Pascapencoblosan dan Semangat Piala Dunia

Iding Rosyidin Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan penggila sepak bola
29/6/2018 02:05
Pascapencoblosan dan Semangat Piala Dunia
(Ilustrasi)

PILKADA serentak 2018 telah berakhir pada 27 Juni 2018. Masyarakat Indonesia yang memiliki hak pilih pada u­mumnya telah menunaikan tugasnya. Mereka datang berduyun-duyun ke TPS untuk memberikan pilihan secara bebas kepada pasangan calon masing-masing tanpa ada tekanan dan paksaan.

Sejauh ini, perhelatan demokrasi itu berlangsung secara aman dan damai. Tidak ada keributan yang berarti, baik menjelang maupun pada saat hari pencoblosan. Situasi ini tentu perlu diapresiasi. Hal ini berarti tingkat kematangan masyarakat kita untuk berdemokrasi, semakin hari semakin matang.


Semangat juara

Yang menarik, pilkada serentak kali ini diselenggarakan berbarengan dengan gelaran Piala Dunia Rusia 2018. Memang peristiwa hanyalah kebetulan. Namun, kalau diselami secara lebih jauh, sebenarnya ada titik persinggungan antara kedua perhelatan tersebut. Dengan kata lain, terdapat kemiripan antara kedua dunia tersebut.

Baik dunia politik (pilkada) maupun dunia bola (piala dunia), sesungguhnya mengemban satu misi yang sama: menjadi juara. Tak ada satu pun kontestan, di Pilkada 2018 atau Piala Dunia Rusia 2018, yang tidak ingin tampil sebagai pemenang. Semuanya pastilah memiliki hasrat yang tinggi untuk menjadi pemenang.

Oleh karena itu, tidak meng­herankan jika para kontestan itu berjuang habis-habisan, mengeluarkan segenap daya dan upayanya untuk meraih titel yang diidam-idamkannya itu. Berbagai cara dan strategi pemenangan dirancang sebaik mungkin. Tentu saja, hal itu dilakukan dalam batas-batas aturan yang telah disepakati bersama.

Para penonton dan juga para pendukung dari setiap tim ikut terlibat pula dalam perhelatan tersebut. Justru dukungan merekalah yang menjadikan perhelatan itu tampil mengesankan atau enak ditonton. Selama tidak ada pelanggaran berat yang dilakukan para kontestan, pertandingan itu berjalan menarik dan layak dinikmati.


Semangat fairplay

Dalam setiap kompetisi, yang tampil sebagai pemenang hanya satu tim atau satu pasangan. Sekian banyak kontestan yang berlaga, tidak mungkin bisa menjadi juara semua. Hanya yang benar-benar berjayalah yang bisa dinobatkan sebagai jawara atau pemenang.

Ketika pemenang sudah ditentukan, siapa pun pemenang itu, semua pihak tentu harus menghormatinya. Mereka-mereka yang belum mendapatkan kesempatan untuk menang alias kalah tidak perlu merasa kecewa apalagi memiliki rasa sakit hati terhadap sang pemenang. Sebaliknya, mereka mesti berlapang dada dan mendukungnya.

Dalam dunia bola, semangat seperti itu lazim terjadi. Di semua kompetisi, baik di liga domestik, liga champions, sampai piala dunia, penghormatan terhadap pemenang sudah merupakan kebiasaan. Bahkan jika sang pemenang itu, sebelumnya tidak pernah diunggulkan, ia tetap dihormati layaknya sebagai sang pemenang.

Semestinya demikian pula yang terjadi dalam dunia politik. Semua kompetisi politik, baik pilkada maupun pemilu, hanya memberikan satu pasangan sebagai pemenang. Karena itu, pihak yang kalah, mau tidak mau, harus menghormati pasangan mana pun yang telah tampil menjadi pemenang tanpa perlu merasa sakit hati.

Kita berharap pilkada serentak 2018 yang baru saja berakhir juga mengusung semangat fairplay. Sudah ada beberapa pihak yang telah dinyatakan sebagai pemenang di sejumlah daerah. Meski masih merupakan versi hitung cepat (quick count), biasanya hasilnya tidak akan jauh berbeda dengan versi hitungan manual (real count) oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Mungkin di daerah tertentu, ada pasangan calon yang sebelumnya diunggulkan oleh berbagai pihak akan muncul sebagai jawara. Namun, faktanya, prediksi itu meleset, justru lawannya yang menjadi pemenang.

Dalam situasi seperti itu, para pendukungnya tidak perlu gusar apalagi berkeinginan untuk membuat onar. Alih-alih, mereka harus melihat peristiwa tersebut sebagai sesuatu yang biasa, bukan hanya dalam dunia politik, melainkan juga dalam kehidupan secara umum. Bukankah tidak semua harapan dapat kita wujudkan dalam kehidupan nyata?  

Bukankah Timnas Jerman, sebagai salah satu raksasa bola Eropa, sekaligus juara bertahan Piala Dunia 2014 di Brasil, harus bertekuk lutut oleh tim Asia yang tidak terlalu diunggulkan, Korea Selatan? Namun, itulah yang terjadi. Apa pun alasannya, Jerman, mau tidak mau, mesti angkat koper terlebih dahulu.

Yang lebih elegan ialah bagaimana kemudian pihak yang kalah itu meng­evaluasi atas kekalahan tersebut. Tim-tim unggulan di piala dunia yang tergusur dari pertandingan, bahkan ada gugur sejak dari babak kualifikasi seperti Italia dan Belanda, jelas mereka kini tengah melakukan evaluasi besar-besaran atas performa buruknya. Tentu dengan tekad di piala dunia berikutnya mereka bisa tampil kembali sebagai kontestan.

Pilkada tahun ini memang beraroma panas. Sesuai dengan namanya tahun politik, kontestasi politik ini dipandang sebagai bagian dari permulaan perang menuju Pilpres 2019. Tidak heran kalau suasana gaduh sangat terasa. Saling serang antar pendukung, bahkan kadang-kadang melebihi batas yang ditentukan, kerap terjadi.

Kekalahan di pilkada ini, dalam benak para kontestan dan para pendukungnya, akan berimbas pada kekalahan di pilpres. Karena itu, tidak heran kalau banyak cara dilakukan demi menggenggam kemenangan. Pilkada DKI lalu, bagi sebagian kelompok, misalnya, dijadikan baro­meter untuk pilkada di daerah-daerah lainnya.

Maka, strategi yang dilakukan pada saat itu coba diterapkan juga di pilkada ini, meski hasinya tidak terlalu sesuai dengan yang diharapkan. Namun, pada akhirnya publik sudah mengetahui kelompok mana yang menjadi pemenang pilkada serentak 2018 ini.

Sebaiknya, semangat fairplay diterapkan dan dijunjung tinggi sebagaimana halnya yang terjadi di sepak bola. Justru dengan semangat seperti itu, pihak yang kalah pun akan diapresiasi oleh banyak pihak.

Dengan demikian, sebagai publik, kita hanya bisa mengatakan, mari hormati siapa pun pemenang Pilkada 2018, sebagaimana kita juga akan mengapresiapi negara mana pun yang akan tampil sebagai jawara baru Piala Dunia Rusia 2018. Kita sudah melakukan pencoblosan, maka saatnya kini mendukung mereka yang menang.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya