untuk menggelar munaslub.

Sebab, kata Mahyudin, bagaimana pun Novanto pernah berjasa bagi Golkar.

"Biar bagaimana pun beliau juga adalah orang yang sedikit banyak telah berbuat, berjasa untuk Partai Golkar. Jadi jangan juga teman-teman seperti kacang lupa kulitnya. Begitu Novanto seperti sekarang langsung mendesak munas," ujar Mahyudin di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (4/12).

Terkait desakan musyawarah nasional luar biasa (munaslub) dari mayoritas DPD I Partai Golkar, ia memahami DPP harus segera meresponsnya dengan menggelar rapat pleno untuk menentukan kapan, di mana dan siapa yang memimpin munaslub.

Pihaknya berharap munaslub bisa digelar akhir Desember atau awal 2018 mendatang. Tujuannya, agar persiapan Pilkada 2018 tidak terganggu.

"Saya kira sekarang bolanya ada di pelaksana tugas Ketua Umum DPP Partai Golkar dengan meresponsnya menggelar rapat pleno DPP untuk melakukan persiapan persiapan munaslub. Ya, mungkin bisa dilaksanakan antara akhir Desember atau Januari awal. Karena kita akan menghadapi pilkada. Memang waktu juga tidak terlalu banyak. Jangan terlalu lambat, jangan juga terlalu cepat," tandasnya.

Di sisi lain, Mahyudin mengaku sudah mendapat informasi bahwa Novanto telah legawa melepaskan jabatan ketua umum Partai Golkar. "Beliau sudah legawa dan saya kira bukan hanya mengundurkan diri. Beliau juga siap melaksanakan munaslub, tapi sesuai dengan mekanisme dan aturan partai yang berlaku," tukas Wakil Ketua MPR ini.

Sejauh ini, 31 pimpinan DPD I telah menyatakan mendukung munaslub untuk mengganti Novanto. Hanya tinggal 3 DPD yang belum memberikan persetujuan, yakni NTT, Papua dan Papua Barat. Adapun syarat digelarnya munaslub adalah harus mengantongi dukungan minimal 2/3 dari total 34 DPD Partai Golkar se-Indonesia.

Terkait pengganti Novanto, menurutnya, Airlangga Hartarto merupakan sosok yang tepat untuk memperbaiki citra partai. Airlangga merupakan salah satu tokoh yang paling banyak disebut, apalagi dia punya kedekatan dengan Presiden RI Joko Widodo.

"Pak Airlangga orangnya tidak ada masalah karena dalam waktu menjelang pemilu, saya kira Partai Golkar butuh figur yang bersih, punya kemampuan, dan pengalaman. Saya kira Pak Airlangga figur yang cocok untuk memimpin Partai Golkar," ungkapnya.

Meskipun diakuinya dukungan terhadap Airlangga cukup kuat, ia menilai belum tentu Menteri Perindustrian itu akan menang secara aklamasi. Sebab, masih banyak tokoh Golkar yang punya kans kuat.

"Belum tentu (aklamasi). Karena banyak juga calon-calon yang belum muncul. Karena memang belum diagendakan munasnya. Ada juga calon-calon yang menghormati dan loyalitas penuh kepada Pak Novanto sebelum ada sinyal dari Pak Novanto, ya belum muncul," pungkasnya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eko Suprihatno
Berita Lainnya