Perempuan dan Diplomasi

09/3/2015 00:00
Perempuan dan Diplomasi
(MI/ROMMY PUJIANTO)
DIPLOMASI kerap dianggap sebagai 'permainan' kaum adam. Sejak merdeka, jabatan Menteri Luar Negeri di Indonesia bahkan selalu dipegang oleh para laki-laki. Umumnya mereka dianggap lebih mampu mengelola hubungan antarnegara karena cenderung lebih rasional dan tidak mudah terpengaruh oleh emosi.

Baru pada era pemerintahan Jokowi, posisi tertinggi di Kementerian Luar Negeri akhirnya dipercayakan kepada seorang perempuan. Sejak Kabinet Kerja diumumkan Oktober lalu, jabatan tersebut resmi dipegang Retno Lestari Priansari Marsudi. Bisa dikatakan, ini merupakan pencapaian terbesar bagi seorang perempuan di korps diplomatik.

"Dunia diplomasi selalu dianggap dunianya laki-laki, tapi bukan berarti perempuan tidak bisa maju. Sepanjang saya bekerja di Kemlu, saya tidak pernah mendapat diskriminasi atau dihalangi untuk berkembang, baik oleh rekan sekerja maupun oleh diplomat asing yang kebanyakan pria," ujar Retno saat ditemui Media Indonesia di kediamannya di Kompleks Widya Chandra, Jakarta, Sabtu (7/3).

Retno telah 29 tahun berkarier di Kementerian Luar Negeri. Pada periode 1997-2001, ia menjabat sebagai First Secretary for Economic Affairs di Kedutaan Besar (Kedubes) Indonesia di Belanda.

Pada 2003, perempuan kelahiran 27 November 1962 tersebut dipromosikan menjadi Direktur Jenderal Eropa Barat. Kariernya kian menanjak saat ditunjuk sebagai Dubes Indonesia untuk Norwegia dan Islandia pada 2005.

Pada 2012, Retno kemudian dipercaya untuk memegang jabatan dubes di Belanda. Ketika susunan kabinet diumumkan, Retno masih memegang jabatan tersebut. "Saya mengikuti perkembangan persiapan pemerintahan baru dari Belanda. Enggak pernah membayangkan saya ditunjuk jadi Menlu," ungkap perempuan berdarah Jawa itu.

Sebenarnya, tidak mengherankan jika Retno ditunjuk sebagai Menlu. Pasalnya, selain kerap dipercaya memimpin sejumlah misi bilateral dan multilateral--semisal di Uni Eropa, Asia-Europe Meeting (ASEM), dan Forum for East Asia-Latin America Cooperation (FEALAC)--sejumlah penghargaan juga ia raih ketika menjadi perwakilan Indonesia di luar negeri.

Misalnya, pada 2011, pemerintah Norwegia menganugerahi Royal Norwegian Order of Merit kepada Retno atas jasanya membangun hubungan bilateral yang harmonis antara Indonesia dan Norwegia. Penghargaan serupa juga ia terima dari pemerintahan Belanda.

"Kalau di hubungan bilateral, tergantung kita mengelolanya. Pada saat dikirim ke Norwegia misalnya, sempat ada pikiran mau ngapain di sana, tapi saya coba kaitkan apa kesamaan Indonesia dan Norwegia. Akhirnya tercipta hubungan yang sangat 'ramai', baik dari segi perdagangan, politik, dialog untuk HAM, kerja sama perikanan, dan lainnya. Dalam isu lingkungan, kita bahkan banyak bermitra dengan Norwegia," tuturnya.

Menurut Retno, sejak remaja ia memang punya cita-cita menjadi seorang diplomat. Keinginan tersebut muncul ketika kerap menyaksikan para diplomat Indonesia berunding dan bernegosiasi di forum-forum internasional dari layar televisi.

"Saya pikir menarik juga bisa mewakili Indonesia di pentas internasional. Makanya, begitu lulus SMA, saya langsung cari kuliah jurusan HI (Hubungan Internasional)," ungkap alumnus UGM pada 1985 ini.

Dalam berdiplomasi, perempuan yang meraih gelar master hukum Uni Eropa di Haagse Hogeschool Belanda ini, yang terpenting ialah menjaga harmoni hubungan antarnegara. Untuk hal ini, Retno sangat dipengaruhi falsafah Jawa yang ia pegang dalam mengelola kehidupan pribadinya. Namun demikian, menjaga harmoni bukan berarti mengorbankan prinsip-prinsip yang kita pegang.

"Dalam pekerjaan dan kehidupan sehari-hari tujuannya ialah harmoni, tapi tidak berarti jadi lembek juga. Kebetulan saya dididik oleh orangtua yang keras, terutama ibu. Jadi, norma dan falsafah Jawa itu disuntikkan ke saya sejak kecil," ungkap perempuan yang hobi naik gunung itu.

Meskipun dididik dengan sangat keras, Retno mengatakan orangtuanya selalu mendukung dia dan saudari-saudarinya untuk maju dan berkembang. Para perempuan di keluarga Retno dibebaskan memilih pekerjaan dan karier impian masing-masing.

"Saya tidak merasa dikekang. Semua perempuan di keluarga saya juga bekerja. Ibu saya meskipun sudah 75 tahun bahkan masih bekerja, menerima katering, atau masih jadi penasihat di posyandu setempat. Itulah sebenarnya hidup. Ketika berhenti bekerja, kesempatan kita untuk melakukan sesuatu bagi sesama (juga berakhir)," tuturnya.

Harus pandai
Namun demikian, ibu dua anak ini juga menghargai kaum perempuan yang memutuskan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya agar bisa fokus mendidik anak-anak mereka, meskipun mungkin tingkat pendidikan mereka sudah tinggi atau karier mereka menjanjikan.

"Saya menghargai perempuan yang mengambil pilihan itu (menjadi ibu rumah tangga). Karier tidak boleh mengorbankan keluarga. Itu kan yang harus diseimbangkan. Karena bagaimanapun, pada akhirnya tempat kita kembali adalah keluarga," ujarnya.

Meskipun menyayangkan masih maraknya kasus kekerasan dalam rumah tangga, ia mengatakan, perempuan Indonesia saat ini memiliki kesempatan besar untuk maju. Apalagi, secara sistemis pemerintah terus mendorong pemberdayaan perempuan dan pengarusutamaan gender lewat beragam kebijakan.

"Kaum perempuan lebih leluasa meniti karier, tapi jangan lupa peran perempuan sebagai pendidik anak karena karakter anak itu akan lebih terbentuk karena pengaruh ibunya. Perempuan terutama harus pandai. Kalau dia tidak pandai, bagaimana dia bisa mengajarkan nilai-nilai baik dan pelajaran hidup bagi anaknya," imbuhnya.


BIODATA

Nama Lengkap: Retno Lestari Priansari Marsudi

Tempat dan Tanggal Lahir: Semarang, 27 November 1962

Suami: Agus Marsudi

Anak: Dyota Marsudi dan Bagas Marsudi

Almamater: - Universitas Gadjah Mada

- Haagse Hogeschool Den Haag

Jabatan: Menteri Luar Negeri (2014-sekarang)

Dubes Indonesia untuk Belanda (2012-2014)

Dirjen Amerika dan Eropa Kemenlu (2008-2012)

Dubes Indonesia untuk Norwegia dan Islandia (2005-2008)

Direktur Eropa Barat Kemlu (2003-2005)

Hobi: Jogging, naik gunung, berenang, dan memasak



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya