Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SERANGAN berupa penusukan yang dilakukan oleh pelaku teroris kepada anggota Brimob di Masjid Faletehan yang sangat dekat dengan Mabes Polri menunjukkan bahwa para pelaku teror semakin nekat. Penyerangan yang dilakukan didak lagi di tempat umum dan keramaian melainkan di lokasi yang keseharian menjadi jantung markas Polri.
Serangan ini juga belum jauh jaraknya dari aksi teror yang menimpa anggota Polri yang sedang mengamankan acara pawai obor bulan Ramadan di Kampung Melayu pada 31 Mei lalu.
Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane pun menyebut peristiwa ini harus menjadi momen bagi jajaran Polri untuk mengevaluasi diri. Kasus penusukan ini menurutnya menunjukkan bahwa pelaku teror tak segan menyerang Polri di rumahnya sendiri sebagai bentuk teror dan diduga juga bagian dari aksi balas dendam atas penindakan yang dilakukan Polri selama ini kepada para terduga teroris.
"Dari berbagai kasus serangan ini IPW berharap Polri melakukan evaluasi secara menyeluruh, sehingga pada Hari Bhayangkara 2017 ini bisa melakukan konsolidasi agar ke depan jajaran Polri bekerja profesional, proporsional dan independen sehingga Polri disegani semua pihak, terutama kalangan teroris.
Catatan penting bagi Polri di Hari Bhayangkara 2017 ini adalah jajaran kepolisian harus mengevaluasi, kenapa teroris makin super nekat melakukan perang terbuka terhadap Polri meski hanya dengan sebilah pisau dapur," kata Neta dalam siaran persnya, Sabtu (1/7).
Kasus penyerangan ini semakin menunjukkan bahwa sistem penumpasan terorisme selama ini sesungguhnya belum berhasil. Begitu juga konsep deradikalisasi yang digalang pemerintah selama ini. Terbukti terorisme bukannya lenyap dari malah makin nekat. Neta pun berpendapat di Hari Bhayangkara 2017 ini penanganan kasus-kasus serangan terhadap polisi perlu menjadi fokus utama bagi Polri untuk menyelesaikannya, agar tidak terulang terus-menerus.
"Jika serangan ini terus terulang jajaran kepolisian tidak bisa fokus untuk menangani tugas-tugas lain dalam melindungi, mengayomi, melayani dan melakukan penegakan hukum di masyarakat. Aparat kepolisian di lapangan akan trauma dengan berbagai kekhawatiran tersendiri terhadap kemungkinan diserang teroris," ujarnya.
Meskipun jajaran Polri mengatakan tidak takut dan tidak khawatir, tapi masyarakat yang cemas terhadap sistem keamanan yang dibangun Polri. Adanya serangan-serangan yang tidak terdeteksi ini bisa menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap kinerja Polri.
"krisis kepercayaan masyarakat ini jangan sampai berkembang luas. Polri harus segera berkonsolidasi untuk menemukan otak pelaku serangan-serangan ini dan mendeteksi ancaman berikutnya," pungkasnya.(OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved