Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENDIDIKAN tinggi di bidang kesehatan memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Ia tidak hanya menghasilkan lulusan akademik, tetapi juga tenaga profesional yang secara langsung berhubungan dengan keselamatan manusia. Karena itu, standar akademik dalam pendidikan tinggi kesehatan sudah semestinya tidak hanya memenuhi ketentuan nasional, tetapi juga selaras dengan standar universitas dan institusi pendidikan kesehatan terbaik di dunia.
LEMBAGA AKREDITASI IAAHEH
Indonesia sebenarnya telah memiliki perangkat regulasi yang cukup komprehensif untuk menjamin mutu pendidikan tinggi kesehatan. Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN-Dikti) mengatur kurikulum, proses pembelajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Selain itu, sistem penjaminan mutu eksternal diperkuat melalui lembaga akreditasi khusus seperti Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan (LAM-PTKes) yang bertugas menilai mutu program studi kesehatan. LAM-PTKes dikenal di dunia internasional sebagai Indonesian Accreditation Agency for Higher Education in Health (IAAHEH) — sebuah lembaga akreditasi independen yang lahir dari konsorsium berbagai organisasi profesi kesehatan di Indonesia sejak tahun 2014.
Sebagai lembaga yang berakar dari komunitas profesi kesehatan —mulai dari kedokteran, keperawatan, farmasi, hingga kebidanan dan kesehatan masyarakat— IAAHEH telah mengakreditasi ribuan program studi yang tersebar di Indonesia (jumlahnya bertambah dari sekitar 2.950 pada 2015 menjadi lebih dari 4.000 pada akhir 2022), mencakup semua jenjang pendidikan kesehatan dari diploma hingga spesialis dan subspesialis.
Lebih jauh lagi, IAAHEH juga memiliki visi untuk menjadi lembaga akreditasi yang diakui secara global, yang mendorong mutu pendidikan kesehatan Indonesia ke arah penyelenggaraan pendidikan tinggi berkualitas internasional. Misi IAAHEH mencakup peningkatan layanan akreditasi, pengembangan akreditasi yang profesional dan akuntabel, serta penguatan jaringan dan pengakuan baik di tingkat nasional maupun global. Nilai inti yang dipegang ialah amanah dan mandiri, serta prinsip Continuous Quality Improvement, yakni budaya peningkatan mutu yang berkelanjutan di dalam setiap program studi kesehatan.
Hal ini menjadi landasan penting karena standar akademik di negara-negara maju biasanya tidak hanya sekadar aturan administratif tertulis, tetapi merupakan bagian dari budaya akademik yang kuat, dikombinasikan dengan siklus penjaminan mutu yang terus-menerus, integrasi riset dalam kurikulum pembelajaran, kolaborasi global yang nyata, serta keterlibatan pemangku kepentingan internasional. Misalnya, berbagai lembaga akreditasi global di bidang medis mendorong program studi untuk memiliki bukti keterlibatan mahasiswa dalam penelitian klinis, publikasi ilmiah yang diakui internasional, dan jaringan rumah sakit pendidikan yang terhubung dengan pusat-pusat riset dunia.
DARI KUANTITATIF KE ASESMEN KUALITATIF
Perubahan pendekatan penilaian yang terjadi di LAM-PTKes/IAAHEH dari sekadar indikator kuantitatif menuju asesmen yang lebih kualitatif dan berbasis praktik akademik yang nyata juga adalah langkah maju yang sesuai dengan praktik internasional. Fokus bukan lagi pada ‘dokumen administratif lengkap’, tetapi pada bukti bahwa kurikulum, proses pembelajaran, pembuktian capaian lulusan, penelitian, dan pelayanan masyarakat benar-benar dijalankan sesuai standar yang dirumuskan. Namun, tantangan tetap besar: apakah dokumen self-assessment dan bukti pendukung yang disiapkan benar-benar mencerminkan praktek akademik yang hidup, atau hanya diproduksi sekadar memenuhi persyaratan akreditasi.
Jika kita melihat contoh universitas-universitas kesehatan top dunia seperti Harvard, Oxford, atau Johns Hopkins, standar akademik mereka sangat terkait dengan kekuatan riset serta kontribusi ilmiah yang berdampak global. Fakultas Kedokteran Harvard sendiri menghasilkan ribuan publikasi ilmiah setiap tahun yang terindeks secara internasional. Sebaliknya, meski Indonesia menunjukkan peningkatan signifikan dalam jumlah publikasi ilmiah yang terindeks, masih terdapat gap dalam hal kualitas, kolaborasi internasional, dan dampaknya terhadap komunitas ilmiah global.
Dalam konteks ini, hadirlah skema akreditasi internasional oleh IAAHEH sebagai sebuah ruang baru bagi program studi kesehatan Indonesia untuk dites dan diakui menggunakan benchmark internasional. Praktik internasionalisasi akreditasi ini memberikan peluang bagi program studi yang terakreditasi untuk meningkatkan kerja sama internasional, mempermudah mobilitas lulusan untuk studi lanjutan di luar negeri, serta memperkuat reputasi akademik secara global.
ASESOR DAN ASESMEN
Peran asesor dalam sistem ini menjadi semakin krusial. Seorang asesor tidak boleh hanya memeriksa kelengkapan dokumen administratif, tetapi juga harus mampu menilai secara objektif apakah standar akademik betul-betul dijalankan dalam praktik sehari-hari. Dokumen yang lengkap bisa saja hanya formalitas jika tidak didukung oleh bukti nyata —seperti keterlibatan mahasiswa dalam riset, kolaborasi akademik yang berkelanjutan, atau mekanisme pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dunia kesehatan masa kini. Maka dari itu, asesor harus memiliki pengalaman akademik, kemampuan analisis yang kuat, serta kejelian dalam membaca indikator mutu yang sering kali tersembunyi di balik angka dan sertifikat formal.
Proses asesmen yang baik bukan hanya serangkaian wawancara dan pemeriksaan kertas; ia adalah komunikasi mendalam antara asesor dan pimpinan program studi, dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, alumni, pengguna alumni, pengelola rumah sakit, serta pemangku kepentingan eksternal lainnya. Dari proses wawancara ini dapat terlihat apakah budaya akademik benar-benar hidup di institusi, atau sekadar tertulis di dalam dokumen akreditasi. Objektivitas dan integritas asesor pun menjadi kunci agar proses akreditasi benar-benar berfungsi sebagai mekanisme peningkatan mutu, bukan sekadar formalitas administratif.
Pada akhirnya, standar akademik dalam pendidikan tinggi kesehatan bukan sekadar instrumen evaluasi mutu. Ia merupakan arah strategis yang menentukan kualitas tenaga kesehatan masa depan dan kontribusi Indonesia terhadap ilmu kesehatan dunia. Dengan potensi sumber daya manusia yang besar, serta inovasi pendidikan yang terus berkembang, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat posisi pendidikan kesehatan di tingkat global —asalkan standar akademik yang dijalankan bukan hanya paperwork administratif, tetapi benar-benar menjadi budaya mutu yang hidup dan dibuktikan nyata.
Hasil TKA juga dapat dimanfaatkan sebagai assessment for learning, yaitu dasar untuk memperbaiki proses pembelajaran.
TKA pada akhirnya bukan sekadar instrumen teknis melainkan fondasi moral untuk memastikan setiap anak Indonesia dinilai dengan ukuran yang setara.
Menko PMK Pratikno menegaskan pentingnya langkah cepat dan menyeluruh untuk menjamin keamanan bangunan sekolah dan pesantren di seluruh Indonesia.
Asesmen program Sekolah Rakyat sangat penting dilakukan untuk menilai kemampuan anak didik serta juga memetakan berbagai faktor yang dapat menghambat program Sekolah Rakyat.
ASESMEN perdana Ma'had Aly digelar oleh Majelis Masyayikh. Asesmen tahap awal menyasar 12 Ma’had Aly yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved