Membaca Arah Indonesia di Tengah Multipolaritas Global

Najamuddin Khairur Rijal Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Muhammadiyah Malang
17/4/2026 05:10
Membaca Arah Indonesia di Tengah Multipolaritas Global
(Dok. Pribadi)

DI tengah multipolaritas politik global yang dinamis, pertanyaan tentang bagaimana dan ke mana posisi Indonesia menjadi penting.

Amerika Serikat dan Tiongkok bersaing secara terbuka terutama dalam konteks ekonomi, Rusia menegaskan perannya dalam geopolitik energi global, sementara kawasan Indo-Pasifik menjelma menjadi panggung kompetisi ekonomi, militer, dan teknologi. Di antara dinamika itu, Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tampak bergerak ke berbagai arah sekaligus. Mulai dari menjalin kemitraan strategis dengan AS, memperdalam kerja sama ekonomi dengan Tiongkok, menguatkan relasi dengan Jepang dan Korea Selatan, dan baru saja semakin memperkuat kerja sama strategis dengan Rusia.

 

RIVALITAS GLOBAL

Sejak awal kemerdekaan, politik luar negeri bebas aktif dirancang bukan sebagai sikap netralitas-pasif, melainkan strategi bertahan hidup di tengah rivalitas kekuatan besar. Prinsip ini lahir dari pengalaman sejarah tatkala Indonesia memahami bahwa terlalu dekat dengan satu blok kekuatan justru berisiko menyeret kepentingan nasional ke dalam konflik. Belakangan ini, logika tersebut berusaha ditunjukkan lewat berbagai manuver politik luar negeri Prabowo.

Rivalitas AS dan Tiongkok bukan sekadar kompetisi geopolitik klasik, tetapi mencakup rantai pasok global, teknologi digital, energi, keamanan maritim, hingga pengaruh ideologis. Negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, berada di garis depan kompetisi ini sebagai ruang strategis yang terus diperebutkan.

Hubungan dengan Tiongkok tidak dapat dilepaskan dari realitas ekonomi. Tiongkok adalah mitra dagang terbesar, investor penting dalam infrastruktur, serta pemain kunci dalam hilirisasi industri mineral strategis seperti nikel. Namun, kedekatan ekonomi tidak otomatis berarti keberpihakan geopolitik.

Pada saat yang sama, Indonesia memperkuat hubungan pertahanan dengan AS, mencakup latihan militer bersama, kerja sama keamanan maritim, serta penguatan kapasitas pertahanan regional. Washington melihat Indonesia sebagai jangkar stabilitas Asia Tenggara, sementara Indonesia melihat AS sebagai penyeimbang strategis di Indo-Pasifik. Terbaru, pada 13 April 2026, Menteri Pertahanan RI dan Sekretaris Menteri Perang AS menyepakati pembentukan Major Defense Cooperation Partnership (MDCP).

Menariknya, di hari yang bersamaan, Prabowo bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan sepakat meningkatkan kerja sama, terutama di bidang ekonomi, energi, antariksa, pertanian, industri, serta farmasi. Kunjungan ke Rusia ini memperlihatkan dimensi lain dari diplomasi Indonesia, yakni diversifikasi mitra strategis. Relasi dengan Rusia bisa dibaca sebagai upaya mempertahankan ruang manuver strategis agar tidak terjebak dalam logika blok baru ala Perang Dingin.

Sementara itu, hubungan dengan Jepang dan Korea Selatan menunjukkan orientasi pembangunan jangka panjang. Pada awal April lalu, Prabowo membawa pulang komitmen investasi dan kerja sama bisnis senilai total Rp575 triliun dalam lawatannya ke kedua negara itu. Keduanya merupakan mitra penting dalam transfer teknologi, investasi industri, dan pengembangan manufaktur.

 

STRATEGI HEDGING

Jika dilihat secara komprehensif, arah Indonesia sebenarnya bukan zig-zag tanpa arah, melainkan sedang menjalankan strategi hedging, yakni menghindari pilihan ekstrem antara balancing (menyeimbangkan kekuatan) dan bandwagoning (bersekutu dengan kekuatan dominan). Artinya, Indonesia tidak menantang kekuatan besar secara langsung, tetapi juga tidak bergantung pada satu kekuatan dominan. Strategi ini memungkinkan Indonesia memperoleh manfaat ekonomi dari Tiongkok, jaminan keamanan dari AS, diversifikasi geopolitik melalui Rusia, serta modernisasi industri bersama Jepang dan Korea Selatan.

Sekalipun hedging merupakan pilihan realistis, strategi ini bukan tanpa risiko. Pertama, meningkatnya polarisasi global membuat ruang manuver Indonesia semakin sempit. Tekanan untuk memilih satu sisi akan semakin kuat, terutama jika rivalitas AS-Tiongkok memasuki fase konflik terbuka di bidang teknologi atau Laut China Selatan. Dalam situasi demikian, ambiguitas strategis bisa dipersepsikan sebagai ketidakjelasan sikap.

Kedua, Indonesia menghadapi tantangan konsistensi domestik. Politik luar negeri membutuhkan fondasi nasional yang solid, mulai dari kapasitas ekonomi, ketahanan industri, hingga kekuatan militer yang kredibel. Tanpa basis domestik kuat, strategi multi-arah berisiko berubah menjadi sekadar reaksi diplomatik jangka pendek.

Ketiga, persepsi internasional memandang negara yang terlalu fleksibel kadang dianggap oportunistik. Padahal, bagi negara berkembang seperti Indonesia, fleksibilitas justru merupakan bentuk rasionalitas strategis. Tantangannya ialah memastikan bahwa fleksibilitas itu tetap dipahami sebagai prinsip, bukan inkonsistensi, sebagaimana fondasi politik luar negeri kita: bebas-aktif.

Pada konteks inilah, Indonesia menghadapi ujian geopolitik, apakah mampu atau tidak mentransformasikan politik bebas-aktif dari doktrin normatif menjadi strategi kekuatan nasional. Sebab, dunia hari ini sedang bergerak menuju tatanan multipolar yang lebih cair dan tidak stabil. Banyak negara besar sibuk membangun aliansi eksklusif, memperkuat blok keamanan, dan memperebutkan pengaruh global. Namun, Indonesia terlihat memilih jalur dengan tidak menjadi satelit kekuatan mana pun, tetapi juga tidak mengisolasi diri.

 

MODALITAS INDONESIA

Pilihan ini mencerminkan posisi unik Indonesia sebagai middle power, sekaligus negara Global-South yang memiliki legitimasi historis dalam diplomasi non-blok. Indonesia tidak memiliki kepentingan untuk memenangkan rivalitas global. Kepentingannya ialah memastikan rivalitas itu tidak merugikan pembangunan nasional dan stabilitas kawasan.

Strategi ini hanya akan berhasil jika Indonesia mampu meningkatkan daya tawarnya. Negara yang ingin bermain di antara banyak kekuatan besar harus memiliki sesuatu yang membuat semua pihak membutuhkan dirinya. Dalam konteks itu, modalitas Indonesia mencakup posisi geografis strategis di jalur perdagangan dunia, pasar domestik besar, sumber daya alam kritis bagi transisi energi global, serta kepemimpinan regional. Jika dimanfaatkan secara konsisten, Indonesia bisa menjadi aktor penyeimbang yang disegani. Jika tidak, Indonesia bisa dicap oportunistik.

Manuver luar negeri Prabowo memperlihatkan bahwa Indonesia sedang memainkan diplomasi multi-vektor, yakni mendekat tanpa terikat, bekerja sama tanpa tunduk, dan membuka semua pintu tanpa kehilangan kedaulatan keputusan.

Di tengah realitas dunia sekarang, kemampuan ini bisa dikatakan menjadi bentuk kekuatan baru yang mungkin akan menjadi masa depan politik luar negeri Indonesia, yakni memastikan bahwa semua kubu tetap membutuhkan Indonesia. Karena itu, politik bebas aktif saat ini adalah jalan untuk naik kelas dalam percaturan geopolitik global abad ke-21.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya