Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MENDEKATI pendaftaran pasangan calon presiden dan wakil presiden Agustus besok, Koalisi Prabowo semakin mengukuhkan dirinya sebagai koalisi yang semakin percaya diri maju dalam kontestasi pemilihan presiden lewat hajatan Pemilu Serentak 2019.
Kita layak memberikan apresiasi kepada koalisi yang langsung dipimpin Prabowo Subianto, satu-satunya tokoh nasional yang paling pantas maju sebagai calon presiden berhadapan dengan Joko Widodo yang lebih dulu didukung enam partai politik.
Apresiasi pantas kita berikan kepada Koalisi Prabowo, sebab sebagai yunior di militer, Prabowo sukses melobi seniornya, Susilo Bambang Yudhoyono (Ketua Umum Partai Demokrat), untuk bergabung di koalisi yang dipimpinnya.
Dalam soal itu, kita angkat topi kepada Prabowo yang cekatan dan mampu memanfaatkan situasi di saat SBY galau setelah merasa "belum direstui Tuhan" untuk bergabung ke Koalisi Jokowi lantaran GR diganjal Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.
Jika memang SBY 100 persen bergabung dengan Koalisi Prabowo, kita juga sepantasnya memberikan apresiasi kepada mantan presiden ke-6 RI ini yang meskipun lebih senior, sebagai seorang demokrat, ia tunduk pada kesepakatan-kesepakatan yang sebelumnya telah dirintis Prabowo bersama teman-teman sekutunya. Termasuk di sini siapa cawapres yang akan diusung Koalisi Prabowo.
Semula kita menduga SBY akan memaksakan untuk menempatkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai cawapres di Koalisi Prabowo. Namun, belakangan SBY menepis prasangka publik yang mencurigai SBY -- demi sayang anak -- mendukung Prabowo lantaran ada maunya.
Rupanya SBY kini sudah sadar bahwa memperlakukan AHY seperti anak kemarin sore tidak bijaksana.
Dalam soal itu, SBY sepertinya sudah paham betul kata-kata bijak yang sering diungkapkan orang tua nan arif bijaksana bahwa selalu menempatkan anak di bawah ketiak orang tua sesungguhnya tidak elok.
Izinkan saya mengutip tulisan Elly Risman, senior psikolog dari Universitas Indonesia, yang viral di grup-grup Whats App. "Kita tidak pernah tahu, anak kita akan terlempar ke bagian bumi yang mana nanti, maka izinkanlah dia belajar menyelesaikan masalahnya sendiri," tulis Elly.
Dia mengingatkan agar para orang tua jangan memainkan semua peran, ya jadi ibu, koki, tukang cuci. Jika kita seorang ayah,
ya jangan jadi supir, atau tukang ledeng. Anda bukan anggota tim SAR! Anak Anda tidak dalam keadaan bahaya. Tidak ada sinyal SOS," tulis Elly.
Dalam konteks keluarga SBY, saya yakin, AHY tidak dalam posisi SOS, meskipun ia batal jadi jenderal dan gagal jadi gubernur DKI Jakarta.
Elly melanjutkan, orang tua jangan selalu memaksa untuk membantu dan memperbaiki semuanya. Anak mengeluh karena mainan puzzlenya tidak bisa nyambung menjadi satu, "sini...ayah bantu!". Tutup botol minum sedikit susah dibuka, "sini... mama saja." Tali sepatu sulit diikat, "sini...ayah ikatkan". Kecipratan sedikit minyak, "sudah sini, mama saja yang masak".
"Kapan anaknya bisa? Kalau bala bantuan muncul tanpa bencana, apa yang terjadi ketika bencana benar-benar datang? Berikan anak-anak kesempatan untuk menemukan solusi mereka sendiri," ungkap Elly.
Masih dalam konteks keluarga SBY, saya percaya SBY dan Ani Yudhoyono tidak pernah memerlakukan AHY seperti itu, karena AHY sudah mampu menentukan masa depannya sendiri.
Saya kok yakin SBY dan Ani Yudhoyono tidak pernah sekali pun berbicara "sini, Nak, kami bantu supaya Nanda jadi presiden" kepada AHY ketika putra mahkotanya itu batal jadi jenderal dan gagal jadi gubernur.
Dalam konteks berkoalisi dengan Prabowo, boleh jadi SBY juga tidak akan menggelontorkan dana "unlimited" kepada Prabowo yang diisukan sudah kehabisan kocek, sehingga ia dikabarkan sempat ragu mencalonkan diri sebagai presiden.
SBY pasti akan membiarkan program penggalangan dana kampanye yang sudah dijalankan Partai Gerindra agar partai teman baru koalisinya ini semakin dewasa. Lagi pula mengapa harus menggelontorkan dana triluan rupiah, toh AHY tidak dipromosikan menjadi cawapres?
Di luar itu, saya menduga SBY sangat menghargai perjuangan yang telah dirintis Prabowo dan sohib-sohibnya di PAN dan PKS yang terus menjaga kekompakan.
SBY tentu tidak akan pernah menihilkan bagaimana perjuangan Prabowo berumrah ke Tanah Suci sekaligus bersilaturahmi dengan sang imam besar Rizieq Shihab di Mekah.
Belakangan Rizieq telah mengeluarkan pernyataan bahwa ia tidak setuju jika Koalisi Prabowo mengusung dan mencalonkan Anies Baswedan yang kini sibuk mewangikan Kali Item (Sentiong) sebagai capres atau cawapres.
Saya percaya Prabowo akan patuh kepada Rizieq. Dengan begitu SBY dan Demokrat pun akan takzim kepada sang imam besar karena semua ini adalah bagian dari skenario demi kemenangan Prabowo.
Mengakhiri perjalanan dan perjuangan panjang Koalisi Prabowo, kawanan tersebut beberapa hari lalu bertemu dengan sekelompok orang yang diklaim sebagai ulama dan tergabung dalam GNPF (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa).
Dalam pertemuan itu, tanpa melibatkan SBY, meminjam istilah Muhammad Qodari dari Indo Barometer, "partai" GNPF mengeluarkan rekomendasi dua nama "tokoh" yang layak disandingkan dengan Prabowo sebagai cawapres.
Kedua tokoh itu adalah Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Aljufri dan Ustaz Abdul Somad. Sayang Somad keberatan dicapreskan padahal ia idola para emak.
Karena Partai Demokrat adalah pendatang baru di Koalisi Prabowo, SBY pasti tahu diri, sehingga tidak memunculkan "matahari kembar" di koalisi tersebut. Dengan begitu Prabowo leluasa mengajukan "hak inisiatif" siapa cawapresnya.
Jika "partai" GNPF serius mengajukan dua nama tersebut dan yang tersisa tinggal Salim Segaf, maka Prabowo pasti juga akan mendengar dan memertimbangkan suara para ulama.
Lagi pula sudah saatnya Koalisi Prabowo mengukir sejarah baru dalam soal cawapres dengan menghargai jerih payah PKS yang lewat salah seorang tokohnya, Mardani Ali Sera, berteriak-teriak melakukan agitasi "2019 ganti presiden".
Pada Pilpres 2014, Prabowo mengusung Hatta Rajasa (PAN) sebagai cawapres. Kini giliran dalam Pilpres 2019, Prabowo mengusung tokoh dari PKS.
Saatnya Prabowo mengabaikan manuver sesepuh PAN, Amien Rais, yang selama ini menunggangi gerakan Gerindra.
Jika dipaksakan, tokoh PAN yang selevel bisa mendampingi Prabowo adalah ketua umumnya, Zulkifli Hasan.
Namun, jika tetap dipaksakan dengan Zulkifli Hasan, pamor Prabowo dan SBY tentu bakal jatuh menyusul dicokoknya adinda Zulkifli yang menjabat sebagai bupati Lampung Selatan oleh KPK.
Pernyataan Zulkifli menyusul kasus tersebut bahwa jika KPK terus melakukan OTT maka pejabat lama-lama akan habis tentu semakin membuat pamor PAN dan Zulkifli semakin jatuh.
Mengusung cawapres dari PKS adalah langkah bijak dan strategis Prabowo. Semoga SBY legowo. Dengan begitu, seperti halnya Jokowi, Prabowo bisa percaya diri bahwa ia sudah mengantongi cawapres di kantong kanan, kiri, depan dan belakang.
Jika gengsi mengikuti istilah Jokowi, bisa saja Prabowo mengatakan bahwa cawapresnya tidak disimpan di kantong, tapi di tas kresek.
Selamat berkontestasi.(*)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved