Jokowi Dinilai Sindir Lawan dalam Berpolitik

Gol/X-8
22/11/2017 06:28
Jokowi Dinilai Sindir Lawan dalam Berpolitik
(MI/BIRO PERS/SETPRES)

PERNYATAAN Presiden Joko Widodo soal kerap munculnya kegaduhan akibat masih banyak elite yang tidak memberikan pendidikan positif kepada generasi muda dinilai sebagai sindiran terhadap lawan-lawan politiknya.

Saat memberikan sambutan dalam pembukaan Simposium Nasional Kebudayaan 2017, Senin (21/11), Presiden mempersoalkan mereka yang teriak-teriak antek asing, antek aseng, dan kebangkitan PKI.

"Kalau saya, PKI bangkit gebuk saja sudah, gampang. Payung hukumnya jelas, Tap MPRS masih ada, ngapain banyak-banyak masalah ini. Juga mengenai anti-Islam, antiulama. Cara politik yang beretika harus mulai kita sampaikan," tegasnya.

Menurut pengamat politik Yunarto Wijaya, pernyataan Presiden itu bisa dimaknai sebagai sesuatu yang normatif. Jokowi ingin para elite bisa memberikan contoh berpolitik yang baik. Presiden juga mengajak untuk mengembangkan cara-cara berpolitik yang santun agar nilai keindonesiaan tidak hilang.

"Namun, di sisi lain, pernyataan ini juga bisa dimaknai sebagai sindiran kepada lawan politiknya. Jokowi menunjukkan sikap tegas bagi mereka yang menyerang kepemimpinannya dengan menggunakan isu-isu pemecah belah," ujar Yunarto di Jakarta, kemarin. Ia menambahkan, pernyataan Jokowi tersebut ditujukan kepada seluruh pihak, termasuk elite-elite politik senior. "Jokowi telah menunjukkan posisinya."

Senada, Sekjen Partai NasDem Johnny G Plate mengatakan apa yang disampaikan Presiden Jokowi sangat tepat untuk menyikapi cara-cara berpolitik belakangan ini. Menurut dia, banyaknya kepentingan pragmatis yang dipertontonkan elite politik justru semakin mengisolasi kaum muda dari politik. Padahal, generasi muda nantinya akan bertindak sebagai pengambil kebijakan bagi bangsa dan negara.

"Betul apa yang dikatakan Presiden. Yang dipertontonkan terlalu banyak kepentingan pragmatis, baik perorangan maupun kelompok. Harusnya utamakan kepentingan bangsa dan negara," kata Johnny.

Menurut dia, situasi saat ini akibat minimnya tokoh atau elite yang bisa menjadi contoh. "Kita krisis pemimpin yang tutur katanya sejalan. Terlalu banyak elite politik yang lips service. hanya mengandalkan slogan-slogan. Harusnya lebih ditekankan pada isi, substansinya, dan keberpihakan pada masyarakat.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya