Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMISKINAN ironi terbesar pembangunan. Di tengah bertambahnya anggaran, meluasnya program, dan semakin kaya data, masih banyak warga hidup dalam keterbatasan, bahkan di wilayah yang sesungguhnya kaya sumber daya. Ini menunjukkan hal mendasar: kemiskinan bukan semata soal kekurangan bantuan, melainkan tanda ada yang belum bekerja benar dalam cara memahami, merancang, dan mengelola pembangunan.
Penurunan kemiskinan selalu menjadi agenda utama pembangunan nasional. Dalam dua dekade terakhir, Indonesia berhasil menurunkan angka kemiskinan secara konsisten. Namun, jika dicermati lebih dalam, laju penurunannya semakin melambat dan tidak merata antarwilayah.
Data menunjukkan kemiskinan terkonsentrasi di perdesaan. Pada 2024, tingkat kemiskinan perdesaan mencapai 11,34%, hampir dua kali lipat dibandingkan perkotaan. Laju penurunan kemiskinan perdesaan melambat dari sekitar 0,78% per tahun pada periode 2007-2015 menjadi hanya 0,3% per tahun di periode 2015-2024 (sumber Analis Tingkat Kemiskinan Perdesaan, Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Kemendes 2026).
Ini memberi pesan penting: pendekatan selama ini tidak lagi cukup efektif menjawab kompleksitas kemiskinan. Masalahnya bukan keterbatasan anggaran. Dalam banyak kasus, daerah dengan sumber daya alam melimpah atau anggaran besar tetap menghadapi kemiskinan tinggi. Di beberapa kabupaten di NTT, misalnya, tingkat kemiskinan perdesaan sangat tinggi, seperti Sabu Raijua 28,13%, Rote Ndao 25,78%, dan Timor Tengah Selatan 24,68%, meskipun menerima alokasi dana desa dan dukungan fiskal besar (Kemendes, 2026).
Sebaliknya, ada daerah dengan keterbatasan sumber daya justru mampu menurunkan kemiskinan lebih konsisten. Persoalan utama bukan pada berapa banyak sumber daya, tetapi bagaimana sumber daya dikelola.
Kemiskinan sering diperlakukan sebagai masalah sektoral ditangani melalui program bantuan sosial, pelatihan, atau intervensi ekonomi tertentu. Padahal, kemiskinan sesungguhnya adalah gejala dari sistem yang tidak bekerja secara utuh.
Ia terkait dengan kualitas pendidikan, kesehatan, akses infrastruktur, struktur ekonomi, hingga relasi sosial dalam masyarakat. Karena itu, penanganannya tidak bisa parsial.
Pengalaman berbagai negara, termasuk Tiongkok, menunjukkan penurunan kemiskinan signifikan hanya dapat dicapai melalui pendekatan yang menggabungkan pertumbuhan ekonomi, perlindungan sosial, dan pemberdayaan masyarakat secara simultan. Pelajaran penting dari pengalaman Tiongkok adalah perlu bergeser dari pendekatan memberi bantuan menjadi memampukan dengan penekanan produktivitas, keterampilan, akses pasar, dan keberlanjutan pembangunan (China's Anti-Poverty Lessons for the World, William N Brown 2021).
Pendekatan tersebut selalu berbasis konteks lokal dan konsisten dalam jangka panjang. Penurunan kemiskinan bukan sekadar hasil program, melainkan konsekuensi pembangunan yang benar.
Di balik kebijakan dan program, terdapat satu faktor yang luput dari perhatian: kepemimpinan. Penurunan kemiskinan sangat ditentukan kemampuan pemimpin membaca realitas dan menggerakkan sistem. Di sinilah pentingnya kepemimpinan ekosistem yang tidak berhenti pada kemampuan administrasi, tetapi berakar pada kesadaran mendalam.
Pertama, kesadaran spasial atau kemampuan memahami ruang secara utuh: di mana kantong kemiskinan berada, bagaimana karakter geografis, dan apa implikasi terhadap ekonomi lokal. Tanpa ini program salah sasaran.
Kedua, kesadaran sosial atau memahami kemiskinan tidak hanya soal pendapatan tetapi juga budaya, norma, dan jejaring sosial. Apa yang di satu tempat menjadi kekuatan, di tempat lain bisa menjadi hambatan.
Ketiga, kesadaran kesejarahan yaitu kondisi hari ini adalah hasil proses panjang. Tanpa memahami sejarah wilayah, kebijakan sering kali hanya mengulang kesalahan sama.
Keempat, kesadaran spiritual yaitu kepemimpinan adalah panggilan hidup. Pada titik ini, kebijakan tidak didorong kepentingan jangka pendek atau popularitas, melainkan kemaslahatan yang berkelanjutan.
Pendekatan berbasis program sering kali menghasilkan output tetapi tidak selalu menghasilkan perubahan. Banyak program berjalan, anggaran terserap, tetapi dampaknya terbatas. Pendekatan berbasis ekosistem menempatkan pemerintah sebagai penggerak yang menyinergikan berbagai aktor--pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat--dalam arah yang sama.
Praktiknya ini berarti intervensi berbasis kawasan, bukan sektoral; penguatan ekonomi lokal sesuai karakter wilayah; serta pembangunan rantai nilai yang memberi nilai tambah. Pengalaman di berbagai daerah ketika pendekatan ini dilakukan konsisten, keterbatasan sumber daya dapat diubah menjadi peluang.
Data BPS memang penting sebagai peta awal, tetapi harus diturunkan lagi menjadi pembacaan lebih spasial, sosial, dan kontekstual. Di situlah kualitas kepemimpinan diuji: bukan sekadar menjalankan program, melainkan menemukan titik ungkit perubahan.
Salah satu tantangan terbesar penanganan kemiskinan adalah godaan memilih jalan pintas melalui program populis. Program ini memberi dampak politik secara cepat tetapi berisiko menciptakan ketergantungan.
Karena itu, pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara bantuan jangka pendek dan pemberdayaan jangka panjang. Bantuan tetap diperlukan tetapi harus menjadi jembatan menuju kemandirian, bukan tujuan akhir. Di sinilah pemerintah harus relevan terhadap dinamika sosial. Pemerintah tidak sebagai penyalur program tetapi menjadi pengarah, penghubung, dan penggerak ekosistem pembangunan.
Penurunan kemiskinan bukan sekadar persoalan teknis, melainkan cara pandang. Selama kemiskinan dilihat sebagai masalah program, solusi yang dihasilkan selalu terbatas. Namun, ketika kemiskinan dipahami sebagai gejala sistem dan ditangani melalui kepemimpinan ekosistem berbasis kesadaran, perubahan yang dihasilkan lebih mendasar dan berkelanjutan. Akhirnya bukan data, bukan anggaran, bukan pula program yang paling menentukan, melainkan kualitas kepemimpinan menggerakkan semua ke arah yang benar.
KPK memaparkan 10 modus korupsi yang kerap terjadi di daerah, mulai dari suap pengadaan barang dan jasa hingga jual beli jabatan di lingkungan ASN.
ABPEDNAS gelar Jaga Desa Awards 2026 di Jakarta sebagai apresiasi transparansi tata kelola keuangan desa dan sinergi dengan Kejaksaan RI.
Transformasi digital desa melalui platform DIGIDES terbukti meningkatkan efisiensi pelayanan publik dan akuntabilitas pengelolaan Dana Desa 2026.
DIREKTUR Pascasarjana Universitas YARSI, Tjandra Yoga Aditama, menilai pemanfaatan dana desa untuk pengendalian tuberkulosis (TB) tetap relevan dan tepat sasaran.
ANGGOTA Komite 1 DPD dari Dapil Kalimantan Selatan (Kalsel), Muhammad Hidayattollah atau yang akrab disapa Dayat El mengatakan pengelolaan dan pengawasan dana desa harus dikuatkan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved