Biofuel vs Ketahanan Mesin: Menghitung Potensi Pembengkakan Biaya Operasional

Media Indonesia
14/4/2026 23:01
Biofuel vs Ketahanan Mesin: Menghitung Potensi Pembengkakan Biaya Operasional
Pekerja memanen kelapa sawit untuk dibawa ke salah satu pabrik pengolahan Kelapa Sawit, Natai Baru, Arut Selatan, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Jumat (9/5/2025). t kelapa sawit merupakan komoditas strategis nasional yang memiliki potensi dan kont( MI/RAMDANI)

IMPLEMENTASI kebijakan biofuel, seperti B35 yang kini berlaku di Indonesia, merupakan langkah strategis untuk menekan impor bahan bakar fosil dan mengurangi emisi karbon. Namun, bagi pemilik kendaraan diesel dan pelaku industri transportasi, penggunaan campuran minyak nabati (FAME) dalam jangka panjang membawa tantangan tersendiri terhadap ketahanan mesin. Muncul pertanyaan krusial: apakah penghematan biaya bahan bakar sebanding dengan potensi pembengkakan biaya perawatan?

Karakteristik Biofuel yang Memengaruhi Mesin

Berbeda dengan diesel murni (petrodiesel), biofuel memiliki sifat kimiawi yang unik yang secara langsung memengaruhi komponen internal mesin:

  • Sifat Higroskopis: Biofuel cenderung menarik uap air dari udara. Akumulasi air dalam tangki bahan bakar dapat memicu pertumbuhan bakteri dan jamur.
  • Daya Pelarut (Solvent Effect): Biofuel bersifat seperti deterjen yang mampu mengikis endapan di tangki dan saluran bahan bakar, yang kemudian terbawa ke sistem pembakaran.
  • Oksidasi: Stabilitas oksidasi yang lebih rendah dibandingkan diesel murni membuat biofuel lebih cepat basi atau membentuk sedimen jika didiamkan terlalu lama dalam tangki.

Potensi Titik Kerusakan dan Pembengkakan Biaya

Penggunaan biofuel secara terus-menerus tanpa penyesuaian manajemen perawatan dapat memicu beberapa masalah teknis yang berujung pada biaya tinggi:

1. Penyumbatan Filter Bahan Bakar yang Lebih Cepat

Karena efek deterjennya, kotoran dari tangki akan terkumpul di filter bahan bakar. Jika biasanya filter diganti setiap 10.000 km, pada penggunaan biofuel intensitas tinggi, penggantian mungkin harus dilakukan setiap 5.000 km.
Estimasi Biaya: Peningkatan frekuensi penggantian filter hingga 100% per tahun.

2. Kerusakan Sistem Common Rail dan Injektor

Mesin diesel modern dengan sistem High Pressure Common Rail (HPCR) sangat sensitif terhadap partikel air dan kotoran. Air yang terkandung dalam biofuel dapat menyebabkan korosi pada lubang injektor yang sangat halus (nozzle), mengakibatkan pengabutan bahan bakar tidak sempurna.
Estimasi Biaya: Perbaikan atau penggantian injektor merupakan salah satu komponen termahal dalam mesin diesel.

3. Pembentukan Sludge (Lumpur) pada Oli Mesin

Fenomena fuel dilution atau masuknya bahan bakar ke ruang engkol dapat terjadi lebih sering pada biofuel. Sifat biofuel yang sulit menguap membuat oli mesin lebih cepat mengental dan membentuk lumpur (sludge), yang mengancam pelumasan komponen vital mesin.
Estimasi Biaya: Risiko turun mesin (overhaul) jika pelumasan gagal total.

Catatan Redaksi: Data mengenai biaya spesifik sedang divalidasi berdasarkan harga suku cadang terbaru di pasar Mata Uang Rupiah. Namun, secara umum, biaya perawatan preventif untuk mesin pengguna biofuel diperkirakan naik 15-25% dibandingkan penggunaan diesel rendah sulfur (Euro 4/5).

Strategi Mitigasi untuk Menekan Biaya Operasional

Untuk menjaga agar biaya operasional tidak membengkak secara liar, pemilik kendaraan disarankan melakukan langkah-langkah berikut:

  1. Pemasangan Water Separator Tambahan: Membantu menyaring kandungan air sebelum masuk ke filter utama dan injektor.
  2. Pengurasan Tangki Secara Berkala: Dilakukan setidaknya setahun sekali untuk membuang endapan air dan mikroba di dasar tangki.
  3. Penggunaan Aditif Bahan Bakar: Menggunakan aditif yang memiliki fungsi demulsifier (pemisah air) dan biocide (pembasmi bakteri).
  4. Disiplin Penggantian Oli: Memperpendek interval penggantian oli mesin untuk menghindari dampak pengenceran bahan bakar.

Biofuel menjadi keniscayaan dalam transisi energi. Meskipun menawarkan emisi yang lebih bersih, ketahanan mesin diesel tetap memerlukan perhatian ekstra. Pembengkakan biaya operasional jangka panjang bukanlah hal yang tidak terhindarkan, asalkan pemilik kendaraan beralih dari pola perawatan konvensional ke pola perawatan preventif yang lebih ketat. (H-4)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya