Hari Anak Setiap Hari

Seto Mulyadi Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma
25/7/2018 03:30
Hari Anak Setiap Hari
(Ilustrasi---MI)

KEPUTUSAN Presiden (Keppres) Nomor 4 Tahun 1984 itu sangat singkat. Hanya terdiri dari lima pasal. Selain menetapkan 23 Juli sebagai Hari Anak Nasional, di Pasal 1, Pasal 5 keppres tersebut menyebut bahwa 'semua ketentuan yang mengatur Hari Anak Nasional yang telah ada dinyatakan tidak berlaku'. Pasal 5 itu mengundang pertanyaan tentang apa gerangan pengaturan yang pernah ada di kalangan junior di LPAI terkait dengan Hari Anak Nasional.

Membaca ulang catatan-catatan yang masih tersimpan di dalam laci hippocampus saya, semua bermula pada era Bung Karno. Walau memang tidak pernah diformalkan sehingga tidak memakai kata 'nasional', 1 Juni sempat dijadikan sebagai Hari Anak. Penentuan tanggal tersebut tidak terlepas dari bandul politik pada masa itu yang condong ke kiri. Pada masa itu 1 Juni seolah menjadi keseragaman bagi peringatan Hari Anak di negara-negara sosialis. Konsekuensinya hajatan Hari Anak di Indonesia pun berlangsung pada tanggal yang sama. Di Tanah Air, perhelatan tersebut didukung Gabungan Organisasi Penyelenggara Taman Kanak-Kanak Indonesia (GOPTKI).

Barangkali juga hasil tarik-menarik politik zaman itu, Hari Anak bergeser ke 17 Juni. Perpindahan tanggal itu dilakukan demi alasan menciptakan keselarasan dengan tanggal 17 yang juga merupakan hari proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Bulannya tetap dipertahankan di Juni. Jengah dengan latar politik yang menjadikan urusan anak laksana bola bekel, muncul arus balik. Beberapa tokoh saat itu, antara lain Bu Mardjaman (Ketua GOPTKI berikutnya) dan Bu Kasur, mengajak saya untuk membangun wacana tentang penentuan Hari Anak yang bebas dari tarik tambang politik. Idealnya, penentuan Hari Anak harus memiliki latar belakang yang benar-benar historis.

Namun, mesti diakui, pencarian jejak sejarah bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Alhasil, keluar pertimbangan pragmatis; penyelenggaraan Hari Anak sebaiknya jatuh pada waktu ketika kebanyakan siswa tengah menikmati libur sekolah, yaitu Juli. Alhamdulillah, semesta mendukung karena kemudian Undang-Undang Kesejahteraan Anak 'kebetulan' diresmikan juga pada 23 Juli 1979. Sejak itulah Hari Anak diperingati pada 23 Juli setiap tahunnya. Selanjutnya, mengkristalisasi tanggal tersebut sebagai momen resmi nan abadi, Pak Harto menetapkannya sebagai Hari Anak Nasional melalui Keppres No 4/1984. Sebagaimana tertulis pada alinea terdahulu, sejak itu bersihlah penentuan Hari Anak dari polarisasi politik.

Konsekuen dengan apa yang sudah dikeppreskannya, perayaan Hari Anak Nasional berlangsung rutin. Pak Harto dan Bu Tien pun tak pernah sekali pun absen. Saya menjadi saksi bahwa betapa pun protokoler Pak Harto dikenal sangat tertib bahkan ketat, sesi tanya jawab antara Pak Harto-Ibu Tien dan anak-anak yang hadir pada Hari Anak Nasional senantiasa berlangsung spontan. Tidak ada skenario, apalagi sensor terhadap pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan anak-anak kepada Kepala Negara. Memang, beberapa pertanyaan yang untuk ukuran masa itu tergolong sensitif sempat membuat saya dan rekan-rekan panitia deg-degan. Tapi, ya itu tadi, obrolan antara Pak Harto dan anak-anak terjalin secara alami. Jantung saya sempat beberapa kali terasa 'weleh-weleh', sementara Pak Harto malah terkekeh-kekeh. Selebrasi Hari Anak Nasional selalu khas dan penuh kenangan.

Salah satu yang meninggalkan kesan mendalam ialah ketika Bu Tien memanggil saya untuk membahas acara tersebut pada suatu senja di 1983 di Jalan Cendana. Kepada Bu Tien, saya sodorkan hasil coret-coretan sederhana saya di atas secarik kertas. Seorang ibu yang selalu bersanggul itu memberikan lampu hijau sehingga pada kunjungan berikutnya, saya datang kembali ke rumah beliau bersama dua orang arsitek. Bu Tien akhirnya mengirim saya ke Amerika Serikat dan Jepang untuk mematangkan konsep proyek yang kami bahas. Kelak, hasil pertemuan itu berbuah manis; Istana Anak-Anak Indonesia (IAAI) berdiri megah di Taman Mini Indonesia Indonesia. Prasasti peresmian IAAI ditandatangani Pak Harto pada 20 April 1986. Inilah kado indah Hari Anak Indonesia tahun itu.

Terus berlanjut
Selepas era Pak Harto, Hari Anak Nasional terus diselenggarakan. Giliran Pak Habibie yang tampil memesona dengan bernyanyi dan mendongeng di hadapan anak-anak di pekarangan Istana Merdeka. Raut muka dan gaya bertutur Pak Habibie sangat ekspresif. Mengejutkan sekaligus menyenangkan sekali menyaksikan sosok genius itu ternyata juga mempunyai bakat panggung yang atraktif. Tahun 2001 absen dari kenduri Hari Anak Nasional. Pasalnya, pada 23 Juli Gus Dur justru secara resmi mengakhiri masa kepresidenannya.
 
Kemudian, datang masa Bu Mega yang berlanjut dengan masa Pak SBY. Keduanya hadir pada perayaan Hari Anak Nasional dengan gaya yang mirip, yakni berdiri di podium menyemangati seluruh elemen bangsa untuk memperkukuh komitmen keberpihakan pada anak-anak Indonesia. Pak Jokowi tampil dengan mengulangi format ala Pak Harto. Tanya jawab santai di depan anak-anak. Interaksi presiden dan anak-anak tidak hanya pada 23 Juli.

Di luar Hari Anak Nasional, Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) beberapa kali mendapat kesempatan mengemas acara anak-anak yang juga dihadiri Pak Jokowi. Salah satunya ialah Jam Main Anak, perhelatan kumpul Presiden dan anak-anak di Istana Merdeka, yakni mereka mengasyikkan diri dalam serbaneka permainan tradisional.

Bukan hanya 23 Juli, setiap hari sejak 1 Januari hingga 31 Desember, sesungguhnya milik anak-anak Indonesia. Setiap waktu, di dalam Istana, di Taman Mini Indonedia Indah, di Taman Safari dan di seluruh persada Nusantara, anak-anak berhak untuk merayakan hidup mereka dengan sukacita yang bebas merdeka. Di seluruh hela napas kita pula, sebagaimana isi Keputusan Presiden tentang Hari Anak Nasional, mengalir panggilan hati untuk menggenggam tangan buah kita kepada amanah: menjadikan mereka sebagai anak yang berdarma bakti pada orangtua, insan yang terlibat penuh dalam pembangunan, serta patriot yang mengabdikan jiwa bagi nusa, bangsa, dan agama.

Sudah selayaknya penghormatan kita pada  hak-hak anak di negeri ini dapat berlangsung setiap hari sepanjang tahun. Semoga. Selamat Hari Anak Nasional.

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya