Fahri Hamzah Sebut Novanto Tersangka Titipan Jokowi-JK

Astri Novaria
13/11/2017 20:47
Fahri Hamzah Sebut Novanto Tersangka Titipan Jokowi-JK
(Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah -- MI/M. Irfan)

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah mengungkapkan bahwa Ketua DPR Setya Novanto pernah bercerita kepadanya soal penetapannya sebagai tersangka kasus kartu tanda penduduk elektronik (KTP-e). Novanto, sambung Fahri, mendapatkan informasi dari seseorang bahwa penetapan status tersangka itu merupakan permintaan dari Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

"Ada yang bilang ke Pak Nov, ini permintaan presiden. Ada yang bilang ini permintaan Wakil Presiden. Ia cerita ke saya, mungkin ia tidak cerita ke orang lain," ujar Fahri di Gedung DPR, Jakarta, Senin (13/11)

Fahri mengatakan, tidak mengetahui pasti siapa pihak yang menyampaikan informasi tersebut kepada Novanto. Namun, dia menegaskan informasi tersebut merupakan pengakuan Novanto kepadanya. Fahri juga menyinggung soal Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang ngotot menginginkan Novanto menjadi tersangka. Bahkan, kata Fahri, ada pimpinan KPK yang menyebut kredibilitas lembaga akan dipertaruhkan kemampuannya jika tidak berhasil menjebloskan Novanto ke penjara.

"Dia (Novanto) akan melakukan semua yang bisa dia lakukan. Dan kemarin (Novanto) sudah menang. KPK bukannya introspeksi malah ngotot, dan itu yang saya dengar, tidak bisa Novanto harus masuk. Kata mereka, 'Bagi kami Setya Novanto adalah mahkota KPK. Kalau dia tidak dipenjara, hancurlah KPK'," tandasnya.

Fahri melanjutkan, penetapan Novanto sebagai tersangka oleh KPK tidak perlu berpengaruh bagi DPR. Ia mengaku kinerja DPR tetap berjalan di tengah citra DPR yang menurutnya menjadi hancur dengan adanya tuduhan bagi-bagi uang Rp2,3 triliun terkait kasus dugaan korupsi KTP-e yang turut menjerat Novanto. Fahri juga mengungkapkan belum mengetahui ada atau tidaknya dorongan agar Novanto mundur dari kursi Ketua DPR.

"Kalau kinerja sih tidak ya karena kerja DPR ini kan relatif sudah baku ya. Meskipun kamu dalam tim refomasi sedang menilik beberapa lubang yang di masa depan itu harus ditutup untuk menghilangkan celah dari kerusakan lembaga ya, insya Allah itu sambil jalan," pungkasnya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya