Menatap Modal Perbankan Indonesia

Raja Suhud, Wartawan Media Indonesia
21/11/2018 21:17
Menatap Modal  Perbankan Indonesia
()

PERBANKAN Indonesia bukanlah yang terbesar di kawasan Asia Tenggara meskipun Indonesia merupakan penyumbang  terbesar dari gross domestic product (GDP)  kawasan.
Aset yang dimiliki bank terbesar di negeri ini  tidak sampai setengah dari aset bank terbesar di negeri jiran Malaysia.

Meski demikian, perbankan Indonesia bisa tetap bertepuk tangan. Betapa tidak, bila dilihat dari perbandingan harga saham dengan nilai buku (price to book value/PBV), harga perbankan di Indonesia tergolong premium. Bahkan, harga bank termahal berdasarkan PBV dipegang oleh Bank Central Asia (BCA) yang selalu berada dalam rentang 3,5% hingga 4% PBV. Beda jauh dengan bank milik negara tetangga yang kebanyakan berkisar 1,5% hingga 2% dari PBV.

Tentu saja ada gula yang selalu menarik semut (investor) untuk selalu merubung pada bank di Indonesia. Pemanis itu terletakpada nett interest margin (NIM) perbankan Indonesia yang sangat besar yakni mencapai 4,89% pada 2017. Bandingkan dengan Filipina 3,3%, Thailand 2,6%, Malaysia 2,3%, dan Singapura yang hanya 1,5%.

Data historis menunjukkan pertumbuhan harga saham perbankan di Indonesia mencapai belasan kali lipat dalam 14 tahun terakhir. Bandingkan dengan perbankan Amerika Serikat yang sahamnya tidak bergerak ke mana-mana dalam periode yang sama. Atau bahkan saham perbankan Eropa yang malah nyungsep tinggal setengahnya dari posisi di 2004.
Oleh karena itu, dapat dimaklumi bahwa investor global memiliki perhatian besar terhadap kepemilikan saham di perbankan Indonesia. Baik asing maupun lokal terus menambah kepemilikan karena keuntungan selalu menyertai investasi mereka.

Yang menjadi tantangan saat ini ialah bagaimana memanfaatkan animo tinggi dari investor terhadap perbankan Indonesia. Apalagi bisnis perbankan adalah bisnis yang butuh modal besar. Modal dibutuhkan untuk menyerap risiko yang selalu mengintai perbankan. Survive-tidaknya perbankan ke depan tidak lepas dari kekuatan modal yang mendukungnya, dan modal tidak kenal  dikotomi lokal dan asing.
Istilah size does matter benar-benar berlaku untuk di perbankan. Sebagai contoh, pada 2002 bank langsung terguncang saat ada kredit macet Rp1,7 triliun. Tapi kini berita ada kredit macet Rp1 triliun hingga Rp2 triliun di perbankan tidak sampai membuat harga sahamnya melorot tajam.

Memandang modal perbankan mirip seperti pemimpin Tiongkok Deng Xiaoping bicara soal kucing, “Black cat or white cat, it’s good that catches the mice.”
Jadi, modal itu baik asing maupun lokal, yang penting berkontribusi bagi perekonomian negara ini. (E-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya