Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PIALA Dunia 1990, yang lebih dikenal dengan sebutan Italia '90, tetap menjadi salah satu edisi turnamen sepak bola paling ikonik dalam sejarah. Diselenggarakan di Italia pada 8 Juni hingga 8 Juli 1990, turnamen ke-14 ini menyuguhkan perpaduan antara pertahanan gerendel yang ketat, kejutan dari tim nonunggulan, hingga drama di partai puncak.
Italia terpilih menjadi tuan rumah untuk kedua kalinya setelah edisi 1934. Sebanyak 24 timnas dari berbagai konfederasi bertarung di putaran final setelah melalui proses kualifikasi yang diikuti oleh 116 negara.
Daftar peserta Piala Dunia 1990 meliputi:
Partai final Piala Dunia 1990 mempertemukan dua raksasa sepak bola, Jerman Barat dan Argentina. Laga ini merupakan ulangan final Piala Dunia 1986, namun dengan hasil yang berbeda.
Pertandingan final digelar di Stadion Olimpico, Roma, pada 8 Juli 1990. Dalam laga yang berlangsung sangat ketat dan penuh tensi tinggi, Jerman Barat berhasil keluar sebagai juara setelah mengalahkan Argentina dengan skor tipis 1-0. Gol tunggal kemenangan dicetak oleh Andreas Brehme melalui titik penalti pada menit ke-85.
Piala Dunia 1990 dikenang bukan hanya karena taktik bertahannya, tetapi juga karena beberapa momen bersejarah dan kontroversial:
Berdasarkan catatan sejarah, salah satu momen paling mengejutkan adalah ketika Kamerun mengalahkan juara bertahan Argentina di laga pembuka. Dipimpin oleh pemain veteran Roger Milla, "The Indomitable Lions" menjadi tim Afrika pertama yang berhasil menembus babak perempat final, sebuah pencapaian yang mengubah peta kekuatan sepak bola dunia.
Laga final 1990 dianggap sebagai salah satu final yang paling tidak menarik secara estetika namun penuh drama disiplin. Argentina menjadi tim pertama yang menerima kartu merah di final Piala Dunia, bahkan langsung dua pemain sekaligus, yakni Pedro Monzon dan Gustavo Dezotti.
Bagi pendukung Inggris, Italia '90 adalah tentang "Gazzamania". Tangisan Paul Gascoigne setelah menerima kartu kuning di semifinal melawan Jerman Barat—yang berarti ia akan absen jika Inggris lolos ke final—menjadi salah satu gambar paling emosional dalam sejarah olahraga.
Turnamen ini juga dicatat sebagai Piala Dunia dengan rata-rata gol terendah (2,21 gol per pertandingan). Hal ini memicu FIFA untuk melakukan perubahan aturan besar-besaran setelah turnamen, termasuk pelarangan back-pass ke kiper untuk mendorong permainan yang lebih menyerang.
Kemenangan Jerman Barat di Roma menandai gelar juara dunia ketiga mereka, sekaligus menjadi kado perpisahan yang manis sebelum penyatuan Jerman Barat dan Jerman Timur secara resmi di tahun yang sama.
PENAFIAN
Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.
Mengenang Piala Dunia 1974 di Jerman Barat. Simak daftar peserta, hasil final di Olympiastadion, hingga kisah menarik Total Football Belanda.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved