Titik Rentan Kampanye Damai

Lasarus Jehamat Dosen Sosiologi FISIP Undana Kupang
26/9/2018 04:30
Titik Rentan Kampanye Damai
(MI/Tiyok)

PEMILU 2019 memasuki babak baru. Sebuah fase krusial dan penting. Kampanye politik. Di fase ini, para calon dan tim melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk mendapatkan simpati publik pemilih. Tahap kampanye telah dimulai ketika penyelenggara bersama dua pasangan capres bersepakat melakukan kampanye damai. Monas (23/09) menjadi saksi deklarasi damai itu.

Frase ’kampanye damai’ menyiratkan kandungan optimisme bahwa politik ke depan harus menjadi sebuah perayaan. Sebuah pesta demokrasi yang benar-benar demokratis. Karena perayaan, muatannya kebahagiaan dan sukacita.

Di lapangan, dalam praktiknya, kampanye politik ternyata jauh dari unsur perdamaian. Dalam pandangan banyak orang, kontestasi politik adalah perang untuk merebut kekuasaan. Karena perang, semua kekuatan harus dipakai dan sedapat mungkin diberdaya menurut kemauan hati dan kehendak perut.

Jika itu yang terjadi, ’kampanye damai’ hanya manis di bibir. Kampanye damai akhirnya memberi sinyal kuat munculnya ketidakdamaian. Kampanye selalu berhiaskan konflik horisontal antarpendukung. Gugatan kritisnya, mengapa kampanye harus berakhir demikian tragis?
Gugatan seperti ini harus diangkat dan laik didiskusikan sebab kontestasi politik adalah ruang entitas politik mencari dan ingin menemukan pemimpin yang benar-benar kompeten memimpin sebuah daerah atau bahkan negara.

Mencari dan menemukan pemimpin tidak harus dengan cucuran keringat dan berlinangan air mata. Andaikan semua pihak memiliki pemahaman yang sama tentang politik, pesta demokrasi sejatinya menjadi sangat membumi. Kampanye menjadi wisata politik peserta pemilu dan masyarakat.

Tulisan ini ingin mengingatkan kita semua, bahwa politik itu bukan satu-satunya hal penting dalam hidup manusia. Politik hanyalah salah satu aspek dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Karena berhubungan dengan politik, kampanye damai tentu wajib disebut karena harus dilakukan peserta pemilu.

Berhubungan dengan itu, kekuasaan yang dicari dan direbut mereka yang ingin berkuasa itu bukanlah finalisasi dari cita-cita individu. Ketika harus menyebutkan bangsa dan negara, kekuasaan yang akan direbut dan diperjuangkan itu merupakan urusan banyak orang dan sifatnya temporer.

Moralitas politik
Dalam Truth, Politics, Morality: Pragmatism and Deliberation, Misak (2000) menyebutkan, ketika kebenaran tidak hanya dipahami secara konseptual, kebenaran tidak hanya bermain di level ide. Kebenaran harus dibuktikan. Kebenaran menjadi sebuah objektivitas jika kebenaran itu dipraktikkan di level empiri. Politik berhubungan dengan kegiatan persuasif secara rasional. Dalam praktiknya, politik merupakan sebuah upaya memengaruhi pihak lain.

Menurut Misak, politikus harus menempatkan kebenaran, politik dan moralitas dalam relasi yang jujur dan seimbang. Jika itu dilakukan dengan baik dan benar, cita-cita pembebasan sebagai semangat dasar pencerahan akan terwujud dan mudah dilihat. Masalahnya, demikian dikatakan Misak, politik modern jatuh dalam kubangan pragmatisme.

Oleh beberapa pihak, politik tidak lagi dipahami hanya sebagai alat, tetapi tujuan akhir. Akibatnya, cita-cita kesejahteraan bersama menjadi semakin jauh. Sulit diwujudkan. Hal itu disebabkan politik dipenuhi beban pragmatisme yang terlampau kuat.

Berhubungan dengan kampanye politik, Skewes (2007) dalam Message Control: How News is Made on the Presidential Campaign Trail menyebutkan esensi kampanye politik ialah penyampaian pesan politik dari politikus kepada konstituen. Dalam kampanye, yang paling utama ialah mengontrol pesan.

Soal utama politik modern, menurut Skewes, ialah saat elite tidak bisa mengontrol pesan dengan baik. Akibatnya pesan diproduksi individu dan kelompok seturut keinginan kelompoknya. Padahal, pesan yang dihasilkannya itu belum tentu benar ketika diuji di lapangan.
Kampanye hitam berada di kanal ini. Kampanye hitam adalah proses produksi pesan secara subjektif menurut keinginan produsen pesan.

Kampanye damai
Dua sebab munculnya gerakan kampanye damai sebagaimana dijelaskan di atas. Selain sebagai asa dan harapan, kampanye damai merupakan akumulasi pengalaman politik masa lampau yang cenderung tidak damai. Artinya, kampanye damai muncul karena pengalaman menunjukkan bahwa selama ini, kampanye selalu berujung pada ketidakdamaian.

Merujuk Misak, kampanye damai ialah fungsi dari bekerjanya kebenaran, kewajiban, dan moralitas politik. Kampanye damai ialah saat elite politik menjelaskan sebuah kebenaran objektif akan semua masalah. Di sana, subjektivitas sedapat mungkin dihindari agar tidak terjebak dalam kesalahan penilaian.

Yang disampaikan ke masyarakat ialah kebenaran objektif. Tujuannya agar publik bisa menilai dan menentukan pilihan kepada siapa dia harus memilih. Itulah kewajiban elite politik. Kewajiban politik harus didasarkan pada moralitas politik.  Dalam kerangka itu, kontrol pesan menjadi sesuatu yang penting dan urgent dalam kampanye. Sebagaimana disampaikan Skewes, soal besar politik modern, ketika elite tidak mampu mengontrol pesan politik.

Frasa mengontrol pesan harus diberi catatan. Berkaitan dengan politik, karena sifatnya publik, pesan itu harus disampaikan ke publik dengan mengabaikan manipulasi pesan. Distorsi pesan menjadi sebab lain munculnya kampanye negatif. Itulah yang disebut objektivitas pesan. Pesan itu harus sama antara yang melalui mulut di ruang kampanye dengan kenyataan real di lapangan. Kalau sudah menyimpang, kampanye berisikan pesan-pesan manipulatif dan negatif sifatnya. Konflik ialah ujung akhirnya.

Makna damai dalam kampanye damai adalah ketika kebenaran, kewajiban, dan moral politik diatur sedemikian rupa agar benar-benar menjunjung tinggi etika. Kedamaian itu kekal. Kekuasaan dan jabatan politik itu temporer sifatnya. Jangan sampai sesuatu yang sifatnya sementara mengalahkan hukum bersama dan kekal yaitu kedamaian.

Di ruang itu, kampanye damai memiliki titik rentan, ialah saat idealisme damai dibelokan dengan amat vulgar oleh semua peserta pemilu. Ketika peserta pemilu mulai menyebar hoaks, kebencian, isu, dan gosip murahan, secara sadar atau tidak, kampanye damai hanyalah bungkusan lain dari apa yang disebut kampanye hitam.

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya