Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TINGKAT kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Joko Widodo cukup tinggi, yakni mencapai 67,2%.
Sementara, publik yang menyatakan kurang puas atau tidak puas sama sekali sebanyak 28,5% dan tidak tahu atau tidak jawab sebesar 4,3%. Angka tersebut berdasarkan hasil survei yang dilakukan Indo Barometer.
Jika dibandingkan dengan survei sebelumnya, tren tingkat kepuasan terhadap Jokowi semakin meningkat sejak survei nasional pada Maret 2015 sampai November 2017. Namun, memang sempat melemah hanya pada September 2015.
Ada lima alasan utama publik puas terhadap kinerja Jokowi-JK, yaitu meningkatnya pembangunan, dekat dengan rakyat kecil, sesuai janji kampanye, bantuan pendidikan dan memberikan bantuan bagi masyarakat miskin.
Sementara, lima alasan tidak puas terhadap kinerja Jokowi-JK, adalah pengangguran masih banyak, terlalu banyak pencitraan, pembangunan belum merata, kurang berwibawa dan penegakan hukum belum adil.
Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari menekankan bahwa tingkat kepuasan publik berbanding lurus dengan tingkat elektabilitas. Menurutnya, jika Jokowi akan kembali maju dalam Pilpres 2019 mendatang, ia harus bisa meningkatkan tingkat kepuasan publik tersebut.
"Tingkat kepuasannya di angka 67%-68%, maka elektabilitasnya sekitar 45%-50%. Kalau mau aman, tingkat kepuasan harus di atas 70% atau 80% buat petahana. Kalau kepuasan petahana 80%-85%, elektabilitas bisa 70%, bahkan 80%," ujarnya di Hotel Atlet Century Park, Jakarta, Minggu (3/12).
Menurutnya, Jokowi masih mempunyai pekerjaan rumah untuk meningkatkan tingkat kepuasan publik terhadap kinerjanya, terutama masalah ekonomi.
Untuk diketahui, Indo Barometer mengeluarkan hasil survei nasional yang bertajuk siapa penantang potensial Jokowi di 2019. Dalam survei tersebut, jika publik dihadapkan oleh enam nama calon presiden, nama Jokowi menduduki urutan pertama sebesar 44,9%, yang kemudian diikuti Prabowo Subianto (13,8%), Anies Baswedan (6%), Agus Harimurti Yudhoyono (3,5%), Gatot Nurmantyo (3,2%) dan Jusuf Kalla (1%). Sementara, yang belum memutuskan/rahasia/tidak akan memilih/tidak tahu/tidak jawab sebesar 27,8%.
Survei tersebut dilakukan pada 15-23 November 2017 di seluruh provinsi di Indonesia yang meliputi 34 provinsi. Jumlah sampel sebanyak 1.200 responden, dengan margin of error sebesar lebih kurang 2,83% pada tingkat kepercayan 95%. Adapun metode penarikan sampel yang digunakan adalah multistage random sampling.
Politikus PDIP Maruarar Sirait mengakui bahwa memang masalah ekonomi masih menjadi pekerjaan rumah Jokowi ke depannya. Untuk itu, pihaknya sebagai partai pendukung pemerintah siap menerima kritikan dari masyarakat untuk mengoreksi kinerja pemerintahan saat ini.
"Jadi kita tahu PR Pak Jokowi ini adalah masalah ekonomi. Soal bagaimana pemerataan, bagaimana mengatasi kemiskinan, bagaimana pengangguran, bagaimana mem-follow up ekonomi kreatif. PDIP siap dikritik, siap juga berkontribusi bagi pembangunan ekonomi, kita kerja tentu bagaimana PR-PR tadi bisa dijawab," terangnya.
Sementara itu, Sekjen PKB Abdul Kadir Karding mengatakan hasil survei tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Jokowi untuk memacu kembali tingkat kepuasan dan elektabilitasnya. Menurutnya, jika Jokowi akan maju kembali dalam Pilpres 2019, perlu upaya yang khusus, sistematis dan kerja keras untuk bisa tetap menjaga peluang tersebut.
"Sebagai (partai) pendukung pemerintah, ini jadi tantangan kita untuk memacu lagi tingkat kinerja dan tingkat kepuasan Pak Jokowi. Referensi orang memilih presiden yang tegas, dekat dengan rakyat, dan seterusnya itu harus kita kapitalisasi secara maksimum untuk kepentingan Pak Jokowi," pungkasnya. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved