Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SETELAH Indonesia merdeka, kedaulatan terancam. Belanda membonceng sekutu, datang lagi ke Indonesia. Di Jakarta, ketegangan terjadi di mana-mana. Pada September dan Desember 1945, ada 8.000 rakyat yang telah terbunuh untuk mempertahankan kemerdekaan. Saat pergi ke Surabaya, Soekarno menyaksikan hal-hal mengerikan; “Kota itu menjadi kota neraka. Mayat bergelimpangan di mana-mana. Tubuh-tubuh yang telah dipenggal dan dicincang bertumpuk-tumpuk, yang satu di atas yang lain,” kisahnya dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.
Di Surabaya, Soekarno meminta rakyat untuk menghentikan perang. Ia mengupayakan perundingan dengan pihak sekutu dan Belanda untuk melaksanakan gencatan senjata. Namun, peperangan besar pada 10 November 1945 tidak dapat dielakkan. “10 November dimulailah serangan balasan kami. Di jalan-jalan, perempuan dan anak-anak dibom, orang-orang tua ditembaki dari udara. Jalan keluar tertutup oleh timbunan mayat yang tidak bisa diangkat karena hujan bom terus-menerus tak henti-hentinya selama berhari-hari,” kisahnya.
Itulah sepenggal kisah Soekarno tentang perang yang bersifat konfrontatif, atau terang-terangan; senjata lawan senjata, militer lawan militer. 10 November 1945 pun menjadi hari yang tak terlupakan, menjadi bukti bahwa rakyat serius dengan slogan ‘merdeka atau mati!’ yang dulu sering dipekikkan, juga oleh Bung Tomo, pahlawan dari Surabaya.
Tidak melulu konfrontatif
Perang ialah salah satu jalan agar kedaulatan negara dapat terwujud atau tetap dipertahankan. Jalan lain yang agak jauh dari gegap gempita ialah pendidikan. Jalan inilah yang ditempuh Soewardi Soeryaningrat yang lebih dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara. Ia seorang yang cakap menulis, aktif di berbagai organisasi pemuda. Bersama Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesoemo, ia mendirikan Indische Partij. Salah satu tulisan Ki Hajar Dewantara yang ‘memerahkan telinga’ orang-orang Belanda berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda).
Tulisan itu dimuat surat kabar De Express pada 13 Juni 1913. Karena tulisan itu, ia hendak dibuang ke Pulau Bangka. Bahkan, kedua rekannya juga diancam akan dibuang. Saat-saat itulah kesehatian terbentuk di antara ketiganya untuk menjalin diplomasi agar dibuang ke negeri Belanda saja. Diplomasi berjalan mulus, di negeri Belanda malah Ki Hajar Dewantara berkesempatan belajar banyak soal pendidikan.
Dengan bekal berbagai ilmu pendidikan yang didapatnya dari Belanda, di kemudian hari ia mendirikan Taman Siswa, sekolah yang memfokuskan pendidikan dan pengajaran untuk menggugah kesadaran kebangsaan para peserta didiknya. Ia bahkan sempat mendapat Europeesche Akte, sebuah akta atau sertifikat mengajar yang diakui Belanda.
Di tengah-tengah situasi yang bergejolak akibat penindasan dan penjajahan, banyak pejuang menempuh cara-cara yang konfrontatif menentang penjajah. Namun, Ki Hajar Dewantara dan rekan-rekannya meyakini bahwa pendidikan merupakan salah satu unsur yang memainkan peran penting dalam meraih kemerdekaan bangsa Indonesia.
Perjuangan masa kini
Bung Tomo dan para tentara berperang dengan mengangkat senjata. Ki Hajar Dewantara berjuang dengan cara diplomatis agar masyarakat dapat mengenyam pendidikan. Lalu, semangat kepahlawanan apa yang mesti dimiliki guru pada masa kini, saat Indonesia sudah merdeka dan sekolah dibangun di mana-mana?
Bila dulu ancaman dari luar, yakni penjajah, membuat para pahlawan memekik ‘merdeka atau mati!’ lalu mengangkat senjata, saat ini para guru perlu memikirkan cara untuk membuat slogan ‘NKRI harga mati!’ tak sekadar slogan. Nasionalisme di bangsa ini terancam dengan banyaknya isu yang berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.
Salah satu isu yang belakangan mengemuka ialah toleransi antarumat beragama. Pada tahun-tahun politik (2018-2019), isu-isu yang berhubungan dengan identitas, seperti agama dan suku, selalu muncul. Menanggapi isu-isu demikian, bagaimana reaksi atau sikap guru? Guru perlu tampil menyejukkan dalam menyodorkan berbagai wacana yang dapat memantik konflik horizontal. Guru mestinya menjauhkan sikap provokatif dalam mendidik dan mengajar muridnya, tetapi mengajak muridnya berpikir jernih dan multidimensional.
Baru-baru ini Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah, menunjukkan data, sebanyak 57% guru memiliki opini intoleran. Tentu data ini perlu menjadi perhatian bersama. Pengawasan terhadap hal-hal yang diajarkan guru-guru di sekolah, terutama dalam mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan dan agama, perlu dilakukan, agar guru tidak keluar jalur dan malah menjadi corong politik dan kepentingan tertentu.
Di tahun politik, narasi yang berpusar pada kebencian sering dimanfaatkan para politisi untuk menjatuhkan lawan dan meraih dukungan. Padahal, dukungan yang diraih dengan cara-cara demikian sifatnya semu dan sementara. Hiruk pikuk rakyat menjelang pilpres tidak serta-merta melahirkan pemimpin berkualitas.
Pemimpin lahir dan dibentuk oleh pengalaman, pengetahuan, dan kecakapannya yang sebagian besar rekam jejaknya bisa dilacak. Pada akhirnya, nanti, setelah hiruk pikuk berakhir, rakyat pun akan memahami bahwa yang esensial ialah bagaimana (calon) pemimpin merumuskan dan menerapkan berbagai program dan kebijakan atau mengambil tindakan yang tepat di saat genting.
Bagi guru, tugasnya yang esensial di tahun-tahun politik ini ialah menebar wacana yang reflektif, bukan provokasi yang reaktif. Guru juga mesti melahir-hadirkan pemikiran yang teduh, bukan suasana belajar yang riuh. Bila memahami tugas-tugas itu dengan baik, niscaya para murid jadi memiliki kedalaman berpikir, tidak mudah terjebak pada ajakan dan ajaran provokatif berbalut kebencian yang berpotensi memecah belah kerukunan. Lewat ajaran guru, mestinya murid jadi dapat memahami bahwa perbedaan itu tak terelakkan, tak mewarisi pemahaman bahwa kebenaran hanya dapat diperjuangkan secara radikal-intoleran.
Seseorang disebut sebagai pahlawan karena ia memperjuangkan sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan orang banyak atau masyarakat luas. Pahlawan tidak berjuang untuk dirinya sendiri, kepentingan-kepentingan golongan tertentu, atau malah agenda tersembunyi yang dapat mengancam keutuhan berbangsa dan bernegara.
Seorang guru pun dapat melanjutkan perjuangan para pahlawan, bahkan di masa kini menjadi pahlawan, ketika ia menjalankan tugas-tugas mengajar dan mendidiknya dengan semangat nasionalisme, dan merenungi (kembali) tujuan yang hakiki dari pendidikan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved