Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PAPUA ialah salah satu pulau terbesar di bagian timur Indonesia, yang kaya akan mineral, emas, tembaga, logam tanah jarang, cadangan gas alam, dan keanekaragaman hayati. Namun, sumber daya alamnya belum sepenuhnya dieksplorasi dan dieksploitasi secara optimal karena kesulitan transportasi darat terutama di kabupaten di daerah pegunungan dan mahalnya harga bahan bakar.
Masalah kemiskinan energi (energy poverty) di Papua dapat diklasifikasikan menjadi dua konsumsi besar: bahan bakar minyak (BBM) dan listrik. Kami mengusulkan untuk menyelesaikan kemiskinan energi di Papua dengan menggunakan dua sumber daya yang berlimpah tersedia di Papua, yaitu gas alam dan biomassa. Rasio elektrifikasi ialah 72,0% pada 2018 dan 45,9% pada 2015, terendah di Indonesia.
Masalah listrik dapat diatasi dengan pengembangan lebih banyak biomassa ke proyek listrik. Biomassa dapat diubah menjadi gas untuk pembangkit listrik. Sel surya juga merupakan pilihan. Namun, hanya tersedia pada siang hari dan harga sel surya masih terhitung tinggi dan rawan pencurian. Berhubung Papua juga menjadi tuan rumah perkebunan kelapa sawit dan pabrik kelapa sawit dengan kapasitas 45 ton per jam, penting juga bagi Papua untuk memanfaatkan limbah pabrik kelapa sawit (POME) untuk generasi biogas.
Biogas kemudian digunakan untuk menghasilkan listrik. Saat ini perkebunan kelapa sawit di Papua sudah sangat besar. Pabrik kilang kelapa sawit juga sudah ada beberapa yang dibangun. Setidaknya Kemenperin mencatat ada sekitar 6 pabrik kelapa sawit yang sudah dan akan dibangun. Luas perkebunan rakyat dan swasta di 2017 menurut Statistik Perkebunan sudah lebih dari 110 ribu hektar. Kisah sukses biomassa untuk proyek listrik di Mentawai ialah referensi yang baik untuk pemerintah Papua.
Masalah penting kemiskinan energi lainnya ialah bagaimana menghasilkan bahan bakar murah dan terjangkau untuk warga Papua. Sejauh ini, bahan bakar di Papua dipasok oleh kilang mini (kilang Kasim) dengan kapasitas kecil 10 ribu bopd di Sorong. Kapasitas operasi di lapangan hanya sekitar 6.000 bopd. Upaya memproduksi lebih banyak bahan bakar di Papua dibatasi oleh pasokan minyak mentah kecil dari ladang minyak dekat kilang mini Kasim. Sebagian besar minyak mentah diangkut dari daerah lain di luar Sorong dengan kapal tanker.
Tentu saja, biaya pengiriman minyak mentah akan mengurangi margin keuntungan Pertamina. Selain itu, ada kebutuhan untuk membangun fasilitas penyimpanan minyak untuk menampung minyak mentah dari luar Papua. Dengan program BBM satu harga oleh pemerintah Indonesia untuk memiliki harga standar di seluruh Indonesia, termasuk di kabupaten terpencil di Papua, juga penting untuk mengeksplorasi technological option yang berbeda untuk produksi bahan bakar yang lebih murah dan lebih sustainable di Papua.
Upaya saat ini untuk menerapkan satu harga bahan bakar di Papua melibatkan pengangkutan bahan bakar menggunakan pesawat dengan kapasitas 4.000 liter hanya dari pulau-pulau lain.
Saya ingin mengusulkan pilihan yang berbeda untuk pengadaan BBM di Papua yang lebih sustainable dengan memperhatikan potensi lokal Papua. Seperti pengembangan pabrik bensin dari gas alam. Ini dapat dilakukan dengan mengonversi gas alam di Papua menjadi syngas dan kemudian ke metanol dan diikuti dengan proses metanol-to-gasoline (MTG).
Gas alam yang dihasilkan di Papua harus dialokasikan sebagian untuk program bahan bakar ini. Keekonomian pabrik MTG saat ini sudah semakin membaik dengan harga minyak dunia yang kembali menyentuh 70 US$/bbl. Tiongkok bahkan berhasil membuat proses yang ekonomis dari batu bara.
Dengan bahan baku gas alam di Papua, proses gas alam menjadi BBM akan lebih ekonomis jika dibandingkan dengan proyek serupa di Tiongkok yang membuat bensin dari batu bara. Yang terpenting diusahakan ialah alokasi gas alam di Papua untuk memproduksi BBM di Papua, bukan untuk ekspor LNG.
Ketersediaan biomassa dapat digunakan untuk memproduksi bensin dari gasifikasi biomassa yang diikuti oleh pabrik MTG. Bagaimana dengan opsi teknologi untuk memproduksi solar di Papua? Diesel dapat diproduksi dari minyak sawit.
Pemerintah Indonesia memiliki program B20, diesel dicampur dengan 20% biofuel yang berasal dari kelapa sawit. Beberapa teknologi tersedia untuk melayani tujuan ini. Selain bioenergi yang berasal dari biomassa, pembangkit listrik tenaga air juga potensial di Papua, sepanjang aliran lumpur dapat dikendalikan.
Energi murah dan terjangkau merupakan prasyarat bagi industri hilir di Papua. Tanpa industri hilir, Papua hanya akan menjadi sumber gas alam, tembaga, dan emas, tanpa industri hilir. Industri hilir memiliki multiplier effect pada pertumbuhan ekonomi di Papua.
Saya percaya bahwa negeri ini memerlukan pabrik peleburan dan hilir lebih lanjut untuk mengubah tembaga, emas menjadi berbagai produk logam bernilai tambah. Khususnya, untuk menyiapkan smelter tembaga di Papua, beberapa pembangkit tenaga listrik harus segera dibangun.
Sebuah smelter tembaga membutuhkan suhu tinggi di atas 1.100 oC dengan konsumsi energi di atas 10 ribu MJ/ton anoda tembaga. Selain sumber daya tembaga, sumber daya gas alam juga perlu diubah menjadi berbagai bahan bakar dan produk polimer dengan margin keuntungan yang lebih tinggi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved