Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PEREMPUAN itu bukan makhluk gila, meskipun setiap menjelang senja bercakap-cakap dengan aneka anggrek di taman mungil di samping salah satu kamar di Wisma Lansia Harapan Asri, Banyumanik, Semarang. "Kau harus tumbuh indah. Jangan pernah mengeluh. Jangan merasa tak diperhatikan siapa pun. Ibu selalu mencintaimu. Ibu selalu merawatmu.”
Dia tentu saja bukan perempuan bunting, tokoh yang dengan bebas bercanda dengan mawar, melati, sedap malam, anggrek, kemboja, dan kenanga, dalam kisah sangat fantastis karya sastrawan Danarto, Kecubung Pengasihan. Dia Dini, perempuan yang harus merayakan ulang tahun empat tahun sekali, karena lahir pada 29 Februari 1936.
Mungkin banyak orang menganggap perempuan bercakap-cakap dengan pohon, kucing, atau lumba-lumba bukanlah makhluk luar biasa. Akan tetapi, tunggu dulu. Selain bercakap-cakap dengan anggrek, kucing, dan makhluk lain, Dini –yang lebih dikenal dengan sebutan Nh. Dini ialah sosok yang sangat ingin mengatur dunia, juga mengatur hal-hal yang diinginkan setelah kematian datang.
Kata Dini pada ulang tahun ke-80, "Kalau aku mati nanti, aku ingin dikremasi. Aku tidak ingin merepotkan." Karena itulah, tidak perlu heran jika setelah berpisah dengan Yves Coffin, seorang diplomat Prancis, dan dikaruniai sepasang anak bernama Marie Clairie Lintang (yang kini bermukim di Kanada dan sedang mengajar di Bandung Independent School) dan Pierre Louis Padang (sutradara Despicable Me, pencipta karakter The Minions), Dini memilih hidup sendiri. Membiayai hidup sendiri. Apa-apa sendiri.
Anak-anaknya tidak mau membiayai hidup sang ibu? Bukan itu. Kenyataannya, Dini memang tidak ingin merepotkan siapa pun. Dini yang sangat percaya pada ungkapan Chairil Anwar, hidup berlangsung antara buritan dan kemudi, akhirnya antara lain memilih tinggal di Graha Wredha Mulya, Sendowo (Yogyakarta), Wisma Lansia Langen Werdhasih, Lerep (kaki Gunung Ungaran), dan terakhir di Wisma Lansia Harapan Asri, Banyumanik, Semarang.
"Aku kok yakin, aku akan menghabiskan sisa hidupku yang tidak lama lagi di Semarang ya," kata dia, suatu hari. Dini mengatakan semua itu dalam nada yang sangat datar. Tidak ada kesedihan. Tidak ada konflik dengan kematian. Ini menunjukkan betapa Dini sejak lama tak berseteru dengan kematian. Kematian hanyalah peristiwa kecil yang harus dirayakan. Dirayakan dengan kremasi dirinya pada Rabu (6/12) setelah wafat akibat kecelakaan di tol pada Selasa (5/12).
Multidimensi
Sampai di sini, apakah kita sudah bisa memahami siapa perempuan yang saat SMA sudah menulis kumpulan cerita pendek Dua Dunia ini? Apakah dia bisa disimpulkan sebagai novelis sok kontroversial? Tidak bisa. Pada perkembangan berikut, Dini ternyata tidak hanya hidup sebagai novelis, penulis cerpen, dan penulis autobiografi (antara lain Amir Hamzah, Pangeran dari Seberang). Dia rupa-rupanya juga menganggit puisi atau prosa berirama dan disiarkan di RRI Semarang, menulis cerita kenangan (biografi kreatif) semacam Sebuah Lorong di Kotaku, esai kebudayaan, dan menerjemahkan karya sastra Prancis ke bahasa Indonesia semacam La Peste (Albert Camus) menjadi Sampar dan Vingt Mille Lieues sous de le Mers (Jules Verne) menjadi 2.000 Mil di Bawah Lautan.
Itu masih belum istimewa. Yang istimewa, dalam sepuluh tahun terakhir sebelum meninggal, Dini juga aktif melukis. "Gambar-gambar saya muncul karena ada kebutuhan melakukan relaksasi setelah menulis novel, cerpen, atau cerita kenangan," kata Nh Dini.
Salahkah Dini berelaksasi? Relaksasi dalam berkesenian mungkin justru lebih dekat dengan pemberian ruang kepada suara lain (the other voice) agar bebas dari kungkungan. Dengan kata lain, relaksasi ialah pelampiasan kebebasan dalam ruang kreativitas yang seakan-akan tiada aturan, seakan-akan bisa melakukan apa pun, yang berakhir dengan napas lepas lega setelah sang pelukis bilang, "Nggambar ah.”
Tema-tema yang muncul dalam lukisan juga tidak turun dari langit begitu saja. Aneka tema itu bisa saja berasal dari gunung-gunung berkabut yang dia lihat di Tiongkok, kuda-kuda yang sedang minum air di Kamboja, anggrek di Bali, atau lembah sunyi di kawasan yang asing dan jauh. Dengan kata lain, semua yang muncul dalam lukisan Dini tidak berasal dari ruang kosong, tak dari sukma belaka. Ada riset tersembunyi. Ada suara-suara dari masa lalu yang tak tertahankan untuk hadir. Ada sesuatu yang oleh penyair Octavio Paz disebut sebagai the other voice.
Kurang dihargai
Sampai di titik ini, apakah kita masih menganggap penulis novel Sekayu yang memiliki seribu sisi keindahan ini sebagai makhluk biasa? Setelah dia menulis novel perdana Hati yang Damai hingga seri cerita kenangan Gunung Ungaran, apakah kita masih akan terus mengangap dia hanyalah perempuan keras kepala yang asosial dan berusaha menyingkir dari kerumunan? Setelah dia memperoleh Shoutheast Asia Writers Award (2003) dan Penghargaan Ahmad Bakrie pada 2011, apakah kita masih juga nyinyir menganggap anggota Akademi Jakarta ini hanya sebagai pelengkap dalam kesusastraan Indonesia? Tentu tidak.
Akan tetapi, kenyataannya, negeri ini tak menghargai pengarang La Barka dan Namaku Hiroko ini sebagai emas. Dini terkesan menjadi nonsens. Pemerintah (juga kita) tak hadir dalam kehidupan dan kematian tokoh yang (sangat) besar ini. Dini dibiarkan sendirian. Dibiarkan. Dibiarkan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved