Doa Kemenangan

Dony Tjiptonugroho Redaktur Bahasa Media Indonesia
24/6/2018 01:40
Doa Kemenangan
(MI/Adam Dwi)

SEJAK kecil ketika Hari Raya Idul Fitri tiba, saya biasa bersama keluarga bersilaturahim, dari tetangga terdekat hingga kerabat orangtua.

Ketika berjumpa, saya menyalami mereka sambil berkata satu di antara dua kalimat berikut. Yang pertama “Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin.” Yang kedua “Selamat Idul Fitri, minal ‘aidin wal faizin.” Secara bergantian, kedua kalimat itu saya ucapkan. Ketika rumah yang kami datangi berisi banyak orang yang otomatis bermakna banyak salaman, kalimat saya ringkas. Yang pertama “Mohon maaf lahir batin.” Yang kedua “Minal ‘aidin wal faizin.”

Saya mengucapkannya bergantian lancar-lancar saja. Dari satu Idul Fitri ke Idul Fitri berikutnya begitu. Setelah saya remaja, bertambahlah pengetahuan. Ceramah-ceramah menjelaskan Minal ‘aidin wal faizin bukan berarti ‘mohon maaf lahir batin’. Kata min berarti ‘termasuk’, al-’aidin ‘orang-orang yang kembali’, wa ‘dan’, dan al-faizin ‘menang’. Jadi, secara bahasa, minal ‘aidin wal faizin berarti ‘termasuk dari orang-orang yang kembali sebagai orang yang menang’. Intinya itu doa ‘Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali kepada fi trah dan mendapat kemenangan’. Nabi memang bersabda, puasa Ramadan ialah perang terbesar. Perang itu harus dimenangi.

Namun, pemaparan anggota Komisi Fatwa MUI Arwani Faishal yang disitat BBC Indonesia (23/6/2017) membuka perspektif khas muslim Indonesia tentang puasa Ramadan dan Idul Fitri yang seturut dengan sabda Nabi. Menurut Arwani, kalimat itu sejak awal sebuah doa yang populer di kawasan Melayu, termasuk Indonesia dan Malaysia, yang berasal dari para pedagang Arab.

Bentuk lengkapnya Ja alanallahu wa iyyakum minal ‘aidin wal faizin (Semoga Allah menjadikan kami dan kamu semua termasuk orangorang yang kembali sebagai orang yang menang). Ia menambahkan, ada kalangan yang menyebutkan kalimat itu menjadi ungkapan kelegaan setelah mendapatkan kemenangan dalam peperangan.

Kata kunci ‘mendapatkan kemenangan dalam peperangan’ itu selaras dengan hadis Nabi bahwa berpuasa Ramadan berarti menghadapi peperangan yang lebih besar, bahkan yang terbesar dari pertempuran yang sebelumnya dialami muslim di zaman Nabi. Itu disebabkan berpuasa ialah berjuang melawan diri dan hawa nafsu sendiri. Itu perjuangan paling dasar dan utama.

Dengan demikian, konsep keluar dari ‘peperangan Ramadan’ sebagai orang yang dapat melawan diri dan hawa nafsu sendiri itulah yang disyukuri dan diselamati dengan ungkapan Ja alanallahu wa iyyakum minal ‘aidin wal faizin.

Berikutnya, seperti sudah menjadi karakter berbahasa penduduk Indonesia, kalimat atau ungkapan panjang lambat laun lazim diringkas. Dalam hal ini, yang tinggal dan populer dipraktikkan ialah Minal ‘aidin wal faizin.

Jadilah doa khas muslim Indonesia Minal ‘aidin wal faizin yang berbeda dengan doa muslim di Arab, yakni Ied mubarak, dan doa sahabat Nabi, Taqabbalallahu minna wa minkum. Namun, semua tetap doa dan itu semua doa yang menyatukan.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya