Asian Games dan Pilpres

Asep Salahudin Staf Ahli Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Wakil Rektor Bidang Akademik IAILM Suryalaya Tasikmalaya
04/9/2018 07:00
Asian Games dan Pilpres
(MI/Tiyok)

ASIAN Games sudah berakhir. Yang mendapat medali senang tak alang kepalang, yang kalah tidak perlu menyesal, apalagi menebar tuduhan negatif tak karuan. Pilpres akan dilangsungkan pada 2019. Rakyat sebagai pemilik daulat senantiasa bermunajat semoga yang keluar sebagai pemenang ialah yang bisa berkhidmat untuk kepentingan khalayak. Menjadi gembala yang baik dicirikan dari kesediaan mengorbankan hidupnya bagi kelangsungan seluruh gembalanya.

Pilpres serupa permainan catur. Semua sudah terang aturannya. Langkah-langkahnya telah ditetapkan UU. Tentu bidak lebih banyak jumlahnya dan sesekali bahkan seringkali yang pertama dikorbankan. Mereka biasanya sangat berisik. Anggap saja sebagai suporter, toh sebuah pertandingan tanpa kehadiran mereka bukan hanya senyap, melainkan bikin para pemain tak bersemangat. Suporter pada titik tertentu difungsikan untuk memompa para kandidat agar mereka tetap dapat merawat harapan.

Coba tanyakan kepada setiap capres dan cawapres, pasti semuanya yakin menang. Bertanya kepada tim sukses keyakinan itu lebih berlipat lagi. Bagaimanapun tim sukses diciptakan Tuhan dilengkapi kromosom kemampuan meyakinkan massa dan menyuntikkan optimisme kepada paslon yang diusungnya bahwa masa depan lebih cerah, takhta sebentar lagi digenggam dan modal yang dikeluarkan akan lekas tergantikan. Tak ada tim sukses yang sejak awal sudah pesimistis. Malah kalau perlu berserikat dengan lembaga survei untuk menunjukkan bahwa sang calon terus mengalami tren kenaikan popularitas dan elektabilitas.

Pada saatnya hari H kertas suara dihitung dan paslonnya keluar sebagai pemenang, yang senang bukan hanya calon, para pemilih, malah mungkin tim sukses yang paling girang. Terbayang di pelupuk mata kebaikan demi kebaikan akan didistribusikan sang pemenang sebagai bentuk balas jasa atas usaha kerasnya siang dan malam.

Sang penguasa dipaksa terus mengaktifkan ingatan tentang jihadnya yang tak kenal lelah ketika menghimpun massa, menebar spanduk di alun-alun, persawahan, tiang listrik bahkan sampai jalan menuju kuburan. Balas jasa itu bisa berupa memenangkan tender, dikasih proyek, penyalur bansos (bantuan sosial), jadi komisaris, menteri, dsb.

Seandainya kalah? Tim sukses sudah menyiapkan sejuta alasan untuk mengargumentasikan asbabunnuzul kekalahan itu. Bahkan kalau perlu kembali menjalarkan semangat untuk maju lagi pada pemilu mendatang.

Dalam politik konon putus asa ialah dosa besar. Min akbaril kabair. Yang direbut itu bukan hanya kemenangan, melainkan juga kenangan.

Seandainya Tuhan menakdirkannya abadi sebagai pecundang, minimal dia dicatat dalam autobiografi yang dibikinnya sendiri sebagai mantan calon presiden yang tabah selalu maju dalam pemilihan.

 

Mencontoh Mahathir

Ketika Mahathir kembali menjadi Perdana Menteri dalam usia yang tak lagi muda, politik seakan mengorbitkan fajar optimisme kepada siapa pun bahwa hal yang selama ini dianggap mustahil menjadi kenyataan. Para politikus tua yang seharusnya gembira bermain bersama cucu-cucunya maju lagi ke muka bertempur ke gelanggang untuk menuntaskan rasa penasaran dan menyalurkan hasrat kuasanya yang tak pernah pudar.

Mahathir secara metaforis menjadi sebuah mikrofon yang menggemakan suara siasat paling purba: politik sebagai seni kemungkinan. Kemungkinan kalah dan menang atau kemungkinan kalah selamanya. Mahathir semakin memastikan apa yang menjadi perhatian Faucault bahwa jaringan kuasa (dan seks) menjadi titik labuh dan titik tuju fundamental yang mengendap dalam arus bawah sadar manusia yang terus bergelegak. Semua fana, yang kekal ialah nafsu berkuasa.

Politik menginjeksikan rasa penasaran abadi agar tak henti berupaya dengan mengoperasikan semua cara menggeser ketidakmungkinan menjadi kemungkinan sekaligus menawarkan mimpi bagi kawanan. Katanya menjadi semacam panggilan tanggung jawab untuk menggembalakan (atau digembalakan) domba-dombanya. Kesabaran menjadi penggembala (pasteurs) suara-suara warga yang dijanjikan akan diperjuangkannya menuju kehidupan yang beradab.

 

Olahraga

Asian Games kali ini beriringan dengan penetapan capres dan cawapres. Bagi saya, secara pribadi, ternyata lebih memikat menyimak atraksi para atlet ketimbang menyaksikan debat kedua tim sukses. Bahkan ketika diundang ke sebuah acara politik, ternyata yang dipercakapkan peserta ialah Jojo, Kevin, Defia, dan kawan-kawannya yang telah mempersembahkan medali emas. Mereka bisa berbusa-busa membicarakan kemahiran seorang Jojo dalam menipu lawan mainnya, tapi terbata-bata tatkala diminta bercerita program capres dan cawapres.

Olahraga tidak sekadar berurusan dengan tubuh, tetapi makna simboliknya menarasikan kejujuran, sportivitas, pemuliaan terhadap setiap keputusan wasit, hubungan antarsuporter yang karib, menerima kekalahan secara lapang, dan mensyukuri setiap kemenangan tanpa harus menyakiti psikologi lawan.

Olahraga telah melampaui tapal batas perilaku primitif: politisasi identitas. Olahraga mengajarkan pergerakan kebudayaan luhur dari aras 'prapolitik' menuju 'yang politik'. Perbedaan lebur dan semua datang ke stadion menyimak para atlet mempertontonkan seni olahraga mereka. Larut dalam pengalaman kemajemukan. Rasionalitas menemukan tempatnya yang tinggi dalam olahraga.

Asian Games yang berada di tahun politik menjadi counter culture justru atas limbo tindakan politik kita akhir-akhir ini yang berbanding terbalik dengan sportivitas dalam sepakbola. Selesai pertandingan, usai sudah pementasan dan antarsuporter tidak bersengketa bahkan keluar stadion beriringan. Tidak ada caci maki, saling merisak, terus-terusan nyinyir, apalagi bikin tagar tidak beradab. Mereka tetap memuliakan akal waras dan mempersiapkan semaksimal mungkin menghadapi pertandingan berikutnya.

Olahraga (dan politik) tak ada hubungannya dengan agama. Keduanya menempati ruang publik berbeda. Mengaitkan kemenangan dengan sistem kepercayaan dan asal-usul religiusitasnya, sama sesatnya dengan melemparkan isu purba 'partai Allah' vs 'partai setan', atau 'poros Mekah' dan 'poros Beijing' dalam ranah politik.

Olahraga (dan politik) sepenuhnya ialah ruang terbuka 'sekuler' dan siapa pun yang hendak maju sebagai pemain di samping mesti berlatih juga punya kecakapan teknis, kemampuan mengartikulasikan gagasan secara diskursif delibratif. Bermainlah secara fair, indah, sungguh-sungguh agar suporter bahagia dan tidak kapok membeli karcis masuk stadion. Percayalah sepenuh hati kepada wasit, jangan belum apa-apa sudah membuat daftar alasan kekalahan.

Satu lagi yang tak kalah pentingnya, para atlet jangan pernah memprovokasi suporter dengan pelintiran kebencian yang akan membuat suporter semakin terbelah menjadi 'kecebong' dan 'kampret'.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya