Kapolri Dikukuhkan Sebagai Profesor Kontra Terorisme

Nicky Aulia Widadio
26/10/2017 22:34
Kapolri Dikukuhkan Sebagai Profesor Kontra Terorisme
(ANTARA FOTO/Reno Esnir)

KAPOLRI Jendral Tito Karnavian meraih gelar profesor sekaligus dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Kepolisian Studi Strategis Kajian Kontra Terorisme di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK).

Orasi ilmiah Tito menyoroti peran-peran Polri dalam penanganan terorisme di Indonesia. Ia memandang terorisme merupakan salah satu taktik dari gerakan insurgensi.

Di dalam orasi ilmiahnya, Tito menuturkan aksi-aksi kekerasan oleh jaringan Islamis radikal merupakan wujud dari gerakan insurgensi. Insurgensi, menurut Bard O'Neill dikutip dari buku 'The End of Terrorism' karya Leonard Weinberg (Milton Park: Routledge, 2013) sebagai sebuah perlawanan suatu kelompok dengan pihak otoritas (negara yang diakui oleh PBB), di mana kelompok tersebut secara sengaja dan sadar menggunakan perangkat politik (ahli organisasi, propaganda dan demostrasi) dan kekerasan untuk menyerang, merumuskan kembali atau mendukung dasar legitimasi beberapa aspek politik.

Tito memandang terorisme merupakan sebuah taktik dari gerakan insurgensi yang memilih target sipil sebagai sasaran. Taktik terorisme dipilih lantaran keterbatasan kekuatan dan sumber daya yang dimiliki, namun dirasa cukup untuk menjatuhkan wibawa pemerintah.

"Dalam jangka panjang, publik akan mengalihkan dukungannya kepada teroris yang memiliki posisi tawar lebih tinggi karena mampu menekan pemerintah," kata Tito.

Di Indonesia, pergerakan pelaku terorisme tidak hanya menyerang warga sipil, namun juga aparat. Mereka berpandangan bahwa Indonesia merupakan negara sekuler, dan bercita-cita mengubah Indonesia menjadi negara Islam yang didasarkan pada syariat Islam versi mereka sendiri.

Saat ini, jaringan dari kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) merupakan ancaman terbesar bagi Indonesia. Namun, muncul pula tantangan lainnya, yakni kemunculan lone wolf, di mana pelaku teror beraksi sendirian.

Dalam menghadapi masalah terorisme ini, pemerintah pun telah menerapkan strategi dengan dua pendekatan. Keduanya ialah hard approach dan soft approach. Strategi hard approach dilakukan melalui penegakan hukum.

Tito menyebut strategi ini cukup berhasil mengurangi aksi-aksi kekerasan, namun tidak seutuhnya memberantas radikalisme dan terorisme yang telah menyebar. Strategi hard approach tidak mampu menyentuh akar permasalahan.

Oleh sebab itu, dibutuhkan strategi soft approach, dalam rupa pencegahan dan penangkalan ideologi radikal. Di antaranya melalui proses kontra radikalisasi, deradikalisasi, kontra ideologi, pengawasan terhadap penyebaran paham-paham radikal, serta menjaga kondusifitas situasi. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menjadi garda terdepan dalam hal ini.

Terlepas dari cukup baiknya penindakan pelaku teror oleh Densus 88, Tito menyadari ancaman terorisme tidak akan sepenuhnya hilang. Apalagi jika dinamika IS di Timur Tengah yang tidak kunjung membaik. Oleh sebab itu upaya pencegahan harus dimaksimalkan.

"Terkait upaya pencegahan dan rehabilitasi yang belum terintegrasi, fakta di lapangan menunjukkan bahwa pencegahan tidak banyak disentuh oleh Densus 88, Satgas Bom Polri dan elemen Polri lainnya. Memang Densus 88 melakukan kegiatan pencegahan dan radikalisasi namun masih amat terbatas," tulis Tito.

Atas pemaparan tersebut, Tito merekomendasikan agar setiap perwira Polri memahami insurgensi. Sebabnya Polri merupakan garda terdepan dari penanganan insurgensi dan terorisme di Indonesia. Perlu ada pelibatan personil Binmas dalam rangka pencegahan, memperkuat regulasi yang menjadi dasar penindakan terhadap kejahatan terorisme, mengembangkan kemampuan taktis Densus 88, serta membuat kajian akademis terkait terorisme di tataran pendidikan tinggi.

Prosesi pengukuhan Tito dilakukan dalam sidang Senat Terbuka yang dipimpin Ketua STIK-PTIK Irjen Remigius Sigid Tri Harjanto. Pernyataan pengukuhan dilakukan oleh Irjen (Profesor) Iza Fadri selaku perwakilan guru besar pada senat akademik.

Sidang senat terbuka ini dihadiri Menteri Ristek Dikti Mohammad Nasir, Menko Bidang Polhukam Wiranto, Menko Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan, serta sejumlah pejabat tinggi negara dan pejabat-pejabat di lingkup Polri.

“Apalagi Profesor Tito Karnavian dikukuhkan sebagai guru besar untuk studi strategis kajian kontra terorisme. Sehingga diharapkan pemikiran-pemikiran beliau nanti dapat diaplikasikan bagi kepentingan bangsa Negara Indonesia, khususnya dalam menghadapi ancaman terorisme," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Rikwanto.

Proses administrasi untuk pengusulan jabatan akademik guru besar ini telah dilakukan sejak awal Juli 2017. Sebelumnya telah dilakukan inventarisasi karya-karya akademik dan verifikasi atas kegiatan ilmiah dan karya tulis Tito sebagai syarat menjadi guru besar.

Usai prosesi pengukuhan, Tito menuturkan gelar ini merupakan bekal baginya untuk terjun ke dunia pendidikan begitu pensiun nanti. Ia menyebut memiliki hobi di bidang pendidikan, dan berasal dari keluarga yang bersaing secara sehat di bidang pendidikan.

"Saya suka di bidang pendidikan, enggak perlu lari ke sana ke mari saya bisa jadi pengajar baik di dalam negeri, dan lebih utama saya obsesinya jadi pengajar dan peneliti di luar negeri," tutur Tito. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eko Suprihatno
Berita Lainnya