Pesona Tenun Belu di Rusia

Iwan Jaconiah Kurniawan dari Rusia
07/8/2018 21:25
Pesona Tenun Belu di Rusia
(Foto: Iwan Jaconiah Kurniawan)

DUA koper hitam berisi kain tenun ikat Belu masih tergeletak di sebuah gerai, terpisah dari panggung utama Festival Indonesia Moskow 2018. Di situ, ada berjejer ratusan gerai lainnya yang juga digunakan sebagai tempat promosi dan dagangan produk-produk khas daerah-daerah Indonesia.

Seorang relawan, Annisa Humaira, sigap memerhatikan koper-koper itu. Matanya sesekali menjurus ke kiri dan kanan. Siap melayani setiap pengunjung yang membludak. Taman Krasnaya Presnya, pada Jumat (3/8) sampai Minggu (5/8) benar-benar disulap jadi 'bumi Indonesia'.

Tidak berapa lama, Lidwina Viviawaty Lay, peserta asal Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), pun tiba. Dia menarik resleting koper itu secara perlahan seraya memilah satu per satu kain tenun ikat untuk dipajang. Annisa pun ikut membantu. Mereka sibuk menata hingga rapih terpajang dan kinclong.

Vivi, sapaan akrab istri Bupati Kabupaten Belu Willybrodus Lay, itu menghadiri Festival Indonesia Moskow. Pasalnya, dia ingin mengangkat lagi derajat para penenun tradisional dari kampung halamannya. Melalui promosi langsung di Rusia, dia meyakini dampaknya akan lebih nyata bagi masyarakat kelak.

"Semua tenun ikat ini hasil tenunan mama-mama di kampung. Saya membawa ke sini agar tenun Belu dapat lebih populer. Ini kali pertama saya hadir di festival ini," ujar Vivi yang juga Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Kabupaten Belu, itu.

Udara di Taman Krasnaya Presnya terasa segar. Cuaca sangat bersahabat di musim panas ini. Terkadang hujan rintik luruh perlahan membasahi rerumputan hijau. Namun, itu tidak mengurungkan niat para pengunjung untuk hadir di festival ini.

Di hari pertama Festival Indonesia, misalnya, sedikitnya 20 lembar kain tenun Belu ludes terjual. Maklum, kain tenunan ini memang memiliki ciri khas yang unik. Warna-warnanya lebih lembut ketimbang tenunan daerah-daerah tetangganya di pulau Timor seperti Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Malaka, dan Kupang.

Bagi Vivi, Rusia memiliki potensi pembeli utama di masa depan. Hal ini menjadi penting agar bisa membuka jalan bagi para pembeli. Apalagi, tenunan NTT kini sudah merambah ke berbagai negara di Eropa.

"Semua tenunan dikerjakan secara manual. Pewarnaan pun alamiah. Ini yang membuat tenunan buatan mama-mama cantik," cetus dia.

Umumnya, motif tenun Pulau Timor berbeda-beda di setiap daerah dan desa. Namun, ada satu kesamaan dalam motif, yaitu cicak, bunga, dan buaya. Untuk Belu, motifnya lebih dominan cicak dan bunga. Bila dari Desa Mandeu, coraknya bunga dan lebih berwarna dan memikat mata.

Pakaian tenunan, bagi sebagian masyarakat, telah jadi pakaian sehari-hari. Dan, kini sudah jadi pakaian wajib bagi orang kantoran di sana, seminggu sekali. Ini sebagai bagian untuk menjaga jati diri warisan budaya lokal.

Pada hari kedua dan ketiga Festival Indonesia, para pengunjung pun kian ramai. Orang-orang berlalu lalang. Ada yang sekadar mencoba kain dan pakaian bermotif. Ada yang berfoto dengan meminjam sesaat kain itu. Dan, ada yang langsung beli karena sesuai hati.

Angkat derajat penenun
Sebagai bentuk nyata untuk mempertunjukkan corak warna dan motif tenun Belu itu maka Vivi pun ikut mempertontonkan hasil baju rancangannya di pergelaran fesyen. Karyanya dideretkan sejajar dengan perancang terkenal Ferry Sunarto.

Para model pun adalah gadis-gadis remaja Rusia. Mereka nampak profesional saat berlenggok-lenggok di hadapan para tamu dan pengunjung.

Paduan antara model dan tenun ikat Belu kian mendapatkan tempat di hati masyarakat setempat.

Ada sebuah harapan agar kain-kain itu kian meraup pasar baru. Dampaknya, bisa banyak permintaan kain tenun. Bila hal itu terjadi maka ikut menopang taraf hidup ibu-ibu penenun di kabupaten yang berbatasan langsung dengan Timor Leste, itu.

"Kami berusaha agar tenun yang bagus ini diangkat lagi menjadi barang-barang fesyen. Saya percaya bahwa karya seni ibu-ibu di Belu, sangat indah. Ini tidak mungkin dinikmati oleh kita saja, namun saya membagikan kepada dunia luar supaya kian dikenal. Semoga membuka pasar yang lebih besar ke depannya," ujar Vivi.

Tidak hanya tenun Belu yang jadi perhatian, ada pula tenun Maluku, Batik Pekalongan, Batik Bali, dan Songket Sumatra. Semuanya tidak lepas dari mata para pengunjung. Maklum, Indonesia memang surganya tenun ikat. Festival ini jadi wadah promosi jitu.

June Nikijuluw, peserta asal Maluku, pun tidak mau ketinggalan. Dia pun menghadirkan tenunan dari berbagai daerah di Maluku. Dia menempati sebuah gerai, persis di samping gerainya Vivi. Mereka masing-masing mencoba menarik perhatian pengunjung lewat keunggulan tenunan khas Indonesia bagian timur.

Festival Indonesia menghadirkan program utama, antara lain tarian tradisional, pentas musik, museum budaya, kelas memasak, pasar kerajinan daerah, kuliner, travel, skimboarding, diving, seminar, wayang kulit, pencak silat, kelas bahasa Indonesia, pertunjukan fesyen, upacara pernikahan, lukisan tangan, kelas yoga dan pijat, serta permainan bulu tangkis.

Luba Sartoyo, salah satu pengunjung, sangat kagum dengan motif tenun ikat Belu. Dia pun mendapat selembar tenun ikat cokelat bermotif bunga di festival itu.

"Ini lembut untuk kulit saya. Saya suka sekali," tutur oma yang bersuami orang Indonesia, itu.

Festival Indonesia telah berlangsung tiga kali. Dua kali perhelatannya sebelumnya menempati kawasan Hermitage Garden. Luasnya lebih kecil tiga kali lipat dari Taman Krasnaya Presnya. Luas taman ini 16,5 hektare sehingga pada festival kali ini, orang-orang lebih leluasa bersantai di kafe, kedai, dan area pameran di sekitar acara.

Ini festival juga telah jadi ajang mempertontonkan keragaman budaya. Berbagai suku dan bangsa yang merekat erat di bumi Ibu Pertiwi, bisa ambil bagian. Ini terbuka untuk setiap daerah yang ingin memajukan potensi daerah mereka masing-masing agar lebih dikenal lebih luas.

Saingan tenun Uzbekistan
Pavel Serin, pemerhati tenun, menilai bawah keberadaan kain tenun yang dipamerkan di Festival Indonesia sangat bagus. Namun, dia mendapati beberapa kain tenun yang dijual  tergolong mahal, yakni 7 ribu rubel (setara Rp 1,4 juta).

"Tenun ikat cukup banyak. Ada tenun Uzbekistan yang sudah lama masuk ke Rusia. Namun, tenun ikat Indonesia memang lebih tradisonal dan unik. Persoalannya, perlu dijual dengan harga terjangkau karena pengunjung yang datang ke sini tidak semua orang-orang kaya," tuturnya.

Meski demikian, Pavel mengaku bahwa tenun-tenun Nusantara yang ada di festival memang cocok dengan warna kulit orang Rusia.

"Potensi pembeli dari Rusia sangat tinggi. Tenun Belu sangat eksotis sehingga kalau dipakai perempuan Rusia maka terlihat lebih unik dan modis," nilai peneliti yang pernah belajar di Universitas Padjadjaran, Bandung, itu.

Festival Indonesia akan terus jadi bagian untuk mempromosikan Indonesia di tahun-tahun mendatang. Ini sebagai bukti bahwa budaya dan seni kita harus mendapatkan panggung yang sejajar dengan gencarnya promosi negara-negara Asia lainnya seperti yang ada pada Festival Jepang dan Festival India di Moskow.

Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Federasi Rusia dan Republik Belarusia, M Wahid Supriyadi, pun mengaku puas dengan helatan festival itu. Baginya, dampak utama, yaitu ada hubungan diplomasi di dalam memperkenalkan budaya, memajukan potensi deerah, serta meningkatkan perdagangan di Rusia.

"Saya ingin agar ada variasi dan tidak hanya suatu daerah di festival ini. Kali ini ada Kabupaten Belu. Dari tenun saja hampir setiap daerah memiliki tenun, namun motif-motif berbeda," jelasnya.

Dari Belu, lanjut Dubes, memiliki tenun yang soft sehingga cocok untuk orang Rusia.

"Tidak hanya budaya yang saya tampilkan, namun misi kita adalah menjual dan mempromosikan," sambung Wahid.

Pengunjung memang padat berdatangan pada festival ini. Panitia melansir ada 134.000 pengunjung internasional dan 600 pengunjung Indonesia dalam tiga hari berturut-turut. Ini naik tiga kali lipat dari dua tahun penyelenggaraan sebelumnya. Festival Indonesia sebagai bukti bahwa ada upaya nyata dalam membumikan seni dan budaya Indonesia di tanah para Tsar. (*)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya