HUBUNGAN diplomasi antara Indonesia dan Australia boleh saja memanas. Ketegasan pemerintah Indonesia untuk tetap menerapkan kebijakan mengeksekusi mati 2 bandar narkoba Australia menjadi pemicunya.
Namun, dalam hubungan sosial sesama warga dari kedua negara situasi tersebut ternyata tidak berlaku sama sekali. Suasana tetap bersahabat dan saling menghormati. Setidaknya dalam sepekan terakhir di saat media massa di Australia ataupun Indonesia gencar memberitakan suasana jelang eksekusi hukuman mati di Pulau Nusakambangan.
Sabtu akhir pekan lalu, misalnya, ketika sejumlah mahasiswa Indonesia, termasuk wartawan Media Indonesia Emir Chairullah, tengah berkumpul di taman New Farm, Brisbane Australia untuk mengadakan hajatan barbeque pascakegiatan bersepeda santai.
Di tengah pembincangan, tiba-tiba datang seorang warga lokal yang langsung mengucapkan salam seperti yang biasa diucapkan umat Islam sebagai tanda saling mendoakan.
Tidak lama berselang, warga kulit putih yang mengaku berasal dari Selandia Baru ikut mendatangi tempat tersebut. Kali ini dia cukup serius menanyakan sikap kami mengenai rencana eksekusi hukuman mati terhadap Myuran Sukumaran dan Andrew Chan alias duo Bali Nine.
Jawaban kami saat itu sangat lugas, yaitu seharusnya setiap pendatang menghormati hukum yang berlaku di negara yang didatangi. Apalagi, setiap kali naik pesawat ke Indonesia, pihak maskapai sudah mengingatkan ada ancaman hukuman mati bagi yang kedapatan membawa narkoba.
Warga kulit putih ini sepakat dengan pendapat kita dan langsung mengatakan untuk tenang-tenang saja selama di Australia. Dirinya yakin tidak akan ada warga lokal yang marah dengan WNI terkait keputusan Presiden Joko Widodo yang menolak permintaan grasi duo Bali Nine itu.
"Kita pun tidak ingin masyarakat kita dirusak oleh narkotika. Karena itu masalah hukuman mati, ya tergantung negara masing-masing," tegasnya.
Bahkan tak lama berselang, datanglah seorang perempuan warga lokal yang tengah olahraga sore menawarkan bantuannya untuk mengabadikan gambar. Kami pun dengan senang hati menerima uluran tangan perempuan tersebut.
Kondisi serupa juga dialami Asti yang tinggal di Melbourne dan Saleha, seorang mahasiwa Indonesia yang tengah kuliah master di Perth. Menurut mereka, walaupun pemberitaan media Australia begitu gencar, kondisi keamanan WNI yang ada di kota tersebut sangat terjamin.
"Tidak ada aksi provokasi apa pun di sini. Kegiatan pelajar dan warga Indonesia di sini berjalan seperti biasa," ungkap mereka.
Demikian pula Leony, mahasiswa program doktoral di Sydney, menyebutkan sejauh ini tidak ada tekanan apa pun terhadap WNI yang tinggal di kota tersebut walaupun sempat ada gangguan terhadap KJRI Sydney.
"Di kampus tidak ada mahasiswa lokal yang membahas rencana eksekusi mati itu, tuh," tukasnya.