Santri Harus Jadi Tokoh Perubahan Bangsa

23/9/2017 22:47
Santri Harus Jadi Tokoh Perubahan Bangsa
(ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

PERUBAHAN terhadap segala hal bisa berlangsung cepat dan dapat terjadi setiap saat. Karakter perubahan akan membawa ke sesuatu yang misterius.

Seseorang yang sebelumnya bergerak dan melakukan perubahan akan diganti dengan hal baru jika tak konsisten. Hal itulah yang dikatakan mantan Panglima TNI Jenderal (purn) Moeldoko ketika menghadiri peringatan Tahun Baru Islam di Pondok Pesantren Ma’had Al-Zaytun, Indramayu, Jumat (21/9).

Peringatan itu mengangkat tema Menjunjung Tinggi Kesatuan dan Persatuan Indonesia Raya. Acara yang dihadiri beberapa tokoh nasional dan berbagai kalangan lintas agama itu, juga sekaligus pemancangan patok pertama pembangunan Taman Puspa Kencana dan Danau Tirta Kencana di depan Masjid Rahmatan Lil Alamin.

Lebih dari 25 ribu santri dan wali santri hadir dalam peringatan tersebut. Mereka mendengarkan pidato kebangsaan yang disampaikan Moeldoko. Setelah menyanyikan Indonesia Raya dengan tiga stanza, Moeldoko menyampaikan bahwa Tahun Baru Islam adalah momentum bagi umat Islam untuk melakukan introspeksi secara kolektif.

"Hal itu berguna untuk melakukan hijrah melalui perubahan dari keadaan yang kurang baik menjadi lebih baik. Perubahan juga bergerak sangat cepat, tak terduga, dan terjadi setiap saat," ujar Moeldoko.

Karena itu, Moeldoko meminta para santri Al-Zaytun sigap dan mampu beradaptasi dengan kondisi tersebut saat hidup di tengah masyarakat.

Menurut jenderal kelahiran Kediri, Jawa Timur tersebut, perubahan juga memerlukan tokoh. “Tokoh-tokoh tersebut saya harapkan bisa lahir dari Pesantren Al-Zaytun ini untuk kemaslahatan bangsa,” tutur Moeldoko yang disambut meriah para peserta.

Dia menambahkan, substansi hijrah adalah melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Hijrah juga menuntut kedisiplinan yang tinggi. ''Alhamdulillah, karena aturannya jelas tidak boleh merokok, tak saya lihat satu pun yang merokok di pesantren ini. Semua warga Al-Zaytun tampaknya sudah memiliki sikap disiplin dan taat aturan,” imbuhnya.

Pemegang Adi Makayasa 1981 itu juga berharap Ponpes Al-Zaytun melahirkan pejabat seperti menteri atau presiden. Bahkan ia memuji kehadiran tokoh lintas agama di Ponpes Al-Zaytun. Menurutnya, hal itu merupakan contoh internalisasi tentang Pancasila yang telah berhasil dilakukan oleh Al-Zaytun.

Dia juga memuji disiplin para santri yang telah berimplikasi terhadap kemandirian kampus Al-Zaytun. Ketika sebagian besar bahan baku diimpor, ponpes ini mampu mandiri untuk memenuhi kebutuhan para santri dan warga pesantren.

“Kebutuhan beras, gula, dan berbagai protein sudah mampu diadakan sendiri oleh pesantren ini. Ini sungguh sesuatu yang baik,“ ujar Moeldoko. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eko Suprihatno
Berita Lainnya