Meneguhkan Pendidikan Berkemajuan

Benni Setiawan Dosen Ilmu Komunikasi FIS dan P-MKU UNY, Peneliti Maarif Institute, Anggota Majelis Pendidikan Kader Pimpinan Pusat Muhammadiyah
19/11/2018 06:30
Meneguhkan Pendidikan Berkemajuan
(MI/Seno)

TA'AWUN untuk negeri menjadi tema milad ke-106 Muhammadiyah tahun ini. Organisasi massa terbesar di RI ini kembali meneguhkan fungsi dan perannya dalam membangun keindonesiaan. Muhammadiyah tetap berkomitmen membantu (tolong-menolong, ta'awun) negeri Indonesia menuju keadilan dan kesejahteraan.

Komitmen kuat itu tergambar sejak Kiai Haji Ahmad Dahlan mendirikan organisasi ini di Yogyakarta pada 18 November 1912. Kiai Dahlan menawarkan formula teologi amal saleh berdasar surat Al-Maun dan Al-Ashr dalam mengurai problem zaman saat itu.

Teologi amal saleh--kepekaan terhadap realitas sosial--menjadi mantra Kiai Dahlan membangun Muhammadiyah. Berbekal spirit itulah, kemudian Kiai Dahlan membangun basis pelayanan sosial dengan Roemah Miskin, pelayanan kesehatan dengan Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO), dan basis pencerdasan kehidupan bangsa dengan membangun pendidikan (sekolah). Pendidikan menjadi kekuatan Muhammadiyah hingga saat ini.

Pendidikan Muhammadiyah telah berjejaring mulai tingkat dasar hingga pendidikan tinggi. Tercatat pada 2015, Muhammadiyah telah memiliki 4.623 taman kanak-kanak/bustanul athfal, 2.604 SD/MI, 1.772 SMP/MTS, 1.143 SMA/MA/SMK, 67 pondok pesantren (ponpes), dan 177 perguruan tinggi (PT). Lembaga pendidikan itu tersebar dari Sabang hingga Merauke. Lembaga itu dikelola mulai Pimpinan Ranting Muhammadiyah hingga Pimpinan Wilayah Muhammadiyah.

Pendidikan Muhammadiyah terus berkembang. Muhammadiyah telah merintis Pusat Pendidikan Muhammadiyah di Melbourne Australia dan PT Muhammadiyah di Malaysia. Dua hal itu, bukti Muhammadiyah terus bergerak menyapa umat dan berkemajuan. Pertanyaan yang muncul kemudian, bagaimana sekolah Muhammadiyah bisa berjejaring dan kuat hingga saat ini? Tentu semua itu butuh kerja keras dan spirit pendidikan Muhammadiyah yang telah dirintis Kiai Dahlan.

 

Pilar

Dalam proses kreatif itu, Kiai Dahlan menegaskan, setidaknya ada tiga pilar pendidikan berkemajuan. Menurut Mohamad Ali (2017), ketiga pilar itu tergambar dalam pernyataan Kiai Dahlan yang terangkum dalam kecerdasan akal, pengalaman, dan berkemajuan.

Kecerdasan akal merupakan hal yang utama dalam pendidikan berkemajuan. Pendidikan dengan bekal ilmu pengetahuan berfungsi membesarkan dan menyehatkan akal. Kiai Dahlan sangat menghargai kecerdasan karena ia merupakan alat manusia untuk memajukan kehidupan.

Pengalaman dalam pendidikan menjadi sebuah keniscayaan. Hal itu dikarenakan praktik pendidikan harus berangkat dari pengalaman anak (peserta didik). Peserta didik, mengalami langsung prosesnya, sehingga pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas amal/tindakan ketika menapaki pengaman baru.

Pendidikan minus pengalaman, tidak bisa lagi disebut sebagai pendidikan. Kiai Dahlan selalu menekankan tidak berpindah ke teori baru sebelum teori sebelumnya diamalkan oleh murid-muridnya. Melalui hal itu terjadi hubungan organis antara pendidikan dan pengamalan. Sebuah sinergi yang semakin menguatkan bangunan pendidikan.

Pilar kemajuan menjadi penyokong berikutnya. Pendidikan harus berorientasi pada kemajuan, pada pertumbuhan ke arah yang lebih baik dan manusiawi. Kecerdasan akal dan pola-pola pengalaman yang diperoleh dari proses pendidikan itu terus ditumbuhkembangkan melalui interaksi dalam kehidupan masyarakat (Mohamad Ali, 2017).

Makna kemajuan sendiri pada dasarnya sudah lama ada dalam perbincangan Muhammadiyah. Statuten 1912 menyebutkan, tujuan Muhammadiyah yang menjadi dasar tujuan pendidikan Muhammadiyah ialah '...memajoekan hal agama kepada anggauta-anggautanja'.

Kemajuan dan berkemajuan seakan lekat dengan Muhammadiyah. Berkemajuan berarti membawa ke arah keadaban. Persyarikatan Muhammadiyah ingin memajukan kehidupan bangsa, salah satunya dengan pendidikan.

Melalui proses pendidikan yang tangguh itulah Muhammadiyah telah melahirkan generasi hebat. Tidak mengherankan jika Kuntowijoyo (1985) menyatakan, tanpa Muhammadiyah, tidak dapat dibayangkan adanya kelompok terpelajar yang sanggup hidup di tengah-tengah peradaban modern tanpa terpecah kepribadian dan imannya.

 

Homo homini socius

Pendidikan Muhammadiyah mendorong seseorang memiliki kecerdasan akal. Kecerdasan akal membimbing manusia memiliki pribadi utuh. Kecerdasan akal membebaskan manusia dari kungkungan primordialisme. Kecerdasan akal mengarahkan kehidupan manusia menuju homo homini socius.

Praktik kehidupan homo homini socius semakin bermakna saat teori tidak sekadar dihafal peserta didik. Teori perlu dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari. Kiai Dahlan mengajarkan bahwa pengajaran surat Al-Ashr (hanya tiga ayat) diulang hingga delapan bulan dan Al-Maun (tujuh ayat) diajarkan berulang sampai tiga bulan.

Tentu Kiai Dahlan punya maksud agar murid-muridnya tidak sekadar hafal dan paham dua surat itu. Namun, Kiai Dahlan mendorong murid-muridnya untuk mempraktikkan apa yang ada di surat Al-Ashr dan Al-Maun.

Dalam konteks surat Al-Maun, misalnya, lahirnya kegiatan aksi sosial seperti Roemah Miskin. Sebuah kelompok umat yang mengorganisasi kaum miskin kota kala itu. Roemah Miskin menjadi tonggak bagi pengalaman penyantunan terhadap fakir miskin. Demikian pula dengan spirit Al-Ashr, lahirlah gerakan amal saleh berupa sekolah dan rumah sakit.

Pendidikan hari ini selayaknya berorientasi pada proses pemahaman yang holistis. Artinya, peserta didik tidak hanya belajar teori, tetapi juga perlu mempraktikkan teori yang ada. Jika pendidikan di RI mampu seperti itu, akan lahir semakin banyak teori dari model pengembangan dan praktik yang dilakukan peserta didik.

Peserta didik pun akan semakin tertantang terus belajar. Pasalnya, mereka mempunyai keluasan mengembangkan apa yang mereka pahami dalam teks. Mereka pun menjadi pribadi mandiri. Pasalnya, mereka belajar dari praktik nyata yang dipahami dari berbagai teori yang muncul.

Saat kecerdasan akal dan pembiasan pengalaman dalam pendidikan berjalan, pendidikan RI akan menemukan spirit berkemajuan. Pendidikan Indonesia akan mampu melampaui tradisi pendidikan Barat. Kiblat pendidikan pun tidak akan menjadi dominasi Barat, tetapi lahir dari pemikiran dan kerja nyata ilmuwan Tanah Air.

Pada akhirnya, spirit pendidikan berkemajuan telah lama ada dalam rahim Muhammadiyah. Muhammadiyah telah dan terus berkhidmat untuk kemajuan bangsa dan negara. Saatnya kembali menoleh dan menengok khazanah pemikiran Nusantara untuk memajukan kebangsaan dan kenegaraan RI. Selamat milad ke-106 Muhammadiyah. Semoga terus menyinari negeri.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya