Membedah Geliat Kemaritiman Kawasan Indo-ASEAN

Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute
04/8/2018 08:50
Membedah Geliat Kemaritiman Kawasan Indo-ASEAN
(Duta)

BIDANG kemaritiman ternyata tidak hanya membahana di Indonesia. Ia rupanya bergaung pula di kawasan Indo-ASEAN. Itulah kesan yang dapat ditangkap dari perhelatan Delhi Dialogue (DD) 10, pada 19-20 Juli. Kegiatan ini memang secara khusus mengangkat tema kemaritiman dengan judul “Strengthening India-ASEAN Maritime Cooperation” pada tahun ini.

Namun, aspek kemaritiman tentu saja bukanlah topik baru bagi forum kerja sama kawasan tersebut. Pasalnya, dari sudut geografis Indo-ASEAN betul-betul maritim karena dikepung oleh lautan, dalam hal ini Samudra India.
Banyak aspek kemaritiman yang dibahas dalam acara yang diselenggarakan oleh Research and Information System for Developing Countries (RIS), salah satu think tank utama di India itu dengan belasan pembicara dari India dan ASEAN yang membahasnya. Mulai keamanan maritim, blue economy, hingga sosial budaya.

Delegasi Indonesia dalam DD 10, dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri, Abdurrahman Mohammad Fachir. Pembicara dari Jakarta pun terbilang lumayan jumlahnya, dalam forum yang didukung penuh oleh Kementerian Luar Negeri India tersebut.

Delhi Dialogue 10 adalah forum track 2 yang mempertemukan para diplomat profesional dengan akademisi, aktivis LSM, tokoh masyarakat, dan lain-lain untuk membahas berbagai persoalan yang muncul dalam hubungan antarnegara maupun kawasan tertentu.

Track 2 merupakan “saudara kembar” track 1 dalam kegiatan diplomasi yang bersifat lebih formal, dan dijalankan melalui saluran pemerintah. Tahun ini DD 10 dibarengi dengan 2nd ASEAN-India Workshop on Blue Economy diadakan pada 18 Juli.

Bila DD 10 lebih bernuansa strategis, membahas bidang kemaritiman dari aspek keamanan maritim seperti perompakan, terorisme maritim, dan penyelundupan (manusia, narkotika, dll). Workshop menitikberatkan perhatian pada aspek yang sedikit lebih ringan, seperti konektivitas maritim.

Namun, tidak berarti bahwa workshop tidak penting. Nama-nama besar seperti Hidetoshi Nishimura, Presiden Economic Research Institute of ASEAN atau ERIA, Jakarta dan Prabir De, Koordinator ASEAN-India Center RIS bicara dalam workshop.
 
Kondisi maritim
Hubungan maritim India dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara bukan hanya pada zaman modern ini. Ia sudah berlangsung sejak 5 SM. Kala itu raja-raja, pendeta-pendeta dan para saudagar dari Anak Benua (Sub-Continent)  itu melayari Samudra India untuk menjalin diplomasi, menyebarkan agama maupun berdagang dengan kerajaan yang ada di sini. Sejak saat itu hubungan yang terjalin di antara kedua kawasan bertahan dan saling memberikan pengaruh dalam segala bidang kehidupan hingga kini.

Samudra India sebagai perekat, kawasan Indo-ASEAN  memang kental nuansa maritim. Bagi bisnis maritim, khususnya kepelabuhanan, region ini menjadi rumah bagi berbagai pelabuhan besar. Pelabuhan Laem Chabang, Tanjung Pelepas, Singapura, Tanjung Priok dan Mumbai ialah sebagian di antaranya. Melalui pelabuhan-pelabuhan tersebut, termasuk pelabuhan lainnya, dan bandar udara, berbagai komoditas dilayani dengan nilai perdagangan mencapai US$71,6 miliar, pada 2016-2017.

Khusus Indonesia, perdagangan bilateral antarnegara menghasilkan surplus bagi Indonesia senilai US$ 10,16 miliar, tahun lalu. Sementara itu, nilai investasi India di Indonesia mencapai US$32 juta (2015), yang mencakup bidang pertambangan, reparasi, perdagangan, listrik, gas, dan air. Hubungan kemaritiman kedua negara juga mesra di bidang pertahanan, khususnya matra laut.

Angkatan Laut kedua negara sudah berkali-kali melakukan latihan bersama, dan kapal perang masing-masing angkatan laut saling bertukar kunjungan persahabatan. Ada keinginan kuat TNI AL agar kerja sama dengan India Navy dapat ditingkatkan. Misalnya, dilibatkan dalam latihan Malabar yang sejauh ini hanya melibatkan AS, Jepang dan India.

Hubungan maritim Indo-ASEAN bukan tanpa celah, Menarik mencatat bahwa di tengah angka statistik yang cukup menggembirakan, ternyata sektor pelayaran (shipping) menjadi titik lemah. Pada gilirannya, hal itu dapat memicu defisit bagi setiap negara di kawasan ini.
Perdagangan maritim antarnegara tidak diangkut oleh National Flag Carrier karena mereka tidak memilikinya. Pelayaran-pelayaran global-lah yang melakukannya-khususnya untuk pengangkutan peti kemas.

Selain itu, kendala lain dalam transportasi laut antara India dan negara ASEAN ialah adanya kebijakan white shipping yang diberlakukan oleh India terhadap mitra dagangnya.

Dengan kebijakan ini India meminta agar semua kapal yang akan memasuki perairan teritorialnya menyampaikan semua detail terkait identitas kapal, muatan, riwayat perjalanan, dan lainnya. Kebijakan ini diambil untuk mencegah berulangnya aksi teror Mumbai, yang menjadikan laut sebagai mediumnya.

Sampai saat ini, Indonesia belum bersikap terhadap kebijakan white shipping India. Bisa jadi, kapal-kapal nasional memang penuh misteri. Entahlah.
 

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya