Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KETEGANGAN kembali hadir di daratan Eropa, terutama setelah Rusia mengumumkan rencana latihan militer bersama dengan Tiongkok-Mongolia dalam skala besar. Tidak main–main, Sergei Shoigu sebagai Menteri Pertahanan Rusia menjelaskan Rusia akan mengerahkan 300 ribu personel militer, 900 tank, 1.000 pesawat udara, sampai 36 ribu peralatan militer.
Selain jumlah angkatan dan alutsista militer, jangkauan wilayah latihan militer nantinya lebih luas lagi, yaitu wilayah tengah dan timur Rusia. Berdasarkan data itu, ‘Negara Beruang Merah’ ini mengklaim, latihan yang dilaksanakan pada 11–15 September 2018 dengan nama Vostok-2018, yang merupakan latihan militer bersama terbesar setelah perang dingin. Skala latihan ini membuka celah bagi Tiongkok untuk menunjukkan kekuatannya dalam menandingi AS.
Rusia membentuk program militer baru selain Zapad yang merupakan latihan militer terbesar Rusia-Belarusia (barat Rusia) sejak perang dingin. Latihan yang dimulai di wilayah Lithuania-Belarusia tahun 1981 ini menjadi sangat penting bagi Rusia, wilayah Lithuania-Belarusia merupakan buffer zone dalam menahan NATO dari barat Belarusia (Polandia) masuk ke perbatasan barat Rusia.
Fakta ini menunjukkan, latihan bersama yang terus dilakukan pasca-Aneksasi Krimea oleh Rusia pada 2014 justru memberikan justifikasi efektifnya latihan ini dalam meningkatkan level kekuatan militer dan terus dilakukan sampai latihan yang terakhir pada 2017.
Potensi Tiongkok sebagai mitra strategis mulai dilirik Rusia tahun ini. Kehadiran 3.200 personel People’s Liberation Army disertai alutsista-alutsista tempur Tiongkok sebanyak 900 unit dalam latihan bersama ini merupakan bukti membaiknya hubungan Rusia-Tiongkok pasca-Perang dingin.
Apabila dilihat sejarahnya, kedua negara ini sempat berseteru di sepanjang perbatasan pada 1961. Kunjungan Presiden Gorbachev (Rusia) pada 1989 menjadi awal kedekatan kedua negara dengan paham komunis itu, tentunya dengan kesamaan visi, yaitu ancaman yang sama dari barat.
Ancaman barat terhadap Rusia setelah NATO mengumumkan bahwa Rusia memiliki level kekuatan militer yang lebih besar, maka NATO mengambil langkah memastikan kekuatan Rusia dapat tertandingi oleh NATO. Dengan demikian, NATO sebagai badan utama kekuatan barat sedang dihadapkan pada ujian dalam hubungan yang ‘memanas’ dengan Rusia di daratan Eropa.
Meski Rusia sudah mengundang atase-atase NATO untuk menghadiri Vostok-2018, namun indikasi bahwa latihan ini bertujuan menguatkan Krimea (2014) dan pendukung pro-Rusia di Ukraina Timur masih menjadi isu utama. Pecahnya konflik sampai perang di wilayah tengah Eropa memaksa NATO menyebarkan kekuatannya untuk menjaga stabilitas pengaruhnya dan menahan Rusia masuk lebih dalam lagi.
Sejak strategi Atlantic NATO 2016, NATO sudah mulai bergerak dalam penguatan dan penyebaran kekuatannya dengan orientasi ke negara-negara sekutunya di sepanjang perbatasan dengan Rusia mulai Estonia sampai Bulgaria.
Pengiriman tentara NATO secara besar–besaran pada 2017 ke Polandia yang merupakan penempatan kekuatan militer terbesar sejak perang dingin menjadi respons atas kegiatan militer Rusia di daratan Eropa. Persaingan antara NATO dan Rusia ternyata belum berhenti sampai situ, termasuk kawasan lain yang terindikasi adanya keterlibatan dua kekuatan itu.
Di wilayah Timur Tengah, rivalitas Rusia-NATO sudah mencapai puncaknya dalam bentuk proxy war. Intervensi Rusia terhadap rezim Bashar al-Assad dengan pengiriman kekuatan militer untuk yang pertama kali pada 2015 secara resmi ke Suriah yang dianggap diktator oleh negara–negara barat dibalas dengan dukungan terhadap pasukan Rebel dan kelompok sayap kiri yang berujung negara Suriah menjadi porak poranda.
Tuduhan senjata kimia dan pembunuhan warga sipil oleh Rusia sampai penguasaan sumber gas alam terbesar yang dialamatkan ke negara Barat jelas menggambarkan bagaimana kekuatan dan kehancuran apabila kedua kekuatan ini bertemu.
Stabilitas kawasan Eropa sangat ditentukan oleh relasi antara NATO-Rusia yang memainkan peran sebagai dua kekuatan utama. Keseriusan Rusia dalam membangun kekuatan globalnya sangat terlihat pascapemecatan 15 Jenderal Militer pada Kamis (30/8), atas tuduhan korupsi sampai tindakan yang tidak sesuai dengan keinginan Putin.
Bersamaan dengan kebijakan Putin sebelumnya, Rusia terus melakukan uji coba rudal jelajah di laut Okhotsk dalam rangka menyambut latihan militer terbesar pada September. Pemulihan pangkalan pelabuhan Tiksi di Arktik (timur Moskow) menjadi bukti Rusia terus menggunakan opsi militer dalam menjaga stabilitas kawasannya.
Segala potensi yang mampu dihasilkan dari latihan militer skala besar ini harus diantisipasi negara–negara di Eropa. Dominasi Rusia dengan Tiongkok sebagai mitra militer baru harus disadari sebagai upaya perluasan pengaruhnya. Terutama di wilayah perbatasan antara Rusia dan negara–negara di Eropa, mengingat kehadiran kelompok pro-Rusia yang sangat berperan menentukan stabilitas wilayah itu.
Memanasnya hubungan NATO-Rusia harus dilihat secara global, yaitu di kawasan lain kedua kekuatan itu tengah berlomba untuk menyebarkan pengaruhnya sehingga rivalitas ini tidak akan terlepas dari pengaruh kepentingan masing–masing kubu untuk menguasai sektor–sektor potensial negara lain demi kentungan sendiri.
Melalui Vostok-2018 disertai kebijakan setiap negara setelahnya, akan terlihat siapa yang menjadi ‘aktor-pragmatis’ sebagai ancaman dunia yang berupaya memecah persatuan negara dan kawasan lainnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved