Selebritisasi Politik Menjelang Pemilu 2019

Nyarwi Ahmad Director for Presidential Studies-Decode UGM, Doktor Program Komunikasi dan Marketing Politik Bournemouth University Inggris
25/7/2018 03:15
Selebritisasi Politik Menjelang Pemilu 2019
(Grafis/Seno)

MENJELANG Pemilu 2019, gelombang migrasi para artis ke dunia politik terus terjadi. Kurang lebih 70 artis telah diusung sembilan partai peserta pemilu sebagai caleg DPR RI. Jumlah itu sedikit lebih besar jika dibandingkan dengan total selebritas yang diusung sebagai caleg dalam Pileg 2014 kemarin.
Mengapa jumlah artis yang migrasi ke gelanggang politik dari waktu ke waktu terus mengalami peningkatan? Apa saja dampaknya terhadap dunia politik dan manfaatnya bagi perkembangan demokrasi di Indonesia?

Selebritisasi politik
Selebritisasi politik bermula ketika jumlah selebritas bermigrasi ke dunia politik atau bermetamorfosis menjadi politisi kian meningkat dan kian mampu mentransformasikan celebrity capital yang dimilikinya sebagai modal kuat dalam memasuki gelanggang politik.
Ketika para selebritas itu telah memasuki arena politik, budaya selebritas akan memengaruhi atau bahkan mendominasi kehidupan, struktur, dan sistem politik. Proses ini kemudian diiringi dengan arus konvergensi arena kehidupan selebritas (celebrity sphere) dengan arena politik (political sphere) (Turner, 2004; Mancini, 2011; Wheeler, 2013; Dresdens, 2013).

Selebritisasi politik telah berkembang selama beberapa periode terakhir di negara-negara demokrasi. Di AS, Ronald Reagan, yang memiliki latar belakang aktor sinema, terpilih untuk pertama kalinya sebagai Gubernur California mewakili Partai Republik pada 1966. Untuk kedua kalinya pada 1970. Selanjutnya, 1980, ia juga memenangi nominasi kandidat presiden dari partai itu dan memenangi pilpres menjadi presiden ke-44 AS.

Selain Reagan, sejumlah selebritas sukses menjadi gubernur, senator baik nasional maupun lokal, dan wali kota. Mereka pada umumnya diusung partai mainstream di negara itu, yaitu Partai Demokrat dan Partai Republik. Dari Partai Demokrat, mereka yang sukses menjadi senator antara lain Al Franken, Sheila Kuehl, dan Stephen Peace.

Dari kalangan Partai Republik, mereka yang mewakili senator antara lain Fred Thompson dan Gerge Murphy. Mereka yang pernah berhasil menjadi gubernur antara lain Arnold Schwarzenegger, Gubernur California, dan John Davis Lodge, Gubernur Connecticut. Keduanya diusung Partai Republik.

Sejumlah selebritas juga meramaikan panggung politik di Inggris. Hanya saja, berbeda dengan di AS, mayoritas selebritas yang menjadi anggota parlemen di Inggris umumnya dicalonkan Partai Buruh. Beberapa di antaranya seperti Tracy Brabin, Michael Cahsman, Glenda Jackson, Cheryl Hall, dan Andrew Faulds.

Kecenderungan serupa terjadi di Italia. Cucu Benito Mussolini, Alessandra Mussolini, yang diusung Forza Italia menjadi anggota Senat pada 8 Maret 2013. Kemudian, 30 Juni 2014, Ia menjadi anggota Parlemen Eropa. Masih di negara itu, mantan bintang film porno, Ilona Staller, bahkan sejak 1979 telah aktif dalam dunia politik.

Tidak hanya di AS dan Eropa Barat, tren serupa juga berlangsung di Asia. Hingga saat ini, kurang lebih terdapat 50-an selebritas yang pernah memasuki gelanggang politik. Beberapa di antaranya gagal menduduki jabatan politik. Namun, banyak juga yang terpilih sebagai anggota parlemen nasional dan lokal. Tren serupa terjadi di India, juga Sri Lanka, meski jumlah mereka lebih kecil.

Bagaimana dengan di Indonesia? Sejak masa Orba, sejumlah selebritas ikut terlibat dalam arena politik, khususnya menjelang laga pemilu. Ada beragam peran yang mereka mainkan, mulai sekadar penghibur, endorser dan vote getter, hingga caleg (Ginting, 2008; Danial, 2009, Ufen, 2010).

Tren itu juga terus berlangsung hingga pascareformasi. Hanya saja, posisi dan peran selebritas sedikit agak beda. Sejak Pemilu 1999, mereka tidak sekadar menjadi pelengkap dalam kegiatan kampanye dan aktivitas politik. Lebih dari itu, banyak di antara mereka yang kemudian dipinang partai untuk dicalonkan sebagai calon kepala daerah, wakil kepala daerah, atau caleg.

Selama beberapa periode pemilu legislatif pascareformasi, ada kecenderungan jumlah selebritas yang menjadi caleg terus meningkat. Total mereka yang terpilih sebagai anggota legislatif juga terus meningkat. Persentase dari keseluruhan caleg selebritas mendapatkan kursi di Senayan pada Pileg 2004 ialah 18%. Jumlah itu meningkat menjadi 31% pada Pileg 2009 dan 29% pada Pileg 2014.

Mestinya bukan sekadar pelengkap
Terlepas dari sejumlah konsekuensi negatif bagi sistem politik dan demokrasi di Indonesia, kehadiran caleg selebritas sebenarnya dapat memberikan manfaat. Pertama, selebritas yang maju sebagai caleg atau direkrut partai pada umumnya memiliki latar belakang yang terkait dengan industri kreatif. Pengalaman dan kemampuan itu dapat dimanfaatkan, tidak hanya untuk menumbuhkan basis ekonomi kreatif di tiap dapil. Tapi, dapat juga membantu para tokoh budayawan lokal dan mempromosikan sumber daya kebudayaan yang mereka miliki agar lebih kompetitif di level nasional dan global.

Kedua, caleg selebritas umumnya memiliki daya pesona dan gaya komunikasi personal memikat. Jika dikemas dengan baik, kemampuan itu sangat berguna membantu parpol mengomunikasikan program-program unggulan mereka ke segmen pemilih sasaran.

Dengan mencalonkan caleg selebritas yang memiliki kemampuan itu, parpol-parpol mapan memiliki peluang memperluas jangkauan pengaruh mereka di dapil marginal dan mendapatkan tambahan kursi di dapil itu. Bagi parpol menengah, kecil, dan baru, langkah itu juga bisa membantu untuk lebih percaya diri berebut kursi di dapil kompetitif.

Ketiga, para selebritas yang menjadi caleg pada umumnya tidak hanya memiliki kemampuan sebagai political endorser. Mereka juga memiliki potensi sebagai political influencers. Kemampuan itu sangat penting untuk meningkatkan partisipasi politik pemilih dalam arena pemilu, baik pileg dan pilpres, khususnya para pemilih apolitis dan antipartai. Potensi seperti itu sangat berguna sekali untuk meminimalkan jumlah pemilih golput di setiap dapil yang ada di setiap wilayah di Indonesia.

Agar peluang-peluang di atas dapat diwujudkan, tentu para caleg selebritas harus mampu bekerja sama dengan para aktivis dan pimpinan parpol dalam merumuskan strategi dan manajemen komunikasi politik mereka secara maksimal. Tanpa itu, rasanya kehadiran mereka dalam pesta demokrasi hanya menjadi pelengkap. Jika itu yang terjadi, rasanya mustahil bagi kita untuk melihat sosok caleg selebritas yang bisa menjadi kader unggulan partai dan menjadi politisi kelas satu.

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya