Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBAGAI sebuah negeri yang mayoritas berpenduduk muslim, sudah seharusnya para guru ngaji diberikan perhatian serius.
Peran para guru ngaji ini sangatlah besar dalam membentuk akhlak, karakter dan rasa kebangsaan generasi penerus bangsa. "“Kita ini terlalu lama bicara besar yang muluk-muluk. Soal nasionalisme, soal karakter generasi muda, dan sebagainya. Tapi yang tampak di depan mata malah sering luput, termasuk nasib para guru ngaji. Saya ketika mendengar curhatnya, masya Allah trenyuh mendengarnya. Ini terjadi di provinsi yang katanya banyak pejabatnya yang religius dan santri,” ujar tokoh asal Jawa Timur La Nyalla Mattalitti di sela-sela mengunjungi sejumlah pesantren di kampung-kampung yang ada di Kabupaten Ngawi, Selasa (1/8).
Ia menilai pemerintah masih belum maksimal meningkatkan kesejahteraan guru ngaji di perkampungan, lembaga pendidikan non-formal, maupun di lembaga pendidikan formal keagamaan. Kondisi tersebut dinilai ironis mengingat besarnya peran para guru ngaji.
Menurut Ketua Kadin Jatim ini, guru ngaji mendapat kesejahteraan yang jauh dari layak. Banyak di antaranya yang hanya mendapat insentif Rp100 ribu per bulan.
“Padahal, sumbangan mereka untuk negeri ini luar biasa dan tak ternilai. Mereka mendidik putra-putri Jatim dengan ilmu agama sebagai landasan moral dan akhlak. Sayangnya pemerintah tidak maksimal memperhatikan mereka," tegasnya.
Selain mengajar ngaji, para guru yang berdomisili di kampung-kampung itu juga mengajarkan rasa kebangsaan. Benih Islam rahmatan lil alamin disemai oleh mereka ke anak-anak sejak dini.
“Kita terlalu lama abai, sudah seyogianya pemerintah mohon maaf kepada para guru ngaji. Pemimpin jangan cuma pandai berpidato soal wawasan kebangsaan tapi justru abai soal ini," imbuhnya.
Sejumlah pesantren yang dikunjungi La Nyalla di Ngawi antara lain Ponpes Bayem Taman asuhan KH Dimyati, Ponpes Mambaul Hikmah asuhan Gus Dum, Ponpes Condromowo asuhan KH Abdul Hamid, Ponpes Roudlatul Solihin asuhan KH Affandi, dan Ponpes Widodaren asuhan KH Asraful Anam. Di pesantren-pesantren tersebut, La Nyalla berdialog dengan para kiai, tokoh masyarakat,dan santri.
Ekonomi pesantren
La Nyalla juga menyinggung peran pesantren yang telah terbukti tidak hanya mendidik ilmu agama kepada santrinya, tetapi juga memberikan skill untuk mengembangkan ekonomi. Seperti pertanian, peternakan, perikanan dan perdagangan melalui koperasi pesantren. Sehingga selepas dari pesantren para santri memiliki juga ketahanan dan kemandirian ekonomi yang berlandaskan moral dan akhlak Islam.
Namun, dari hasil kunjungannya ini, La Nyalla menemukan fakta menarik. Ternyata kalangan pesantren yang berinisiatif menggerakkan kewirausahaan berbasis pertanian masih jauh dari perhatian pemerintah. Jangankan dalam bentuk bantuan, fasilitasi pemasaran pun susah didapat.
“Kata para santrinya, mereka lebih untung langsung memasok barang ke Jakarta, bisa lebih untung. Padahal, Pemprov Jatim kan punya Puspa Agro, tapi pesantren tidak mau suplai ke sana, karena marjinnya lebih kecil. Padahal pemasaran salah satu pilar bisnis,” tegas La Nyalla. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved