Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
JANGAN menyepelekan kekuasaan, apalagi meremehkannya atas nama idealisme yang mulia. Kekuasaan tak sesederhana yang dibayangkan. Pemain baru yang biasanya ialah tokoh-tokoh muda acap kali menyederhanakan kekuasaan, seolah kehadiran mereka akan mengubah banyak hal dalam tatanan politik.
Namun pada akhirnya, waktu dan sejarah membuktikan bahwa kekuasaan tak bisa dipandang sesederhana itu. Kekuasaan tak mudah ditundukkan hanya dengan mimpi-mimpi indah yang tercantol di dalam idealisme politisi muda.
Untuk menjadi pemain andal sekaligus idealistis di atas hamparan politik tak hanya butuh ilmu dan pengetahuan yang luas, tetapi juga kebijaksanaan dan kearifan yang mapan, karakter yang kuat, determinasi yang tak lekang oleh keadaan apa pun, dan kelincahan diplomatik interpersonal yang mumpuni.
Salah satu contoh yang menarik ialah Bashar Al Assad, misalnya. Presiden Suriah yang dicap bertangan besi itu pada awalnya ialah seorang dokter mata lulusan London yang sangat lugu. Anak kedua dari Hafez Al Assad itu tidak direncanakan untuk menjadi suksesor bapaknya di Suriah. Kematian kakak tertuanya akhirnya membuat Hafez harus mengambil keputusan untuk mendidik Bashar Al Assad secara instan sebagai calon suksesor.
Dalam perjalanan waktu yang tidak terlalu panjang, kematian sang bapak membuat Bashar Al Assad harus mengemban tugas sebagai seorang presiden di umur 34 tahun. Absennya kaderisasi pemimpin di Suriah, membuat Bashar Al Assad dinobatkan jadi presiden setelah amendemen UU yang mengatur bahwa presiden harus berumur 40 tahun ke atas.
Pada mulanya, idealisme anak muda tampak bergelora. Bashar Al Assad bersedia melakukan beberapa reformasi, seperti pengakuan terhadap kebebasan pers. Namun pada akhirnya, keadaan dan hasrat untuk tetap berada di tampuk kekuasaan memaksa Assad untuk bertangan besi, sebagaimana karakter kekuasaan dari pendahulunya.
Invasi Irak oleh Amerika membuat Assad harus memutar otak agar riak Amerikanisasi tidak merembes ke negaranya. Bangkitnya kelompok fundamentalisme, kemudian bergeloranya semangat Arab Spring, menyisakan pilihan yang sulit bagi beliau. Untuk tetap bertahan di atas singgasana kekuasaan, dibutuhkan berbagai cara yang cenderung antidemokratis. Kekerasan politik, beraliansi dengan negara yang kurang demokratis, memberangus lawan politik, ialah beberapa jalan yang harus ditempuh.
Semua tokoh yang mengenal Assad sedari awal dengan gamblang bisa melihat perubahan drastis seorang dokter mata menjadi seorang presiden yang bertangan besi. Nyaris tidak ada lagi yang tersisa dari seorang Assad yang lugu, antikekerasan, toleran, dan pemalu.
Dengan kata lain, kekuasaan di Suriah sampai hari ini masih berkarakter sama dengan kekuasaan semasa bapaknya, sekalipun jangkauan kekuasaan itu nyaris tersisa 20%-30% saja jika dibandingkan dengan era bapaknya.
Memang begitulah kekuasaan bekerja. Tidak hanya ilmu dan pengetahuan yang luas yang dibutuhkan, tetapi juga kearifan, kesiapan mental, karakter yang kuat, tekad yang bulat, dan kapasitas adaptasi yang mumpuni. Dengan kombinasi semua itu, maka kekuasaan bisa diarahkan pada kebaikan rakyat, ditujukan untuk menciptakan pemerintahan yang bersih dan lembut, dan untuk perdamaian.
Begitu pula dengan Obama, misalnya. Presiden AS pertama yang berkulit cokelat itu hanya penerus tradisi pendahulunya, Bill Clinton. Keduanya, termasuk pendahulu-pendahulu presiden dari Demokrat, tak banyak memberikan warna baru dalam tata pemerintahan atau sistem ekonomi politik AS.
Obama, layaknya Clinton (pun Hillary), ialah penerus perjuangan pro pasar dan pro elite-elite ekonomi, dengan konsesi-konsesi berupa program sosial kemasyarakatan kepada pemilihnya. Beberapa waktu sebelum sorak-sorai Obama Care misalnya, ada triliunan dolar yang disuntikan ke dalam sistem keuangan nasional Amerika. Secara ideologis, memang begitulah tradisi Partai Demokrat.
Di sisi lain, dunia juga sudah melihat bagaimana nasib pendobrak, seperti John F Kennedy, yang menyuarakan amendemen kesetaraan kulit hitam dan putih. Saat itu, beliau masih terbilang muda dan sangat ambisius. Oleh karena itu, peran Lyndon B Johnson menjadi sangat signifikan sebagai penghubung Kennedy dengan kalangan tua. Nyatanya nasib Kennedy tak lebih baik jika dibandingkan dengan nasib pencetus ide awal amendemen yang serupa, Abraham Lincoln, yakni tewas dihunjam peluru.
Kennedy terbilang lebih muda jika dibandingkan dengan Lincoln. Keduanya berjuang untuk menyuntikkan sesuatu yang baru ke dalam tatanan ekonomi politik Amerika. Hasilnya, mereka berdua menjadi martir. Masyarakat Amerika tentu sangat bersyukur, Lyndon B Johnson dengan sangat arif dan berani melanjutkan perjuangan itu sampai lahirnya amendemen, meski perjuangannya sangat sulit dan berliku.
Di RI, dari satu transisi ke transisi lainya, juga terdapat cukup banyak politisi muda. Tokoh-tokoh muda pada transisi 1965 ialah tokoh-tokoh yang mayoritas menjadi penopang berdiri tegaknya Orba.
Tak berbeda dengan era reformasi, tokoh muda di era itu saat ini sudah menjadi penikmat-penikmat kekuasaan. Apakah ada yang baru? Apakah karakter kekuasaan bisa mereka ubah? Sulit untuk menjawab ‘iya’. Rezim memang berganti, pasal-pasal fundamental di dalam perundangan lama diubah, tapi kekuasaan tetap sebagaimana mulanya.
Nyatanya, tak melulu politisi muda ialah aktor perubahan. Sekumpulan anak muda, yang digadang-gadang sebagai politisi muda dengan partai baru yang juga dianggap representasi kemudaan, PSI, ialah contoh menarik lainnya.
Belakangan terbukti PSI hanya menaikkan namanya dengan cara-cara berkontroversi, baik dengan politisi senior lain atau dengan tokoh-tokoh, pun dengan mencantol nama besar tokoh senior yang dianggap punya elektabilitas tinggi. Kemudian pertanyaannya, apa hal baru yang mewakili ‘sisi politik generasi muda’ yang diperjuangkan PSI?
Rasanya juga sulit untuk menjawab ‘iya’. Kalau PSI dominan bermain di ranah media sosial. Ketagihan dengan gaya viral-viralan atau ketagihan berkontrovesi dengan isu-isu yang kurang signifikan, itu bukanlah tanda bahwa PSI mewakili sisi politik generasi muda. PSI hanya memindahkan saluran komunikasi dari konvensional ke komunikasi maya, itu saja, tidak lebih. Lantas, bagaimana dengan politisi muda lainnya? Jawabannya sama, mereka rerata hanya perpanjangan tangan dari tokoh-tokoh seniornya di parpol.
Boleh jadi tak sedikit yang bergelar tinggi, lulusan pascasarjana dari negara maju, nada bicara penuh antusias, bahkan terlihat sangat ambisius. Namun, ‘rasa politik’ yang mereka perjuangan ialah rasa dari hasil racikan senior-seniornya. Tidak lebih. Mengapa? Karena kekuasaan bukanlah sesuatu yang sederhana.
Bukan sesuatu yang jika ‘dikencingin’ sedikit bisa berubah aroma dan rasanya. Bukan sesuatu yang mendadak jinak jika anak muda yang memegangnya. Sama sekali bukan. Jadi, bagi generasi muda yang sudah menceburkan diri ke dalam pertarungan kekuasaan, bersiaplah hijrah, untuk tidak lagi menjadi seseorang sebagaimana Anda hari ini. Jika Anda ternyata benar-benar tak membawa perbedaan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved