Posko di Kamyaka

Ono Sarwono
20/1/2019 01:40
Posko di Kamyaka
()

BERBAGAI cara dirancang dan dieksekusi Kurawa dengan misi menghabisi Pandawa. Itu implementasi dari doktrin Sengkuni kepada Kurawa, yakni jika ingin hidup nikmat, Pandawa harus dihilangkan dari Marcapada.

Kurawa harus tega menghilangkan ikatan kekeluargaan dengan Pandawa. Pandawa harus diletakkan pada posisi sebagai musuh. Itu disebabkan hanya merekalah pihak pertama yang akan menghalangi Kurawa menguasai Astina.  

Karena itu, ketika Pandawa hidup susah di Hutan Kamyaka, sebagai konsekuensi atas kekalahan mereka bermain dadu, Kurawa terus meneror. Mereka mendirikan ‘pos komando’ yang berdekatan dengan ‘rumah’ Pandawa itu dengan tujuan mempercepat keturunan Pandu itu menemui ajal.

Namun, Pandawa bukan titah rapuh seperti yang disangka. Malah di situlah mereka menemukan jati diri sebagai kesatria tangguh. Pun dalam laku prihatin mereka di hutan itu Pandawa mendapatkan anugerah dewa.


Kalah main dadu

Dikisahkan, Duryudana mengajak Puntadewa bermain dadu. Ini kesukaan Puntadewa ketika masih anak-anak. Namun, sejak menjadi raja Amarta, sulung Pandawa itu telah meninggalkannya. Ajakan kakak sepupunya itu seperti membangunkan hobinya yang telah lama terkubur.

Main dadu itu sebenarnya taktik Kurawa yang dimentori Sengkuni sebagai upaya merampas kekuasaan Amarta alias Indraprastha. Istana Amarta yang indah dan megah menarik perhatian Duryudana untuk menguasainya. Apalagi banyak rakyat Astina eksodus ke Amarta.

Pada sisi lain, ini yang lebih serius, Duryudana merasa tidak bisa tidur nyenyak sebagai raja jika Pandawa masih hidup. Karena itu, upaya apa pun dilakukan untuk memburu nyawa Pandawa.

Awalnya, main dadu tidak menyertakan taruhan. Namun, lama-kelamaan Duryudana mengusulkan adanya taruhan agar semakin gayeng. Puntadewa meladeninya. Pantang baginya untuk tidak menyenangkan pihak lain, apalagi Duryudana yang ialah saudara tuanya sendiri.

Dari uang receh atau kecil-kecilan hingga akhirnya gede. Bahkan, taruhannya ialah negara. Inilah yang memang yang diincar Duryudana. Saat itu Werkudara sempat mengingatkan kakaknya, Puntadewa, agar menghentikan permainan itu karena Kurawa curang dalam permainan.

Puntadewa mengaku tahu ketidakjujuran Kurawa. Namun, ia tidak ingin Duryudana kecewa sehingga permainan berlanjut. Pada akhirnya, Pandawa kehilangan negara yang mereka bangun secara mandiri. Bukan itu saja, Puntadewa mesti membiarkan istrinya, Dewi Drupadi, menjadi objek kekerasan seksual oleh Dursasana dan adik-adiknya.

Selain ludes, sesuai dengan aturan yang dibuat Kurawa secara sepihak, Pandawa mesti menjalani hukuman pembuangan di Hutan Kamyaka selama 12 tahun. Bila rampung, Pandawa masih harus hidup menyamar satu tahun. Bila dalam penyamaran itu mereka tercium, Pandawa harus mengulang dari awal.

Werkudara meminta izin Puntadewa untuk melawan kesewenang-wenangan Kurawa. Namun, Puntadewa lagi-lagi melarang dan malah menasihatinya untuk bersabar. Baginya, semua yang bersifat duniawi tidak ada nilainya. Ada yang hakiki dalam hidup ini yang mesti diperjuangkan.

Karena itu, Pandawa mesti menjalani hidup yang serbakekurangan di Hutan Kamyaka. Eloknya, kesengsaraan itu justru mereka jadikan sebagai gelanggang mesu budi, pengerahan seluruh potensi kejiwaan dalam diri untuk menjadi kesatria-kesatria linuwih (hebat).


Sarana laku prihatin

Atas inisiatif Sengkuni, Kurawa memindahkan pos komando (posko) pemenangan Astina di pinggir Hutan Kamyaka, tempat tinggal Pandawa. Mereka membawa berbagai perangkat hiburan serta bahan makan dan minuman yang berlimpah. Siang-malam Kurawa berfoya-foya di sana.

Kurawa pamer kenikmatan dengan maksud membuat Pandawa semakin teriris-iris hatinya. Hal itu dimaksudkan untuk mempercepat Pandawa menjemput ajal karena Pandawa dipastikan klingsir (kelaparan) dan kekurangan gizi. Pandawa hanya makan apa yang ada di hutan.

Akibat selanjutnya Pandawa rentan terkena berbagai penyakit, apalagi tempat tinggal mereka hanya susunan ranting dengan atap dedaunan. Hujan yang kerap membasahi hutan akan semakin membuat Pandawa sengsara. Dengan kondisi seperti itu, Kurawa memprediksi Pandawa akan mati konyol sebelum mereka menyelesaikan masa hukuman 12 tahun.

Ketika Pandawa memulai menjalani hukuman, mereka memang tidak diperkenankan membawa pakaian dan bahan makanan. Mereka harus hidup dengan apa yang ada dalam hutan tersebut. Dari sisi itu Pandawa sudah diperhitungkan akan mengalami masalah hidup yang sangat serius.  

Ternyata semua prediksi Kurawa meleset. Pandawa--Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa--memang tampak kurus-kurus dengan kulit mereka agak menghitam. Mereka kekurangan makan dan asupan gizi. Pun pakaian mereka lusuh-lusuh karena tidak cukup sandang.

Namun, segala kesengsaraan itu tidak membuat Pandawa tertekan jiwa dan jatuh mental. Mereka justru memanfaatkan kondisi itu sebagai medan laku prihatin. Dalam kearifan lokal, tekad Pandawa seperti itu disebut manjing dadi laku. Artinya, kesengsaraan yang melilit dijadikan sarana menggapai kemuliaan hidup.

Dalam seni pedalangan, di antara laku prihatin Pandawa yang paling monumental ialah ketika Arjuna bertapa di Indrakila dengan sebutan Begawan Ciptaning alias Mintaraga. Kegenturannya bertapa membuat Kahyangan Jonggring Saloka gonjang-ganjing.

Raja Kahyangan Bathara Manik­maya terpaksa turun sendiri ke Marcapada setelah sejumlah utusannya gagal membangunkan Arjuna. Dari situlah Manikmaya mengetahui kualitas kejiwaan Arjuna sehingga ia malah menghadiahi sejumlah penghargaan, di antaranya panah pasopati.    


Raja di Kahyangan

Manikmaya kemudian memerintahkan Arjuna mengusir Newatakawaca yang sedang mengamuk di Kahyangan. Raja Negara Manimantaka itu marah karena keinginannya meminang Bathari Supraba ditolak para dewa.

Singkat cerita, Arjuna mampu mengenyahkan Newatakawaca. Atas jasanya itu, Arjuna mendapat anugerah dari para dewa. Bathara Narada memberikan panah Cundamanik, Bathara Indra menghadiahkan senjata Gendewa, dan Bathara Kuwera memberikan panah Ardadedali. Arjuna pun diperkenankan menikahi Supraba dan berhak menjadi raja sementara waktu di Kahyangan bergelar Prabu Kiritin.

Pada akhirnya, Pandawa mampu melewati masa hukuman dengan sehat walafiat. Bukan itu saja, Pandawa keluar hutan dengan jiwa-jiwa seminau. Itu bekal mereka menjalani darma hidup sebagai kesatria.   

Itu juga modal utama Pandawa menghadapi Kurawa dalam Bharatayuda. Kurawa yang sebelumnya terus-menerus mengincar kematian Pandawa pada akhirnya justru musnah di Kurusetra. (M-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya