Pemerintah Dukung Otomotif Ramah Lingkungan

Adhi M Daryono
11/8/2017 09:41
Pemerintah Dukung Otomotif Ramah Lingkungan
(Suasana pameran GIIAS 2017 di ICE BSD City, Tangerang, Banten---MI/Ramdani)

PEMERINTAH memacu industri otomotif nasional untuk terus mengembangkan kendaraan yang mengikuti teknologi dan selera konsumen. Selain itu, untuk mampu berkompetisi di pasar global, produk otomotif juga harus memenuhi aspek keamanan, kenyamanan, hemat bahan bakar, ramah lingkungan, serta memiliki harga terjangkau.

"Jika sekarang kita masih mengembangkan LCGC (low cost green car), negara-negara lain mulai melirik kendaraan bertenaga listrik bahkan telah menciptakan yang berbahan bakar hidrogen karena jauh lebih hemat energi dan ramah lingkungan," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Pembukaan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2017 di ICE BSD City, Tangerang, Banten, kemarin (Kamis, 10/8).

Airlangga mengatakan pihaknya telah menyelesaikan penyusunan regulasi baru tentang industri kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang sebelumnya tertuang dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 59 Tahun 2010 tentang Industri Kendaraan Bermotor.

"Kebijakan dan program pengembangan industri kendaraan bermotor ke depan harus diarahkan dan diakselerasi sesuai dengan tren pasar dunia, yaitu kendaraan bermotor dengan fuel ekonomi tinggi dan rendah karbon," tuturnya.

Airlangga menyebutkan, kendaraan rendah emisi atau low carbon emission vehicle (LCEV) ditargetkan masuk pasar Indonesia mencapai 25% atau 400 ribu unit pada 2025.

"Bentuknya bisa mobil listrik, hibrida, atau lain sebagainya. Pemerintah tengah melakukan harmonisasi PPnBM, dan akan memberikan insentif lebih untuk mobil LCEV, dibanding kepada mobil konvensional," ungkapnya.

Airlangga juga menyebutkan optimisme terhadap industri otomotif terlihat dari jumlah ekspor kendaraan yang terus mengalami kenaikan. "Pada tahun 2015 kita sudah surplus US$466 juta, dan akhir tahun 2016 meningkat menjadi US$600 juta. Jadi kita sudah menjadi net exporter dari sektor otomotif," imbuhnya.

Airlangga pun berharap GIIAS 2017 mampu membantu penjualan kendaraan tahun ini. "Kalau (GIIAS) tahun lalu berhasil jual 20 ribu unit kendaraan yang nilainya hampir Rp6 triliun, tentu tahun ini diharapkan bisa minimal sama mengingat jumlah merek yang ikut lebih banyak dari tahun lalu," ujarnya.

Multiplier effect
Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) I Gusti Putu Suryawirawan mengatakan peningkatan kebutuhan terhadap sarana transportasi, khususnya kendaraan bermotor berperan dalam memacu tumbuh kembangnya industri otomotif di Indonesia.

"Pengembangan industri otomotif memiliki multiplier effect yang cukup luas, di samping menciptakan aktivitas ekonomi pada kegiatan perakitan dan manufaktur komponen, juga menimbulkan kegiatan ekonomi pada sektor distribusi sampai pada aktivitas pelayanan purnajualnya," terangnya.

Untuk itu, menurut Putu, pemerintah terus mendorong sektor industri otomotif agar menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional melalui program-program strategis. Langkah tersebut bertujuan, antara lain untuk mengimbangi kompetisi dan impor kendaraan khususnya dari Asean, serta mendorong investasi.

"Selain itu, mendorong kemandirian Indonesia di bidang teknologi otomotif melalui penguasaan teknologi dan peningkatan kemampuan sumber daya manusia, serta pengembangan dan pengamanan pasar dalam negeri sebagai basis untuk mengembangkan industri otomotif yang mandiri dan berdaya saing global," tutup Putu. (Mut/S-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya