Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
JIKA kontestasi pilkada tak dibarengi dengan sikap ksatria, maka mereka yang kalah pasti akan membuat gara-gara. Fenomena seperti inilah yang terjadi di Jawa Barat setelah lewat hitung cepat (quick count), pasangan calon gubernur Ridwan Kamil dan cawagub Uu Ruzhanul Ulum (Rindu), keluar sebagai pemenang.
Lewat hitung cepat yang dilakukan lima lembaga survei kredibel (bersertifikat), dalam pilkada yang digelar secara serentak di 171 daerah itu, pasangan Rindu memperoleh suara pada kisaran 32-33 persen.
Kabar terbaru, berdasarkan sistem informasi penghitungan suara (Situng) atau real count Pilgub Jabarsuara yang masuk sudah mencapai 90,90 persen pada Jumat 29 Juni 2018 pukul 08.20 WIB pasangan nomor urut 1 Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum berada di posisi pertama dengan perolehan suara 33,22 persen.
Namun, hitung-hitungan menggunakan metode ilmiah dengan tingkat akurasi yang tinggi itu diragukan kubu pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik) yang didukung Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
DPD Partai Gerindra Jabar tak memercayai hasil quick count beberapa lembaga survei yang menempatkan pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik) di posisi kedua dalam Pilgub Jabar 2018. Mereka mengaku lebih memercayai hasil quick count internal partai.
Dalam hasil hitung cepat yang dilakukan internal Gerindra, pasangan Asyik unggul tipis dibanding pasangan Rindu. Mereka menggunakan tim dalam pengambilan sampel. Tim pertama mengambil sampel 1.200 TPS, sementara tim kedua 600 TPS.
Hasil penghitungan cepat tersebut menunjukkan Sudrajat-Syaikhu menang. Di tim pertama, Asyik memperoleh 30,69 persen, sementara Rindu 30,44 persen. Hasil di tim kedua juga sama, pasangan Asyik memperoleh 31,72 persen, Rindu 30,6 persen.
Mengapa Gerindra dan pastinya juga PKS keberatan dengan hasil pilkada Jabar yang digelar 27 Juni itu? Alasan utama karena ada ketidakrelaan Jabar yang adalah basis PKS dan Gerindra terdegradasi.
Selama ini publik mengenal Jawa Barat adalah kantong PKS, terutama Bandung dan sekitarnya. Kader PKS di provinsi ini diopinikan memiliki militansi yang luar biasa.
Posisi Ahmad Heryawan (PKS) yang menduduki jabatan sebagai gubernur provinsi ini hingga dua periode adalah bukti bahwa Jabar dikuasai PKS. Oleh sebab itu ketika Gerindra "menggugat" kemenangan Rindu, PKS tentu ikut bertepuk tangan.
Ketidakberuntungan memang sedang melanda dua sejoli Gerindra dan PKS dalam hajatan pilkada kali ini. Dua partai itu hanya unggul di Kaltim dan NTB. Ya hanya di dua provinsi itulah kandidat cagub yang murni mereka dukung meraih kemenangan.
Beralasan jika Gerindra dan PKS nangis bombay dan akhirnya cari-cari perkara, terutama di Jawa Barat. Saya bisa pahami jika mereka kecewa dan sedih, sebab demi memenangkan pasangan Asyik, tim sukses dan pendukungnya sudah melakukan copy-paste pilkada DKI Jakarta.
Ujaran kebencian, fitnah dan hoaks pun disebar untuk memojokkan Rindu. Sehari sebelum pencoblosan, di Jabar dan medsos pun masih tersebar selebaran berisi fitnah Ridwan Kamil pendukung LGBT dan masya Allah gay. Kejam sekali. Dengan cara-cara menjijikkan seperti ini, mereka berharap Ridwan kalah telak layaknya Ahok di Jakarta.
Bahwa kandidat gubernur-wakil gubernur mereka akhirnya kalah, itu tentu di luar dugaan. Celah untuk protes adalah angka-angka yang muncul dalam quick count yang sudah terlanjur dipercaya publik. Sayang, lembaga quick count yang dibanggakan Gerindra dan memenangkan Asyik, bikinan sendiri, sehingga sangat wajar jika lembaga itu akhirnya juga mengunggulkan Asyik.
Saya menduga hasil quick count tandingan itu sengaja dilemparkan ke publik sekaligus untuk mengganggu proses pilkada termasuk hasil quick count resmi yang oleh Media Indonesia dalam editorialnya disebut bahwa hitung cepat "bukan indikator kemenangan khayalan".
Di mata Gerindra dan PKS, hasil quick count yang menghasilkan 33 persen buat keunggulan Rindu mungkin masih dianggap fiksi. Ya, khayalan, sedangkan fakta yang sesungguhnya adalah quick count versi mereka.
Jika pun kemudian real count KPU menghasilkan fakta yang sama dengan quick count lima lembaga survei yang kredibel, masih ada celah buat Gerindra dan PKS untuk mengajukan keberatan atau protes ke Ketua Umum Partai Idaman, Rhoma Irama.
Lho, apa pasal? Teman saya memberi tahu, pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik) kalah gara-gara lagu bernada kebencian yang diciptakan Rhoma Irama yang syairnya seperti ini: "...kenapa yang enak-enak itu yang dilarang, kenapa yang asyik-asyik, itu diharamkan..."(*)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved