Tsunami Selat Sunda dan Tantangan Kita

Daryono Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG
31/12/2018 06:15
Tsunami Selat Sunda dan Tantangan Kita
(MI/Seno)

SELAT Sunda merupakan salah satu kawasan rawan yang memiliki potensi multiancaman bencana di Indonesia. Di zona ini terdapat beberapa sumber gempa seperti zona megathrust, zona gempa di luar subduksi (outer rise), dan sebaran sesar aktif sehingga gempa bumi dan tsunami sering terjadi.

Kondisi tektonik Selat Sunda sebenarnya termasuk labil karena seolah menjadi 'engsel' antara Pulau Jawa dan Sumatra yang terus bergerak ke arah timur. Struktur graben (hasil dari patahan pada kulit bumi yang mengalami depresi dan terletak di antara dua bagian yang lebih tinggi) telah terbentuk karena adanya peregangan (stretching) yang tentunya dapat memicu terjadinya gempa tektonik dan longsoran bawah laut.

Keberadaan Gunung Anak Krakatau yang kini sangat aktif di Selat Sunda juga sangat berpotensi terjadi erupsi seperti yang sedang terjadi saat ini. Berdasarkan fakta tersebut di atas, potensi ancaman bencana yang mungkin terjadi di Selat Sunda ialah gempa bumi, tsunami, dan longsoran.

Wilayah Selat Sunda tercatat sudah beberapa kali terjadi tsunami. Catatan sejarah menunjukkan Selat Sunda merupakan kawasan yang paling sering terjadi tsunami.

Tsunami akibat gempa pernah terjadi pada 1722, 1852, dan 1958. Sementara itu, tsunami akibat erupsi Krakatau terjadi pada 416, 1883, dan 1928. Tsunami yang dipicu aktivitas longsoran terjadi pada 1851, 1883, dan 1889.

Setelah erupsi pada 1883, Krakatau kembali erupsi pada 1884 yang menyebabkan tsunami. Catatan mengenai dugaan adanya tsunami juga terjadi pada 1851, 1883, dan 1889.

Catatan tsunami pasca-1900-an juga ada, seperti tsunami Selat Sunda pada 26 Maret 1928 akibat erupsi Krakatau, dan tsunami pada 22 April 1958 akibat gempa kuat.

Berdasarkan catatan tersebut di atas, tampak bahwa Selat Sunda sudah mengalami peristiwa tsunami lebih dari sembilan kali. Catatan ini kiranya cukup membuktikan bahwa Selat Sunda memang kawasan yang sangat rawan tsunami.

 

Akibat longsor

Hari Sabtu malam sekitar pukul 21.30 WIB, di Selat Sunda terjadi peristiwa 'tsunami senyap'. Disebut 'tsunami senyap' karena BMKG tidak mencatat gempa kuat sebelum tsunami terjadi. Masyarakat juga tidak merasakan adanya guncangan gempa sebelum terjadi tsunami sehingga tsunami itu dipastikan tidak dipicu peristiwa gempa bumi tektonik.

Tsunami Selat Sunda dilaporkan menimbulkan korban jiwa ratusan orang meninggal dunia dan merusak banyak bangunan rumah serta infrastruktur. Peristiwa itu telah menambah panjang daftar bencana tsunami yang pernah terjadi di Selat Sunda.

Satu hal yang menarik, sebelum tsunami terjadi, sensor gempa Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Cigeulis sempat mencatat aktivitas seismik yang 'lemah' pada pukul 20.56 WIB. Hasil analisis menggunakan low pass filter menunjukkan bahwa aktivitas seismik ini termasuk tipikal catatan longsoran. Penentuan parameter menunjukkan adanya aktivitas longsoran dengan magnitudo 3,4 yang terjadi di Gunung Anak Krakatau.

Bukti lain yang mendukung adanya peristiwa longsoran lereng Gunung Anak Krakatau sebagai pemicu tsunami ditunjukkan sebagian lereng gunung hilang yang diduga longsor ke laut. Sementara itu, pemodelan inversi waktu tiba tsunami (back propagation) pada 4 tide gauge juga membuktikan bahwa sumber tsunami berasal dari suatu tempat di sebelah selatan Gunung Anak Krakatau.

Berdasarkan beberapa fakta tersebut di atas tampak bahwa tsunami Selat Sunda tidak disebabkan aktivitas gempa bumi tektonik, tetapi akibat aktivitas longsoran lereng (flank collapse) dari Gunung Anak Krakatau.

Di wilayah Indonesia sebenarnya pernah terjadi musibah serupa seperti halnya tsunami Selat Sunda yang dipicu longsoran lereng (flank collapse) Gunung Anak Krakatau saat ini. Tsunami Lomblen Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terjadi pada 18 Juli 1979 juga dipicu peristiwa longsoran lereng, tetapi bukan lereng gunung berapi, melainkan lereng pulau di seberang.

Berdasarkan laporan masyarakat setempat, beberapa saat sebelum terjadinya tsunami tidak terasakan adanya guncangan gempa bumi. Catatan seismogram Stasiun Geofisika BMKG Kupang saat itu juga tidak menunjukkan adanya aktivitas gempa tektonik di Nusa Tenggara Timur.

Tsunami juga tidak disebabkan aktivitas erupsi gunung api bawah laut. Laporan dari instansi terkait menunjukkan bahwa saat itu memang tidak terdapat aktivitas erupsi gunung api di sekitar Pulau Lomblen.

Menurut Lassa (2009), tsunami Lomblen disebabkan peristiwa longsoran gunung api. Dalam laporannya, Hadian (1979) menyatakan bahwa tsunami Lomblen dipicu longsoran tebing pada sisi utara di Gunung Werung. Material longsoran tebing dalam volume sangat besar runtuh dan masuk ke laut hingga membangkitkan tsunami dahsyat. Dilaporkan Elifas (1979), daerah yang mengalami bencana tsunami tersebut lebih kurang 50 kilometer sepanjang Teluk Labala di bagian barat hingga Teluk Waiteba di bagian timur.

Brune dkk (2010) melaporkan gelombang tsunami setinggi 7 hingga 9 meter akibat longsoran itu menerjang kawasan daerah Lembata di Pulau Lomblen hingga sejauh 1.500 meter dari pantai. Tsunami menimbulkan kerusakan dan korban jiwa sangat besar.

Menurut laporan, dampak tsunami ini tercatat sebanyak 539 orang meninggal, sementara sebanyak 700 orang hilang dari 4 desa. International Herald Tribune 23 Juli 1979 melaporkan bahwa sebanyak 700 orang meninggal di 4 desa. Laporan International Herald Tribune sehari kemudian direvisi mengikuti keterangan Gubernur Ben Mboi menjadi 539 meninggal dan 364 hilang (Jeffery, 1981).

Tantangan

Di dunia ini, peristiwa tsunami yang dipicu aktivitas longsoran sangat jarang dan sangat langka. Dari seluruh data peristiwa tsunami di dunia, tsunami yang disebabkan longsoran hanya sebesar 3% dan yang disebabkan oleh erupsi gunung api hanya sebesar 5%. Secara statistik jenis tsunami ini jumlahnya hanya sedikit.

Karena itu, dapat dibayangkan bahwa ternyata lebih dari 80% peristiwa tsunami yang terjadi disebabkan aktivitas gempa bumi tektonik. Wajar jika pemerintah di berbagai negara selama ini memfokuskan pada pembangunan sistem peringatan dini tsunami yang disebabkan gempa tektonik yang jauh lebih sering kejadiannya.

Peristiwa tsunami akibat longsoran dan erupsi gunung api hingga saat ini secara operasional memang belum ada sistem peringatan dininya meski beberapa negara sudah mulai melakukan kajiannya.

Jadi, wajar jika pemerintah selama ini memfokuskan pada pembangunan sistem peringatan dini tsunami yang pemicunya ialah aktivitas gempa tektonik yang kejadianya jauh lebih sering. Itu dapat dipahami karena secara statistik peluang kejadian gempa tektonik sangat tinggi sehingga perlu mendapatkan perhatian utama.

Aktivitas gempa bumi di wilayah Indonesia memang sangat aktif. Dalam 1 tahun saja terjadi gempa bumi tektonik dalam berbagai magnitudo dan kedalaman sebanyak sekitar 5.000-6.000 kali. Dalam setiap 2 tahun terjadi 1 kali gempa bumi tektonik yang berpotensi tsunami.

Kita merasa sangat bersedih karena tsunami akibat longsoran yang merupakan peristiwa alam sangat langka dan jarang ini justru malah terjadi 2 kali di Indonesia dalam rentang waktu 3 bulan baru-baru ini, yaitu tsunami pada 28 September 2018 di Palu dan tsunami 22 Desember 2018 di Selat Sunda.

 

Perlu kolaborasi

Kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa karena memang tsunami yang dipicu peristiwa longsoran hingga saat ini belum ada sistem peringatan dininya. Jika peristiwa ini terjadi di negara maju sekalipun, belum tentu juga mampu memberikan peringatan dini tsunami.

Sebagai contoh pada 17 Juni 2017 di Greenland, sebuah pulau di Samudra Atlantik utara di bawah Denmark, terjadi gempa kecil dengan magnitudo 4,1 yang memicu longsor dan membangkitkan tsunami. Tsunami itu kualifikasinya megatsunami sebab initial wave-nya melampaui 100 meter. Tsunami senyap ini menewaskan 4 orang dan merusak permukiman di Pantai Nuugaatsiaq tanpa ada peringatan dini sebelumnya.

Hingga saat ini memang belum ada sistem peringatan dini tsunami yang berhasil untuk kasus tsunami yang dipicu kejadian erupsi gunung api dan longsoran. Di samping memang kejadiannya sangat langka, sulit untuk mengenali prekursornya dan sulit untuk menentukan parameternya.

Peritiwa tsunami Selat Sunda yang terjadi beberapa hari lalu dan tsunami Lomblen yang terjadi pada 18 Juli 1979 telah menyadarkan kita akan pentingnya membangun sistem peringatan dini tsunami yang dipicu longsoran. Ini perupakan tantangan bagi kita, para ahli teknologi dan ahli kebumian kita.

Untuk menjawab tantangan itu, perlu ada kolaborasi kerja sama yang kuat antarlembaga dan kementerian yang terkait untuk merumuskan konsep, membangun teknologi, dan merancang operasionalnya. Sama seperti saat dulu mereka membangun sistem peringatan dini tsunami Indonesia (Indonesia tsunami early warning system/Ina-TEWS) yang kini sudah mapan beroperasi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya