Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PERNAHKAH Anda, sebagai orangtua/wali murid, merasa anak mengalami perubahan? Faktor penyebabnya di antaranya ialah pengaruh orang lain, katakanlah teman-teman di sekolah. Sejak kecil, anak diajari menjadi pribadi pemberani, misalnya, saat melihat bahkan menyentuh hewan yang oleh banyak orang menjijikkan, sebut saja cecak. Namun, tak disangka, begitu ia mulai mengenal banyak teman, yang kebetulan takut saat melihat cecak, anak jadi ikut jijik dan takut.
Atau pernahkah Anda, sebagai guru, mempunyai murid yang terlihat rajin saat di sekolah, sopan, penurut, dan padanan sifat terpuji lain, tapi begitu Anda mendengar laporan dari orangtuanya, anak itu berbanding terbalik dengan perilaku di sekolah?
Ada pula, sebagai bagian dari masyarakat, kita sering dikejutkan anak yang saat di rumah dan lingkungan sekitar terlihat religius, berperilaku baik, termasuk anak berprestasi di sekolah, tapi lagi-lagi seolah tidak percaya, ternyata tersiar kabar anak ini terlibat dalam aksi tawuran hingga pemakai obat-obat terlarang. Mengapa bisa terjadi demikian?
Tripusat pendidikan
Jika kasus itu dicermati, tampak jelas tidak ada sinergisitas antara peran sekolah, keluarga, dan masyarakat. Padahal, penyelenggaraan pendidikan yang ideal sejatinya menyinergikan tiga lingkungan itu, atau dikenal sebagai tripusat pendidikan (lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat).
Tripusat pendidikan merupakan kunci utama menyukseskan pembelajaran berdasarkan fungsi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pada contoh yang sepele, seorang anak yang semula berani terhadap cecak, bisa berubah sebaliknya saat berinteraksi dengan teman-temannya di sekolah, mestinya kembali dinetralkan peran guru.
Sayangnya, sang guru kadang juga tidak berani dan jijik saat melihat cecak. Jadi, dia sulit meyakinkan peserta didik bahwa cecak hewan tidak berbahaya, tidak seperti harimau atau ular. Ini problem.
Idealisme tripusat pendidikan menjadi terputus saat di sekolah. Padahal, sejatinya suasana kehidupan di sekolah dan di rumah (keluarga) memengaruhi perkembangan anak karena hal itu wahana penyemaian nilai-nilai karakter yang akan dijadikan sebagai acuan oleh anak dalam setiap tindakannya.
Di sinilah pula, proses interaksi itu menjadi penting dalam membentuk identitas diri seseorang (anak). Identitas merupakan suatu karakter yang dimiliki seseorang yang ia dapatkan sejak lahir maupun dari proses interaksi dengan yang lain. Contoh identitas sejak lahir seperti jenis kelamin, sedangkan identitas yang diperoleh melalui interaksi ialah sifat yang melekat pada dirinya.
Dari proses interaksi itulah, sinergisitas pada peran tripusat pendidikan merupakan keniscayaan agar dapat membentuk karakter anak yang ideal. Apabila anak-anak merasa tenteram ketika berada di sekolah, begitu juga saat tinggal di rumah. Meminjam ungkapan Darmiyati Zuchdi (2008: 134), mereka dapat diharapkan memiliki dorongan kuat untuk melaksanakan tugas sekolah dan tugas rumah dengan sebaik-baiknya.
Lebih dari itu, mereka akan dengan sukarela menerima dan mengamalkan nilai-nilai positif yang menjadi keyakinan mereka beserta seluruh anggota keluarga dan masyarakat sekitar.
Suasana positif
Upaya aktualisasi tripusat pendidikan itu membutuhkan suasana atau 'aura positif' pada tiap-tiap pusat, sekolah, keluarga, dan masyarakat. Schmuck (1983: 30) mengemukakan ada lima faktor pendukung dalam mengembangkan suasana positif di sekolah (termasuk pula di keluarga dan masyarakat), yaitu partisipasi, kepemimpinan, persahabatan, norma, dan kohesivitas.
Pertama, pihak sekolah, dalam hal ini guru, bekerja sama dengan cara menjalin komunikasi dengan keluarga, yang didukung pula masyarakat sekitar. Jika ingin mengembangkan suasana positif, guru perlu memberikan dorongan kepada anak-anak untuk mengungkapkan gagasan mereka, keputusan, dan berpartisipasi dalam menentukan tujuan belajar beserta prosedur pencapaiannya.
Kedua, di sekolah dan di lingkungan keluarga, kepemimpinan merupakan proses dinamis yang muncul di antara anak-anak. Kepemimpinan itu dengan sendirinya mengantarkan anak pada internalisasi dua fungsi, yakni fungsi tugas dan sosial-emosional.
Fungsi tugas seperti mengajukan pendapat, mencari dan memberikan informasi, serta mempelajari materi. Sementara itu, fungsi sosial-emosional berupa kegiatan memberikan dorongan atau motivasi, mengungkapkan perasaan, menyelaraskan pendapat, dan memberikan kesempatan berbicara.
Fungsi tugas dan sosial-emosional berguna untuk mewujudkan kepemimpinan yang efektif. Apabila kepemimpinan guru, orangtua, dan tokoh masyarakat dimiliki juga anak-anak, keberhasilan pendidikan amat mungkin dapat dicapai (Zuchdi, 2008: 137).
Ketiga, kelompok anak harus dikelola sedemikian rupa agar mereka cenderung berperilaku yang konstruktif dan produktif. Suasana yang kondusif untuk mengembangkan kreativitas dan produktivitas dipengaruhi nuansa persahabatan antarindividu, bukan kedengkian.
Keempat, norma memengaruhi keterlibatan anak dalam suatu pekerjaan dan berdampak pada kualitas hubungan antarpribadi. Aturan sekolah dan lingkungan keluarga hendaknya fleksibel dan terkoneksi sebab banyak perbedaan antara anak yang satu dan yang lainnya. Suasana kelas yang sportif, demikian juga suasana lingkungan keluarga, menyebabkan timbulnya perilaku toleran terhadap adanya perbedaan.
Kelima, kohesivitas berkenaan dengan perasaan anak terhadap seluruh teman sekolah dan anggota keluarga beserta masyarakat sekitar. Anggota kelompok yang kohesif biasanya lebih loyal terhadap solidaritas yang dibangun antarindividu maupun kelompok.
Inilah implikasi pembiasaan suasana positif yang menjadi unsur penting dalam lingkup tripusat pendidikan. Semoga.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved