Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TENTU bukan tanpa alasan jika Stanford University salah satu universitas terbaik di Amerika meminta Steve Jobs berpidato dalam perayaan wisuda mahasiswa angkatan ke-114 mereka. Jobs sama sekali bukanlah lulusan Stanford. Bahkan, dirinya tidak pernah lulus dari bangku kuliah. Namun, mungkin Jobs ialah representasi yang paling tepat untuk menggambarkan ‘mereka yang memiliki mimpi dan bekerja keras untuk mewujudkannya’.
Steve Jobs ialah seorang pemberontak dalam hidup yang terlalu penuh pakem yang memiskinkan imajinasi. Sementara itu, sejarah manusia memerlukan imajinasi dan kreativitas untuk membuatnya tetap bergerak.
Dalam pidato yang berkisar hanya 15 menit, Jobs menyatakan tiga hal saja tentang mengaitkan titik-titik kehidupan yang dialami, cinta, dan kehilangan, serta yang terakhir kematian.
Pada bagian menimbang dan mengaitkan masa lalu dan kini, Jobs seperti menegaskan, layaknya kredo yang agak susah disangkal, “Sekali lagi, kamu tidak bisa memahami hidup tanpa menimbang masa lalu. Yang perlu kamu percaya adalah bahwa semua hal yang terjadi di masa lalu akan menentukan masa depanmu. Kamu hanya perlu percaya pada sesuatu, nyali, takdir, hidup, karma, atau apa pun kamu menyebutnya. Kepercayaan akan hal-hal itu tidak pernah mengecewakan saya dan membuat perbedaan besar dalam hidup saya.”
Jobs sadar sejarah hiduplah yang membentuknya. Hidup yang pernah dilaluinya, membentuk mimpi dan melatihnya untuk meraih mimpi itu. Penting untuk mengingat dan menimbang masa lalu, tapi Jobs juga menegaskan bahwa menimbang masa lalu bukan berarti meratapi nasib, melainkan lebih pada peneguhan komitmen untuk penaklukan masa depan. Memiliki mimpi dan mengambil risiko untuk mencapainya.
Masa lalu dan menjadi underdogs
Musibah dan bencana begitu juga kesialan atau nasib buruk selalu susah diterima dan berpotensi meruntuhkan semangat. Di Aceh, konflik politik yang berkepanjangan dan kemudian tsunami, pada awalnya tampak sebagai halangan besar tumbuhnya harapan pendidikan yang lebih baik. Keduanya merupakan ujian yang mengikis mimpi pendidikan sebagian anak-anak Aceh.
Namun, pada saat bersamaan, ia juga membentuk dan memberi pelajaran bagi semua orang. Konflik politik dengan kekerasan dan tsunami juga menghadirkan kesempatan untuk menguji batas kemampuan, keberanian bermimpi, dan berharap pada masa depan. Ia justru memberikan pengalaman menjadi apa yang disebut Malcolm Gladwell mereka yang mengalami remote misses, perasaan kuat, dan tak terkalahkan justru setelah selamat dari sebuah bahaya besar (Gladwell:2013).
Di Sekolah Sukma Bangsa, seperti layaknya pepatah, “Apa yang tidak bisa membunuhmu, membuatmu lebih kuat,” anak-anak dan guru dari penjuru Aceh bergumul dengan kesulitan, ketidaknyamanan, dan tantangan untuk menjadi lebih baik sejak ombak besar menggulung hampir semua yang bisa diharapkan.
Selama itu, sebagian mereka menjadi lebih siap, lebih kuat, dan lebih baik. Pada mulanya sepertinya tak banyak yang bisa diharapkan dari mereka yang menjadi korban. Mereka ialah yang tidak lagi memiliki apa-apa. Mereka yang tidak bisa apa-apa. Mereka kehilangan yang terdekat meskipun selalu ada sedikit harap. Mereka berikhtiar di ’Sekolah Tsunami’ Sekolah Sukma Bangsa Aceh di Pidie, Bireuen, dan Lhokseumawe yang memang didirikan dan dibuka untuk mereka sejak 14 Juli 2006.
Para siswa, guru, dan staf sekolah layaknya ‘David’ yang menghadapi keras, sulit, dan liatnya ‘Goliath’ kehidupan dan harapan untuk masa depan. Namun, di titik inilah asal kekuatan mereka. Di saat semua tampak muskil dan mustahil, anak-anak, guru, karyawan korban bencana tsunami dan konflik politik menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan segala kesulitan dan keinginan yang jauh lebih kuat untuk membuat masa depan mereka lebih baik.
Mereka terbiasa tidak lagi punya apa-apa yang perlu dipertaruhkan dan dikhawatirkan. Mereka tidak memiliki ketakutan berlebihan untuk setiap risiko dan tantangan. Mereka bekerja keras selama 3, 6, atau 12 tahun untuk mencoba meraih harapan mereka di sekolah.
Mereka belajar. Pada saat yang sama mereka membuat guru-gurunya juga belajar kembali tentang semangat dan menghargai hidup, seperti mereka: menjadi yang tidak dianggap; menjadi underdogs.
Sebagian dari mereka, saat ini telah mencapai apa yang mereka inginkan. Sebagian lainnya akan menyusul. Mereka sedang menjadi. Yang pasti anak-anak itu memiliki semua syarat untuk menaklukkan mimpinya. Saat ini sebagian dari mereka ialah para pemenang dan tidak lagi bisa dianggap underdogs. Namun, pengalaman mereka sebagai underdogs di masa lalu akan selalu menentukan bagaimana mereka menghadapi setiap tantangan hidup di masa depan.
Sekolah Sukma Bangsa
Musibah dan bencana begitu juga kesialan atau nasib buruk mungkin perlu selalu diingat sebagai titik balik. Bukan sebagai penanda untuk mulai meratap, melainkan sebagai momentum untuk menentukan dan menunjukkan sikap tidak gampang menyerah menuju hidup yang lebih baik dan menentukan masa depan.
Meminjam Steve Jobs, layaknya menghubungan titik-titik dalam kehidupan kita. Jika hal buruk di masa lalu menjadi belenggu untuk maju dan hanya dijadikan berhala untuk setiap ratapan ketidakberdayaan, -sengaja atau tidak—kita abai pada esensi pelajaran dari setiap bencana.
Para korban yang selamat, mereka yang kehilangan, mereka yang tidak dianggap, seperti mereka yang telah 12 tahun bersama di Sekolah Sukma Bangsa Aceh ialah mereka yang lebih kuat dan lebih baik. Mereka tak mudah dikalahkan. Ada satu masa mereka terpuruk, tetapi masa itu menempa mereka menjadi yang terus belajar, menjadi mereka yang berani mengambil risiko, mereka yang berproses.
Sampai saat ini sekelompok anak muda yang bersemangat, terus bekerja dan saling belajar, menyatukan visi, menyediakan lingkungan belajar yang positif, dan berkelanjutan bagi warga belajar untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang memiliki kemampuan akademis, terampil, dan berakhlak mulia. Mereka terus berupaya menjadi Sekolah Sukma Bangsa.
Mereka dalam proses ‘terus menjadi’. Menjadi sukma bagi pendidikan bangsa yang lebih baik. Belajar dari masa lalu, mereka harus berderap maju dan semoga menuju masa depan yang lebih baik. Lagi pula, seperti dikatakan Soren Kierkegaard, bukankah hidup hanya bisa dipahami dengan menimbang masa lalu, tetapi tidak bisa tidak harus dijalani menuju masa depan? Selamat ulang tahun ke-12, Sekolah Sukma Bangsa!
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved