Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
GEMPA yang berulang kali mengguncang Lombok dan meluluhlantakkan bangunan harus menjadi momentum semua pihak untuk membenahi dan menata ulang Pulau Lombok, khususnya pada kabupaten/kota terdampak dan lebih khusus lagi kawasan permukiman yang terdampak parah, menjadi pulau, kabupaten/kota, dan kawasan permukiman tangguh bencana.
Proses rehabilitasi dan rekonstruksi Lombok harus berbasis kearifan lokal dan selaras alam. Semua sebisa mungkin didasarkan pada kemampuan dan ketersediaan sumber daya alam, manusia, dan dana lokal agar berkelanjutan. Seluruh lapisan masyarakat miskin-kaya, muda-tua, amatir-profesional, sipil-militer, lintas agama dan budaya harus dilibatkan sejak awal dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi Pulau Lombok.
Selaras dengan UU No 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana, UU No 26/2007 tentang Penataan Ruang, UU No 28/2002 tentang Bangunan Gedung, dan UU No 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, proses rehabilitasi, rekonstruksi, dan revitalisasi kota/kabupaten terdampak bencana harus difokuskan pada upaya antisipasi (pencegahan terjadinya bencana), mitigasi (pengurangan risiko bencana), dan adaptasi (penyesuaian terhadap perubahan bencana).
Rehabilitasi dan rekonstruksi permukiman/perumahan dan bangunan gedung harus berada di luar jalur gempa. Kawasan terdampak gempa parah sebisa mungkin bebas bangunan dan diperuntukkan sebagai ruang terbuka hijau pengaman berupa hutan konservasi, taman kota, atau lapangan olahraga.
Pemulihan rumah warga harus melibatkan warga didukung tenaga konstruksi, didampingi akademisi, semuanya lokal, bekerja sama membangun rumah warga secara gotong royong. Dana pemerintah ditempatkan sebagai stimulan.
Teknik cepat membangun rumah instan sederhana sehat (Risha) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) dipadukan arsitektur bangunan tradisional khas Lombok yang tahan gempa dan ramah lingkungan. Bangunan rumah berbahan dasar lokal seperti kayu, kelapa, bambu, ilalang/rumbai dipadupadankan/diperkuat besi dan semen untuk konstruksi kolom, dan atap seng, sesuai kondisi dan kebutuhan di lapangan. Tenaga konstruksi binaan Kementerian PU-Pera, yang didampingi akademisi perguruan tinggi lokal (lintas keilmuan), membantu sekaligus mengajarkan kepada warga dan tukang bangunan lokal membangun rumah masing-masing untuk mempercepat proses pemulihan psikis warga.
Fasilitas publik berupa pasar, sekolah, dan tempat ibadah dibangun secara cepat dan darurat-–semipermanen. Pemahaman bahwa fasilitas publik dilakukan dalam ruang tertutup, berdinding tembok, dan beratap genteng harus dikesampingkan untuk sementara. Agar aktivitas belajar mengajar, roda perekonomian, dan kegiatan beribadah dapat berjalan segera maka yang dibutuhkan ialah penyediaan ‘ruang’ yang memadai, bersahaja, terbuka (dekat dengan alam), dan terpenting fungsional.
Lapangan-lapangan terbuka dioptimalkan untuk berbagai kegiatan sekaligus. Penyediaan ‘ruang pasar’ (tepat terjadi jual-beli) untuk kebutuhan sehari-hari yang beroperasi pada pagi hari dapat menjadi penggerak cepat ekonomi warga. Ruang pasar dibuat nyaman (teduh di bawah pepohonan), terjaga kebersihan (tersedia pengolahan sampah), dan tertata rapi.
'Ruang tempat ibadah' terbuka beralaskan rumput, beratapkan keteduhan pepohonan, dan dibatasi dinding kain (putih) mengelilingi tempat ibadah, serta dilengkapi tempat wudu hemat air dan bersih. Ruang tempat ibadah diletakkan agak jauh dari kegiatan pasar dan tempat keramaian untuk menjaga keheningan saat beribadah.
Percepatan proses belajar mengajar dengan menyelenggarakan sekolah ‘terbuka’ alam merupakan terobosan yang dapat dilakukan di lokasi terdampak gempa. Kegiatan belajar secara kreatif dapat dilakukan di alam terbuka, beralaskan rumput di bawah kerindangan pohon.
Alam dengan segala kelebihan merupakan ruang belajar yang paling menakjubkan pembelajaran gempa sebagai kejadian alam, bagian dari risiko bencana hidup di negeri seribu lindu. Pagi hari, anak-anak dapat belajar ilmu pengetahuan alam, seperti menikmati kehangatan sinar matahari, membaca awan dan langit biru, mengamati aneka serangga dan burung, juga belajar bercocok tanam sayuran dan menanam pohon.
Siang-sore hari, anak-anak belajar dan mempraktikkan langsung ilmu pengetahuan sosial, seperti berinteraksi sosial sesama teman, melatih kerja sama dan bergotong royong membersihkan sampah dan mengolah sampah ramah lingkungan, menjaga sanitasi yang higienis, serta beribadah bersama.
Malam hari, anak-anak (bersama keluarga) dihibur dengan tayangan pelajaran antisipasi, mitigasi, dan antisipasi gempa dan diikuti latihan simulasi evakuasi bencana (keesokan harinya) sebagai bagian dari kurikulum pendidikan dasar. Kelak, mereka menjadi tahu apa yang harus dilakukan, ke mana akan evakuasi, bagaimana bertahan hidup, bangkit memulihkan kehidupan, dan membenahi lingkungan pascabencana.
Pada saat bersamaan, pemerintah harus tetap mempercepat rehabilitasi, rekonstruksi, dan revitalisasi kawasan terdampak sekaligus menata ulang permukiman yang berkelanjutan, berbasis alam, dan tangguh bencana.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved