Optimistis Menatap Akhir

William Henley Founder Indosterling Capital
15/8/2018 01:00
Optimistis Menatap Akhir
(thinkstock)

ABOVE estimates atau di atas perkiraan. Kata-kata itu keluar dari mulut Menkeu Sri Mulyani Indrawati menanggapi laporan Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (6/8). BPS melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2018 mencapai 5,27%.
    
Realisasi itu lebih tinggi ketimbang proyeksi Kemenkeu. Sebelum laporan BPS disampaikan, Kemenkeu memperkirakan ekonomi triwulan II 2018 mengalami pertumbuhan sebesar 5,17% hingga 5,2%. Realisasi pertumbuhan ekonomi triwulan II 2018 juga lebih baik daripada realisasi triwulan I 2018. Pada triwulan I 2018 ekonomi tercatat hanya tumbuh 5,06%.
    
Apabila mencermati data BPS, pencapaian pertumbuhan ekonomi triwulan II 2018 tidak terlepas perbaikan sisi dari konsumsi rumah tangga. Komponen itu tumbuh sebesar 5,1% secara tahunan atau tertinggi sejak triwulan II 2014!
    
Faktor pemicu di balik konsumsi rumah tangga yang membaik ialah faktor musiman. Pada triwulan II 2018, ada momen bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri. Periode Ramadan dan Idul Fitri selalu diwarnai peningkatan konsumsi.
   
Langkah lain ialah keputusan pemerintah menambah cuti bersama Hari Raya Idul Fitri selama tiga hari. Selain bertujuan mengurai kemacetan lalu lintas, kebijakan yang ditopang pemberian THR tak pelak telah menggerakkan perekonomian. Lalu, bagaimana prediksi pertumbuhan ekonomi ke depan?

Sumber optimisme
Realisasi pertumbuhan ekonomi triwulan II 2018 tentu jadi sumber optimisme pemerintah dan masyarakat menatap sisa waktu pada tahun ini. Apalagi, target pertumbuhan yang ditetapkan dalam APBN 2018 tergolong tinggi, yakni 5,4%.  Sementara itu, realisasi pertumbuhan ekonomi hingga semester I 2018 baru mencapai 5,165%. Bahkan lembaga-lembaga internasional mulai Bank Pembangunan Asia (ADB), Dana Moneter Internasional (IMF), dan Bank Dunia (WB) memprediksi ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5,2%.

Akan tetapi, optimisme pemerintah melalui Menkeu Sri Mulyani Indrawati patut diapresiasi sekaligus dikritisi. Apresiasi karena target dalam APBN berpotensi tercapai. Kritik mengingat terdapat
beberapa kendala yang berpotensi menghadang.
    
Sebagaimana biasa, konsumsi rumah tangga menjadi titik kunci agar pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini dapat tercapai. Mengapa demikian? Tentu karena porsi komponen itu dalam produk domestik bruto (PDB) tergolong besar, yakni sekitar 55%-56% terhadap PDB.

Pencapaian pada triwulan II 2018 yang ditunjang momen bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri tentu tidak akan terulang lagi pada triwulan III dan triwulan IV. Namun, ada asa dari beberapa perhelatan besar ke depan, dari Asian Games 2018, Pertemuan Tahunan IMF-WB, dan pemilu.
    
Semua memahami, penyelenggaraan acara berskala besar, apalagi berskala internasional, akan mengundang kedatangan banyak orang. Tidak sekadar datang, mereka tentu bakal membelanjakan pundi-pundi di pelbagai sektor, seperti makanan dan pariwisata. Hukum ekonomi sederhana pun berlaku. Apabila ada permintaan, akan ada penawaran. Roda perekonomian bergerak. Dengan demikian, pertumbuhan komponen konsumsi rumah tangga berpotensi terjaga atau bisa lebih tinggi.

Selain konsumsi rumah tangga, terdapat komponen lain dalam PDB berbentuk pembentukan modal tetap bruto (PMTB), belanja pemerintah, dan selisih antara ekspor dan impor. Banyak kalangan menyoroti perlambatan pertumbuhan PMTB alias investasi pada triwulan II 2018. Namun, belanja pemerintah akan berperan besar. Pada triwulan II 2018, belanja pemerintah tumbuh 5,26%.

Dengan demikian, kontribusi komponen itu dalam struktur PDB naik dari 6,31% (triwulan I 2018) menjadi 8,5% (triwulan II 2018). Mengutip data Kemenkeu, realisasi belanja APBN triwulan II 2018 baru mencapai 23,58% atau Rp 523,70 triliun. Seperti tahun-tahun lalu, belanja pemerintah selalu terakselerasi pada triwulan III dan IV sehingga ada harapan besar belanja pemerintah bakal meningkat tajam pada sisa waktu ini.

Sudah banyak penelitian yang menyimpulkan ada korelasi positif antara belanja pemerintah dan pertumbuhan ekonomi. Sebagai contoh riset yang dipublikasikan Universitas Bengkulu beberapa waktu lalu. Hasil analisis menunjukkan belanja pemerintah berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Bengkulu. Apabila pemerintah menaikkan belanja sebesar Rp1 miliar saja, dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 1,17% per tahun.
    
Mengapa demikian? Karena belanja pemerintah ditinjau dari jenis pengeluaran, seperti belanja pegawai, barang, pemeliharaan, hingga perjalanan dinas, bersifat konsumtif. Kondisi itu sudah pasti dicermati oleh pemerintah, baik itu di pusat maupun daerah.

Kewaspadaan
Sikap optimistis patut dibangun. Namun, tetap perlu ada kewaspadaan. Nah, menghadapi triwulan III dan IV 2018, ada beberapa tantangan yang patut diwaspadai semua pihak sehingga diharapkan tidak berpengaruh terhadap perekonomian secara menyeluruh.
     
Yang pertama dan utama ialah pelemahan nilai tukar rupiah. Gejala ini seolah belum berhenti membayangi ekonomi dalam negeri. Sampai dengan akhir Juli lalu, mata uang resmi kebanggaan Indonesia itu sudah melemah 5,81% jika dibandingkan dengan level per akhir 2017.
    
Berdasarkan kurs tengah di website Bank Indonesia (bi.go.id), kurs rupiah per Selasa (8/8) berada pada level 14.439 per dolar AS. Nilai rupiah mengalami pelemahan jika dibandingkan dengan posisi satu hari sebelumnya, yakni 14.485 per dolar AS.  Alasan di balik rupiah yang melemah pun terang dan jelas. Faktor eksternal jadi pendorong, dari rencana bank sentral AS (The Fed) menaikkan suku bunga acuan (FFR) hingga gejolak perang dagang antara AS dan Tiongkok yang belum ada tanda-tanda mereda.
    
Pelemahan rupiah akan berdampak pada berbagai elemen, termasuk konsumsi rumah tangga. Pemerintah bersama pihak-pihak terkait memang mampu menjaga inflasi pada level 3,12% selama semester I 2018. Akan tetapi, tantangan ke depan tidaklah mudah. Dampak imported inflation terhadap konsumsi masyarakat baru kemungkinan akan terasa.

Oleh karena itu, pemerintah harus menjaga ketersediaan bahan pangan dari sisi pasokan. Komponen-komponen pemacu inflasi patut dikendalikan dengan saksama. Tantangan lain ialah iklim politik yang menghangat seiring pemilu. Gejolak ini mulai tergambar sejak pilkada serentak beberapa waktu lalu. Setelah reda sejenak, tensi berpotensi meningkat seiring tahapan pileg dan pilpres yang berjalan.

Di titik ini, semua pihak harus berkomitmen menjaga agar situasi tetap kondusif. Apalagi pemilu bukan sesuatu yang baru dalam perjalanan bangsa. Kondusivitas situasi, terutama keamanan, bakal berdampak positif terhadap aktivitas perekonomian.  Selain tantangan-tantangan di atas, masih ada beberapa faktor lain yang berpotensi memengaruhi ekonomi Tanah Air.

Terlalu banyak apabila dijabarkan satu per satu. Namun, satu yang pasti, sikap optimistis pemerintah patut dikawal sehingga pertumbuhan ekonomi terasa hingga ke level masyarakat terbawah.

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya