Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
JACQUES Derrida ialah salah filsuf posmodernisme asal Prancis. Lahir di Aljazair pada 15 Juli 1930 dan menjadi pengajar di Ecole Normale Superieuere (ENS), Paris. Perguruan tinggi paling terkemuka di Prancis itu juga tempat Emile Durkheim, Louis Althusser, dan Michel Foucault pernah menjadi pengajar.
Salah satu gagasan terbesar Derrida ialah dekonstruksi; sebuah wacana penolakan atas totalitas teks, kekakuan epistemologis, dan banalitas oposisi biner. Ia menyerang logosenstrisme yang menjadi inti kesombongan filsafat modern.
Bagi Derrida, dekonstruksi ialah jalan menghidupkan tulisan (ecriture) dan menghentikan represi bahasa. Pada 9 September 2004 ia meninggal karena kanker, beberapa bulan setelah pendiri dan imam Hamas, Syekh Ahmed Ismail Hasan Yassin, syahid dirudal Israel ketika pulang salat Subuh (22 Maret 2004).
MENOLAK KOSMOPOLITANISME
Salah satu perbincangan dekonstruksi Derrida ada pada kritiknya tentang kosmopolitanisme dan permaafan; dua tulisan yang terbit dalam bahasa Prancis pada 1997, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, On Cosmopolitanism and Forgiveness (2001).
Menurut Derrida, ide kosmopolitanisme bukan sesuatu yang bisa diterima secara global. Setelah Perang Dunia II, nilai-nilai kosmopolitanisme mengatur hak-hak pencari suaka, pengungsi, dan imigran. Konsep itu salah satunya dikembangkan parlemen penulis internasional di Strausborg pada 1996.
Menurutnya, gagasan kosmopolitansime bukan ide perenial. Ia hidup dari analisis sejarah yang berlaku pada kurun tertentu. 'Kita menggambarkan kosmopolitanisme sebagai warisan (the heritage), padahal sebenarnya bagian dominasi tradisi Barat yang dipaksakan menjadi konsep historis, kontekstual, dan tematik' (Derrida, 2001).
Apa yang dibicarakan Derrida lebih 20 tahun lalu seperti memenuhi kontradiksi realitas dunia saat ini. Ketika 7 Oktober 2023 Israel mulai menginvansi Gaza dan 28 Februari 2025 Amerika Serikat memborbardir Iran, nilai-nilai kosmopolitanisme yang pernah diadopsi PBB selama 70 tahun itu sebenarnya telah runtuh.
Tidak ada suaka bagi orang-orang tertindas, kota-kota perlindungan (refuge cities), keramahtamahan (hospitalities), gagasan antiperang, prokemanusiaan, dan keadilan global. “Para imigran dunia sebenarnya harus dilindungi dari tekanan, persekusi, dan pengasingan,” ungkap Derrida. Namun, dunia itu sudah ditinggalkan. Tirani Trump dan Netanyahu merajalela. Para korban kekerasan perang tidak ada yang membela. Yang muncul hanyalah narasi kelompok dominan atas subalternitas. AS hero, Iran zero.
Secara umum tidak ada lagi ide tentang HAM dan demokrasi yang dipraktikkan AS seperti dipuji Alexis de Tocqueville dalam tulisannya, De la democratie en Amerique. Perilaku politik Donald Trump ke Venezuela kemudian ke Iran ialah bentuk imperialisme yang telah lama ditinggalkan dunia, yaitu mencaplok sumber daya negara berdaulat untuk kepentingan kaisarisme.
Ketika PBB dan Uni Eropa bereaksi keras atas meninggalnya aktivis feminisme di penjara Iran, Mahsa Amini, pada 13 September 2022, lembaga dunia itu malah bersuara lirih atas genosida, persekusi, penangkapan sewenang-wenang, dan pembunuhan 75 ribu warga Gaza oleh PM Benyamin Netanyahu.
Aksi kriminal itu melengkapi pembunuhan 270 jurnalis oleh IDF (menurut laporan Al Jazeera) dan pembunuhan 18 ribu anak-anak pengungsi di Gaza, Tepi Barat, dan Jerussalem Timur. Israel juga sengaja mengisolasi pangan sehingga terjadinya kelaparan ekstrem massal. Mereka juga menghancurkan 34 dari 36 rumah sakit di Palestina. Namun, hal itu tidak pernah dianggap sebagai kejahatan luar biasa (monstrous crimes) dan menuduh IDF sebagai poros teroris global.
Itulah yang disebut Derrida bahwa kosmopolitanisme bisa menjadi matra canggung dan dipaksa penuh kekerasan sebagai nilai yang harus diterima secara global (terutama oleh dunia Islam dan non-Barat). Kosmopolitanisme didestruksi dan menjadi teks kabur atas kejahatan yang didominasi Amerika-Israel.
MENOLAK PERMAAFAN
Hal lain yang dikritisi Derrida ialah ide tentang permaafan (forgiveness), yang menjadi upaya rekonsiliasi setelah merebak kekerasan dan pelanggaran HAM berat. Selama ini ide rekonsiliasi dipakai untuk mempertemukan kembali nasib pelaku kejahatan (the perpretators) dan hak korban (the victims) dalam melihat masa depan dan perdamaian. Namun, bagi Derrida, ada hal yang akut pada wacana itu.
Ide permaafan, meskipun kini telah menjadi ide sekuler global, berangkat dari tradisi moral Ibrahimik yang menjadi ciri agama monoteisme dan diadopsi secara mendalam oleh Kristen dan Islam.
Menurut Derrida, gagasan permaafan hanya mungkin dipraktikkan pada kondisi bersyarat dan tidak bersyarat (salah satunya ialah memaafkan hal-hal yang tidak termaafkan (unforgivable), seperti Tuhan mengampuni dosa hamba-Nya dan aspek unconditionally yang harus dipertimbangkan ketika membangun perdamaian dan rekonsiliasi.
Problemnya ialah bagaimana cara mempertemukan antara hal yang bisa dimaafkan dan tidak bisa dimaafkan? Salah satu ketegangan ialah mempertemukan konsep permaafan yang sifatnya absolut dan relatif. Dimensi yang memungkinkan terjadinya permaafan ialah sepenuhnya tobat, janji tidak mengulangi, dan meminta maaf secara tulus. Derrida menegaskan gagasan dari filsuf Jerman abad 18, GWF Hegel, 'semua dapat dimaafkan kecuali kejahatan kepada jiwa' (all is forgivable except the crime against spirit).
Gagasan Derrida tentang kontradiksi sekaligus dekonstruksi itu bertemu dengan cermin kejahatan AS dan Israel atas Iran, Libanon, dan Gaza. Wilayah itu diserang bukan karena menyerang duluan, melainkan dicari-cari cari alasan untuk diserang dan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.
Bagaimana permaafan bisa diberikan kepada Trump dan menteri pertahanannya, Pete Hegseth, yang berdusta tentang pembunuhan 175 siswi SD Shajareh Thayebeh di Minab dan menuduh dilakukan sendiri oleh Iran? Padahal, bukti rudal yang ditembakkan ialah Tomahawk milik AS. Bahkan sebelum menjadi menteri pertahanan, Hegseth pernah serapah, 'Bunuh semua orang Islam' (The Economic Times, 4/12/2024). Apakah mungkin mereka bisa memaafkan manusia rasialis seperti itu?
Mengutip Jankelevitch, filsuf Yahudi asal Rusia, Derrida mengatakan memaafkan kejahatan hanya mungkin atas kejahatan kepada musuh (atas dasar ideologi, agama, ideologi) dan bukan atas kejahatan kemanusiaan. Memaafkan model kejahatan seperti itu tidak pernah melahirkan penyesalan, pertobatan, dan ketidakberulangan, tetapi malah membangun penderitaan bagi korban.
Jika Derrida masih hidup, tentu ia tak bisa menerima wacana perdamaian antara Iran, Libanon, Suriah, dan Palestina dengan AS dan Israel. Perdamaian kepada dua pengacau global itu palsu belaka dan menjadi ciri kontradiktif dari nilai-nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi dunia.
pembatalan dan penundaan keberangkatan sebagai dampak dari penutupan ruang udara di sejumlah negara Timur Tengah karena konflik AS-Israel dan Iran
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved