Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DI tengah dunia yang semakin tidak pasti yang ditandai konflik geopolitik, krisis ekonomi, dan disrupsi sosial, bangsa-bangsa dituntut tidak hanya kuat secara ekonomi dan militer, tetapi juga kukuh secara karakter. Dalam konteks itu, ada tiga nilai yang menjadi fondasi penting, yaitu patriotik, gigih, dan empati. Ketiganya bukan sekadar konsep normatif, melainkan juga kualitas nyata yang menentukan daya tahan suatu bangsa dalam menghadapi tekanan.
Patriotik, gigih, dan empati bukanlah nilai yang berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi. Patriotik tanpa empati bisa berubah menjadi eksklusivisme. Gigih tanpa empati bisa menjadi keras dan tidak manusiawi. Sementara itu, empati tanpa gigih bisa membuat seseorang mudah menyerah. Ketika ketiga nilai itu terintegrasi, terbentuklah karakter yang kuat sekaligus human sebagai kunci ketahanan suatu bangsa. Dalam teori pembangunan manusia, hal itu sejalan dengan pendekatan human development yang menekankan bahwa kemajuan tidak hanya diukur dari ekonomi, tetapi juga kualitas manusia itu sendiri.
Pengalaman rakyat Iran dalam menghadapi tekanan eksternal, termasuk ketegangan berkepanjangan dengan Amerika Serikat dan Israel, dapat menjadi contoh menarik. Terlepas dari berbagai perdebatan politik yang menyertainya, ada satu hal yang sulit diabaikan, yaitu daya tahan masyarakatnya. Mereka tidak mudah goyah oleh ancaman, tidak cepat menyerah dalam tekanan, dan tetap menjaga solidaritas sosial di tengah keterbatasan. Itu sekaligus sebagai pelajaran penting bagaimana karakter kolektif patriotik, gigih, dan empati dibentuk dan dipertahankan.
PATRIOTIK: LEBIH DARI SEKADAR SIMBOL
Patriotik sering kali dipahami secara sempit sebagai kecintaan terhadap simbol-simbol negara termasuk bendera, lagu kebangsaan, atau seremoni kenegaraan. Padahal, sejatinya jauh lebih dalam karena ia merupakan kesediaan untuk menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi, terutama dalam situasi sulit.
Rakyat Iran mewujudkan karakter itu bukan semata-mata dalam bentuk bersifat seremonial. Dalam berbagai kondisi tekanan ekonomi akibat sanksi internasional, misalnya, mereka tetap mempertahankan aktivitas ekonomi domestik, mendukung produk lokal, dan menunjukkan loyalitas terhadap negara mereka. Itu mencerminkan apa yang dalam teori civic nationalism disebut sebagai keterikatan warga pada negara melalui komitmen aktif, bukan sekadar identitas simbolis.
Dalam konteks Indonesia, karakter patriotik semacam itu menjadi sangat relevan. Tantangan kita mungkin berbeda, yaitu bukan perang terbuka, melainkan kompetisi global, ketimpangan sosial, dan fragmentasi identitas. Namun, esensinya sama, yaitu bahwa bangsa yang kuat ialah bangsa yang warganya memiliki rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap negaranya.
GIGIH: KEKUATAN UNTUK BERTAHAN DAN BANGKIT
Karakter kedua yang menonjol ialah gigih atau kegigihan. Dalam banyak literatur psikologi, kegigihan dikenal sebagai grit, sebuah konsep yang dipopulerkan Angela Duckworth (2016). Dalam bukunya Grit: The Power of Passion and Perseverance, ia mendefinisikan grit sebagai kombinasi antara ketekunan dan semangat jangka panjang dalam mencapai tujuan.
Kondisi Iran yang menghadapi tekanan ekonomi, keterbatasan akses global, dan ancaman konflik tidak membuat masyarakat mereka berhenti bergerak. Sebaliknya, keterbatasan tersebut justru mendorong inovasi domestik, kemandirian, dan daya juang yang tinggi. Dalam situasi sulit, mereka tidak menunggu keadaan menjadi ideal, tetapi beradaptasi dan mencari jalan keluar.
Teori resilience dalam psikologi juga menjelaskan fenomena itu. Resiliensi adalah kemampuan individu atau kelompok untuk bertahan dan pulih dari tekanan. Dalam buku Ordinary Magic: Resilience in Development, Ann Masten (2014) menyebutkan resiliensi bukanlah sesuatu yang luar biasa, melainkan 'ordinary magic'. Resiliensi atau yang umumnya lebih dikenal sebagai gigih ialah kemampuan yang dapat dibangun melalui pengalaman, dukungan sosial, dan nilai-nilai yang ditanamkan sejak dini.
Bagi Indonesia, pelajaran itu penting. Kegigihan tidak hanya dibutuhkan dalam menghadapi krisis besar, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Krisis dimaksud mungkin saja ditemui dalam pendidikan, dunia kerja, hingga pelayanan publik. Tanpa kegigihan, kebijakan sebaik apa pun akan sulit diimplementasikan secara konsisten.
EMPATI: KEKUATAN YANG SERING TERLUPAKAN
Di balik keteguhan dan keberanian, ada satu karakter yang sering luput diperhatikan, yaitu empati. Dalam situasi tekanan, empati justru menjadi perekat sosial yang menjaga masyarakat tetap solid. Rakyat Iran, dalam berbagai laporan sosial, dikenal memiliki tingkat solidaritas yang tinggi, terutama dalam membantu sesama saat menghadapi kesulitan ekonomi. Itu menunjukkan kekuatan suatu bangsa tidak hanya terletak pada keberanian menghadapi musuh, tetapi juga pada kepedulian terhadap sesama warga.
Empati dalam teori psikologi sosial dijelaskan sebagai kemampuan untuk memahami dan merasakan apa yang dialami orang lain. Daniel Goleman (1995) dalam bukunya, Emotional Intelligence, menempatkan empati sebagai salah satu komponen utama kecerdasan emosional. Tanpa empati, hubungan sosial menjadi rapuh dan kepercayaan sulit dibangun.
FONDASI KETAHANAN BANGSA
Indonesia pada saat ini tidak berada dalam situasi perang seperti Iran. Namun, tantangan yang dihadapi tidak kalah kompleks. Hal itu disebabkan adanya disrupsi teknologi, polarisasi sosial, hingga tantangan global yang semakin kompetitif. Dalam situasi demikian, pembangunan karakter menjadi sama pentingnya dengan pembangunan infrastruktur. Program-program penguatan karakter harus diarahkan tidak hanya ke aspek moral normatif, tetapi juga ke pembentukan daya tahan mental (resilience), rasa memiliki bangsa, dan kepedulian sosial.
Bagi Indonesia, pelajaran itu relevan untuk membangun masa depan. Di tengah berbagai tantangan, kita membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga tangguh dan peduli. Generasi yang tidak mudah goyah oleh tekanan, tetapi juga tidak kehilangan rasa kemanusiaan.
Pengalaman rakyat Iran memberikan pelajaran berharga bahwa kekuatan suatu bangsa tidak hanya ditentukan teknologi atau kekuatan militer, tetapi juga oleh karakter warganya. Karakter patriotik membuat mereka tetap berdiri; gigih membuat mereka terus bergerak; dan empati membuat mereka tetap bersatu.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved