Polisi yang Kasar dan Polisi yang Simpatik

Bagong Suyanto Guru Besar FISIP Unair dan Dosen di Prodi S-2 Kajian Ilmu Kepolisian Sekolah Pascasarjana Unair
17/7/2018 00:00
Polisi yang Kasar dan Polisi yang Simpatik
()

CITRA polisi kembali tercoreng. Video oknum polisi yang menendang ibu-ibu di sebuah minimarket di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, seketika viral dan membuat masyarakat geram sekaligus prihatin. Meski ibu-ibu yang diperlakukan kasar diduga ialah bagian dari komplotan pencuri, perlakuan kasar AKBP M Yusuf yang menendang wajah dan memukul kepala dua orang ibu dan satu anak dinilai kelewat batas.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian diberitakan marah besar atas kelakuan anak buahnya yang tidak simpatik itu. Kelakuan kasar oknum polisi di Bangka Belitung itu dinyatakan tidak mencerminkan karakter ideal polisi yang seharusnya profesional, modern, dan tepercaya (promoter). AKBP M Yusuf pun kini telah dicopot dari jabatannya dan telah diproses menurut ketentuan hukum yang berlaku.

Di Indonesia, kasus tindakan oknum polisi yang tidak simpatik dan kasar, sebetulnya tidak sekali dua kali terjadi. Di luar kasus yang terjadi di Bangka Belitung, tidak sedikit kasus yang memperlihatkan sikap oknum polisi yang kasar dan tidak profesional.
Walaupun jumlahnya mungkin tidak lebih dari 5 atau 10% dari jumlah polisi yang ada di Tanah Sir, akibat nila setitik, bukan tidak mungkin citra polisi secara keseluruhan menjadi kurang baik di mata masyarakat.

Faktor penyebab
Faktor yang menjadi penyebab rusaknya citra polisi sebetulnya bukan hanya perlakuan kasar yang dilakukan oknum-oknum polisi tertentu. Berbagai tindakan indisipliner, korup, dan perlakuan semena-mena yang dilakukan oknum polisi kerap membuat citra polisi di masyarakat menjadi ternoda.

Selama ini, masyarakat cenderung apriori terhadap citra polisi, sebab apa yang mereka lihat jauh dari harapan dan citra polisi yang ideal. Persoalannya di sini bukan soal berapa jumlah oknum yang melakukan kesalahan, melainkan lebih pada kekecewaan masyarakat yang ujung-ujungnya melahirkan public complaint, yakni berbagai keluhan masyarakat atas kelakuan oknum polisi yang menodai reputasi lembaga penegak hukum ini.

Seberapa pun banyak polisi telah melakukan tugasnya dengan baik, sering hal itu dipandang sudah menjadi tugasnya. Sementara itu, jika ada satu dua oknum polisi yang berbuat kesalahan, jangan kaget dampaknya menjadi sangat luas.
Kapolri Jenderal Tito Karnavian sendiri sebetulnya sudah berkali-kali menegaskan komitmennya untuk membangun citra polisi yang menjadi sahabat masyarakat. Akan tetapi, karena berbagai faktor, upaya Kapolri untuk membangun sikap profesional polisi, dan dipercaya masyarakat hingga kini masih menghadapi berbagai masalah.

Sejumlah faktor yang menjadi penyebab kenapa ada sebagian polisi yang masih melakukan hal-hal yang tidak simpatik, pertama, berkaitan dengan iklim pendidikan dan sosialisasi sejak awal yang memang sudah terbiasa dengan kekerasan.
Dalam proses pendidikan di lembaga pendidikan kepolisian, sudah bukan rahasia lagi di sana ada hukuman main tendang dan tempeleng bagi calon polisi yang dinilai melanggar disiplin. Model pendidikan yang keras seperti ini, bagi sebagian polisi bukan tidak mungkin lantas tumbuh menjadi subkultur dan diyakini sebagai cara mereka membangun kinerjanya.

Kedua, berkaitan dengan dilema yang dihadapi polisi dalam menjalankan tugasnya, yakni sebagai pengayom dan pengawas keamanan masyarakat. Sebagai pengayom, polisi dituntut untuk bersedia melayani kepentingan dan melakukan pendekatan kemitraan dengan masyarakat. Akan tetapi sebagai pengawas, polisi memiliki kewenangan untuk melakukan penindakan kepada para penjahat dan bahkan tindak kekerasan jika memang diperlakukan.

Dalam menghadapi orang-orang tertentu yang melakukan tindakan kriminal, sebagian polisi memang tak segan melakukan tindakan tegas. Dalam menghadapi ulah begal, perampok, teroris, atau pemerkosa yang jahat, sudah menjadi tugas polisi untuk melakukan tindakan yang tegas, dan bahkan jika perlu menembak pelaku kalau memang dirasa mengancam keselamatan nyawa polisi. Namun, menghadapi ibu-ibu yang tampak mengiba-iba, dan meminta ampun, tentu tidak harus polisi melakukan tindakan kasar seperti yang terjadi di Bangka Belitung.

Stabilitas dan kemampuan mengendalikan emosi, tetap harus menjadi pegangan polisi dalam menjalankan tugasnya agar tidak kontra-produktif. Kecerdasan untuk memainkan peran sesuai kondisi di lapangan ialah tantangan yang senantiasa dihadapi polisi dalam menjalankan tugasnya sehari-hari.

Polisi yang simpatik
Taylor (1967) dalam bukunya yang klasik berjudul The Smiling Police, menyatakan keberhasilan polisi dalam menjalankan tugas sebetulnya ditentukan oleh simpati dan kedekatan hubungannya dengan masyarakat. Artinya, sejauh mana polisi bersikap ramah, mampu menjalankan amanah yang diberikan untuk mengayomi dan menjaga keselamatan masyarakat, bukan semata ditentukan oleh senjata yang dimiliki atau kewenangannya untuk melakukan penindakan, melainkan juga ditentukan oleh citra yang berhasil dibangun dan bagaimana polisi mampu mengembangkan hubungan yang baik dengan masyarakat.

Cerita tentang polisi yang tetap sabar meski dimaki ibu-ibu di jalan raya tatkala menjalankan tugasnya, tindakan polisi yang dengan telaten membantu menyeberangkan siswa, atau tindakan heroik polisi yang mengorbankan nyawa demi memberantas terorisme ialah contoh tindakan polisi yang perlu dikedepankan.

Di era masyarakat yang makin kritis, tidaklah mungkin polisi hanya mengandalkan kewenangannya memegang senjata dan tindakan tegas untuk menciptakan stabilitas di masyarakat.

Polisi di era postmodern haruslah polisi yang profesional, modern, dan dipercaya masyarakat. Program menjalin kerja sama dan persahabatan dengan masyarakat perlu dikembangkan karena dengan jumlah personel dan dukungan dana yang terbatas tidaklah mungkin polisi mampu menjamin keamanan masyarakat secara keseluruhan.

Ketika ancaman tindak kriminal makin massif dan ulah penjahat juga makin berani, upaya pencegahan dan upaya kuratif untuk menangani gangguan keamanan masyarakat niscaya hanya dapat dilakukan jika polisi dan masyarakat menjalin kerja sama yang harmonis. Dalam membangun citra sebagai polisi yang simpatik dan sahabat masyarakat ialah fondasi awal untuk meningkatkan kinerja aparat kepolisian di masa depan.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya