Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
POLISI membekuk 12 orang diduga kelompok teroris dalam insiden penempakan anggota polisi di Bima, Nusa Tenggara Barat. Dua di antaranya tewas dalam baku tembak dengan petugas.
Kabag Penum Divisi Humas Polri, Kombes Pol Martinus Sitompul, menyatakan, 12 orang itu memiliki peran berbeda. Muhammad Amirullah alias One Dance misalnya, berperan sebagai eksekutor penembakan terhadap Bripka Abdul Ghofur.
Kemudian, Rahmad Fadhlidzal Jalal alias Yaman, berperan sebagai pembonceng tersangka bernama Ikbal saat melakukan penembakan terhadap Bripka Zaenal. Amirullah dan Yaman tewas dalam penggerebekan pada Selasa (31/1) pukul 06.00 Wita.
Di hari yang sama, polisi menangkap Muhammad Ikbal Tanjung, di Penatoi, Bima.
"Sebagai eksekutor penembak Bripka Zaenal," kata Martinus di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (6/11).
Kemudian, polisi juga menangkap Abdul Hamid alias Dami di kawasan Ambalawi, Bima. Pria berusia 60 tahun itu berperan memberikan bantuan logistik kepada para pelaku dalam pelariannya.
Lalu, ditangkap pula Jasman Ahmad di Penatoi, Mpunda, Bima. Jasman juga berperan sebagai penyedia logistik para eksekutor saat buron.
"Serta merupakan anggota dari JAD (J3maah Ansharut Daulah)," ungkap Martinus.
Ada juga terduga teroris atas nama Yaser Bin Thamrin dan Arkam yang ditangkap. Keduanya merupakan warga Penatoi, Mpunda, Bima yang turut serta dalam pelatihan fisik yang dilakukan kelompok JAD Bima.
Pada Rabu (1/11), polisi juga menangkap Rahmad Julian alias Tedy. Ia berperan sebagai pengantar logistik bersama Jasman. Ia juga jadi orang yang memfasilitasi akomodasi Amir alias Dance dari rumahnya menuju perbukitan Ambalawi.
Kemudian, ada juga terduga teroris atas nama Adrian Marangga Musade alias Ian. Ia bertugas membeli senjata api bersama Ikbal.
Lalu, polisi juga mencokok Baharuddin Ahmad alias Amir alias Abu Umar alias Andi, alias Mus'ab. Amir memiliki sejumlah peran, antara lain sebagai orang yang mendoktrin sebelum pelaku mengeksekusi anggota Polres Bima. Ia juga jadi penyokong dana aksi teror, dan membantu pelarian para eksekutor.
"Yang bersangkutan pernah menjalani hukuman atas kasus terorisme terkait bom Mapolres Poso," beber Martinus.
Terduga teroris lain yang ditangkap adalah Sahrul Ramadhan, yang berperan sebagai pembuat senjata api. Terakhir, polisi menangkap Imam Munandar alias Nandar di Jatiwangi, Asakota, Bima. Ia merupakan eksekutor penembakan dua anggota Polres Bima. (MTVN/OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved