Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SECARA ritual usai sudah umat Islam melalui dan menunaikan lebaran (Idul Fitri). Aneka ragam dan pola umat menyambut dan merayakan lebaran. Apalagi lebaran merupakan momentum kemenangan bagi mereka yang sukses memerangi kecenderungan atau tarikan negatif selama Ramadan. Meski tidak sedikit pribadi selama Ramadan tidak menjalani puasa ikut menikmati aroma dan keberkahan lebaran. Ini realitas sosial keumatan. Terpulang bagaimana kita melihat, menempatkan, dan memaknai.
Bahwa tidak ada larangan bagi mereka yang tidak puasa Ramadan ikut berlebaran benar adanya. Merupakan hak setiap diri menafsir, menyikapi, dan mengikatkan. Persoalan lebih lanjut menyangkut kesiapan diri atas pengadilan di hadapan Tuhan. Hampir dipastikan semua mempunyai konstruksi argumentasi berbasis rasio, nalar, dan panggilan etik kehambaan. Selebihnya takaran kejujuran moralitas sosial kemanusiaan ikut mewarnai dan memberikan magnet positif maupun negatif.
Lebaran milik seluruh makhluk Tuhan beriman dan bertakwa dalam konteks Islam. Ia serupa kondisi surgawi yang setiap tahun menampakkan diri di hadapan kehidupan sosial bermasyarakat. Ia harus disambut dan dirayakan sedemikian happy, enjoy, dan membahagiakan. Terlebih seperti tuntunan Islam, ia adalah Hari Kemenangan setelah perjuangan (puasa) lahir batin sebulan penuh. Bahkan di sisi lain yang lebih luhur, lebaran ditempatkan dan dimaknai menjadi bagian jaminan pengampunan dosa-dosa antardiri dan lingkungannya. Tidak heran kalau setiap lebaran tiba, mudik besar-besaran pun memperoleh ruang nyata.
Dalam salah satu penggalan puitiknya, Jeihan Sukmantoro, maestro pelukis mata bolong, menyuguhkan "Salami, Selami, Idul Fitri". Puitika Jeihan ini cukup singkat tetapi maknanya padat dan kuat. Irit dalam kosakata namun kental esensial. Seperti lukisan-lukisan uniknya, Jeihan tiada henti menampakkan kelancipan eksistensialitas di luar dugaan banyak orang. Seringkali menari-nari di jalur lompatan berbeda. Juga tiba-tiba membisu mirip pertapa. Ini bagian dari potensi (bakat) alami dan kelebihan karakteristik manusiawinya.
Hampir semua diri yang berlebaran saling tegur sapa diiringi salaman berbasis senyuman hangat. Lebaran, minimal dalam perspektif tradisi Madura, dianggap ritual kehambaan untuk merayakan kesukacitaan, saling melepas kebekuan interaksi manusiawi lantaran kekhilafan, kesalahan, dan dosa sesama generasi Nabi Adam. Terutama manusia seperti disinyalir ajaran agama tidak luput dari alpa, salah, dan dosa. Dus, saling menyuguhkan tangan, bersalaman demi membuka diri meminta maaf agar dilepaskan dari beban duniawi merupakan haqqul Adami yang patut ditunaikan kala berlebaran.
Dalam konteks lebaran, meminjam spirit puitika Jeihan, bersalaman itu tidak boleh sembarangan. Tidak bisa kosongan. Mesti ada konstruksi substansialistik diselipkan sedemikian rupa. Harus ada nilai-nilai dilulurkan. Menyelami perkawinan tangan dan pelukan hangat sepenuh hati dan jiwa berbasis semangat universalitas kehambaan. Setiap diri sampai pada hakikat Idul Fitri secara tidak parsial. Kelahiran diri yang esensial, diri yang asli, diri yang tidak lagi terbelenggu kesalahan, dosa, dan sifat maupun karakteristik destruktif. Diri, dalam istilah Muthahhari, tercerahkan.
Diri tercerahkan ialah siaga untuk kebenaran dan kebajikan. Diri yang senantiasa mawas tidak kembali terjebak pola dan mentalitas hidup kontradiktif dan tidak produktif. Diri yang menjaga jarak dari semua tarikan pragmatisme dan hedonisme. Diri yang tidak mudah lagi dipengaruhi kehendak negatif dan kemauan brutalistik. Diri yang terus menerus belajar melapisi eksistensialitasnya dengan aroma lebaran. Berada dan mengada dengan kejujuran, harmoni, kehangatan, keterbukaan, kesetiaan, ketawaduan, dan berhidmah untuk tiada henti mengalirkan pelbagai kebajikan Tuhan.
Umumnya lebaran ditunaikan oleh dan untuk manusia terutama yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan sesuai kaidah etiknya. Tidak ada hewan berlebaran. Bahkan yang sibuk dan memenuhi mal, pasar, dan toko-toko menjelang lebaran lumrahnya manusia bukan yang lain. Mereka yang tanpa rasa malu berkompetisi saling pamer pakaian atau hiasan lebaran juga, sekali lagi, bukan hewan, tetapi manusia.
Realitas yang sulit disangkal. Realitas kultural sekaligus spiritual. Realitas yang cukup mengkhawatirkan dipandang dari perspektif imani kehambaan. Jauh dari uswah (keteladanan) kenabian. Realitas ini seyogianya dicermati ulang setiap diri. Sebab manusia bukan makhluk biasa. Manusia memiliki predikat dan derajat mulia di hadapan Tuhan.
Fitrah manusia berbeda dengan hewan. Manusia seperti disinyalir sebagian filosof bukan sekadar tulang dan daging. Tidak juga semata wujud dan nama. Manusia adalah khalifah Tuhan di muka bumi. Manusia, kata Driyarkara, persona yang tubuh jiwanya kesatuan tunggal eksistensialitas. Jiwa manusia menggerakkan dan mencahayai semua aspek material kebadanan yang dimiliki.
Mulla Shadra dan filosof Muslim setelahnya seperti Murtadha Mutahhari, Ali Syariati, Imam al-Ghazali, dan lainnya menegaskan manusia bukan sekadar insan (nasiya, pelupa). Ia adalah al-Nas berasal dari nusuwun, berarti sesuatu yang dianugerahi potensi, bakat, dan visi bertumbuh dan berkembang. Bahkan al-Ghazali menyatakan hakikat kemanusiaan tidak terletak pada materialitas, ketubuhan, atau fisik.
Jauh di balik itu, bermula dan berujung di kualitas akali, batini, dan akhlaki selama mentransformasikan amanah kehidupan. Bahkan, lanjut al-Ghazali, sejatinya barometer terbaik manusia adalah kepekaan hati.
Kepekaan hati menjadi salah satu perangkat prospektif dari dan untuk mengelola aroma lebaran. Sebab tanpa kepekaan hati semua nilai kejujuran, obyektivitas, spirit harmoni, dan universalitas mudah terdistorsi.
Konstruksi kebenaran dan kebajikan sering dimonopoli, dieksploitasi, dikapitalisasi, dan mengalami editing tidak terarah. Editing yang mungkin selalu mengikis nilai maupun makna empatik yang dikandung.
Tanpa kepekaan hati, panggilan etik kemanusiaan-kehambaan usai menunaikan lebaran mustahil berdampak maksimal. Salaman atau jabat tangan dan pelukan masa lebaran tetap sebatas lipstik dan sulit teraktualisasi sebagai kesadaran moral kolektif. Ini tentu tidak produktif. Na'udzubillah.
Pelajari Ilmu Kalam: Filsafat Islam mendalam tentang akidah, teologi, dan argumen rasional. Temukan kebijaksanaan abadi di balik keyakinan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved