Maknai Hari Santri untuk Rawat Kebangsaan

Syarief Oebaidillah
26/10/2017 21:49
Maknai Hari Santri untuk Rawat Kebangsaan
(ANTARA FOTO/Umarul Faruq)

MOMENTUM peringatan Hari Santri Nasional mesti dimaknai dengan semangat dan spirit baru, tidak lagi menengok ke belakang dalam semangat angkat senjata melawan kolonial pada masanya. Namun dengan semangat kekinian untuk kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik.

“Santri merupakan kaum terpelajar, dalam konotasi religius. Mari kita maknai dengan spirit baru di mana atmosfer keagamaan santri untuk merawat kebangsaan kita dan keselamatan. Kita sinergikan dengan komunitas lintas agama pada masyarakat kita yang majemuk dari berbagai agama, suku bangsa dan lapisan sosial,” papar Kepala Unit Kerja Presiden–Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Yudi Latief di Yayasan Buddha Tzu Chi, Jakarta, Kamis (26/10).

Yudi hadir bersama penasihat UKP-PIP Romo Benny Susetyo, Deputi III UKP-PIP Silverius, staf ahli UKP-PIP Zastrouw Al Ngatawi, dan Pimpinan Yayasan Buddha Tzu Chi Hong Tjin.

Ia menegaskan, kemajemukan sejatinya memberi kekayaan yang dapat saling menguatkan untuk saling kenal dan memberi spirit kasih sayang dengan kelapangan hati satu sama lain.

Melalui sinergi tersebut, UKP-PIP ingin menumbuhkan semangat gotong royong dan kolaborasi yang welas asih dan toleran.

“Dalam hal ini UKP-PIP berpartner dengan lembaga kemasyarakatan Buddha Tzu Chi. Dan ini yang pertama kami bekerja sama dalam pentas seni, untuk kita saling bertoleransi dengan kasih sayang satu sama lain dalam komunitas santri, dan lintas iman,“ tukasnya.

Romo Benny menambahkan peran santri amat besar dalam era kemerdekaan. Bahkan para santri ini berperan besar menjaga dan merawat roh Pancasila serta menjaga benteng NKRI. “Santri kita merupakan rohnya Pancasila,“ tegasnya.

Sedangkan Zastrouw menyatakan peringatan Hari Santri Nasional menjadi momentum integrasi nasionalisme dan agama. Selain itu dapat dipandang sebagai nasionalisasi makna jihad sebagai upaya mempertahankan negara juga mempertahankan keadilan.

Menurut dia, realisasi kerja sama UKP-PIP dengan Yayasan Buddha Tzu Chi tersebut akan digelar festival seni religi lintas iman yang melibatkan kalangan santri dan enam agama serta perwakilan aliran kepercayaan, pada Minggu (29/10) di Yayasan Buddha Tzu Chi, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.

“Hari Santri Nasional menjadi sarana untuk mewujudkan cinta kasih universal bagi bangsa dan negara,” tutup Hong Tjin. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eko Suprihatno
Berita Lainnya