Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SECARA lahiriah mudik bagi Pandawa ialah pulang ke kampung halaman, tanah kelahiran, Istana Astina. Dari aspek spiritual, Pandawa kembali ke asal-muasal setelah lulus menunaikan tugas dan tanggung jawab sebagai kesatria di marcapada.
Episode mudik ini dilakoni Pandawa setelah merampungkan kewajiban dalam perang Bharatayuda. Ini puncak drama perseteruan mereka dengan darah daging sendiri, Kurawa. Kemenangan mereka dalam perang itu merupakan pembuktian hukum jagat bahwa kebenaran menang atas kezaliman.
Pandawa yang berjumlah lima orang ialah putra Pandu Dewanata-Kunti/Madrim. Sementara itu, Kurawa, yang berjumlah 100 orang, ialah putra Drestarastra-Gendari. Mereka semua lahir dan tumbuh di Astina.
Drestarastra dan Pandu ialah putra Raja Astina Prabu Kresnadwipayana dari ibu yang berbeda.
Drestarastra lahir dari rahim istri pertama, Ambika, sedangkan Pandu lahir dari istri kedua, Ambalika. Masih ada saudara mereka lain ibu, Yama Widura, dari istri ketiga bernama Datri.
Turun takhta
Dalam kisahnya, Kurawa merasa berhak atas kekuasaan di Astina. Menurutnya, yang nglungsur keprabon (menggantikan kedudukan raja) Kresnadwipayana seharusnya bapaknya, Drestarastra. Bila sang ayah tidak mampu mengembang tugas itu, jatuhnya ke anaknya, Kurawa. Bukan pamannya, Pandu, yang kemudian mewariskan kepada Pandawa.
Kurawa sepertinya melupakan sejarah peralihan kekuasaan ketika Kresnadwipayana meletakkan jabatan. Semula, saat Kresnadwipayana berketetapan hati lengser keprabon--mundur dari kursi raja--, ia mewariskan takhta kepada putra sulungnya, Drestarastra. Ini sesuai dengan paugeran negara yang terpelihara turun temurun.
Namun, Drestarastra menolak. Nuraninya bicara, dirinya tidak mungkin bisa menjalankan amanah dengan baik karena keterbatasan panca indranya. Sejak lahir, Drestarastra tidak bisa melihat alias buta. Itulah yang menyebabkannya tidak sanggup memikul amanah tersebut.
Ia matur kepada ayahnya, seyogianya singgasana diberikan kepada adiknya, Pandu, demi kelangsungan kejayaan Astina. Ia mengatakan itu dengan setulus hati. Baginya, Pandu sama saja dengan dirinya sehingga tidak ada masalah.
Berulang kali Kresnadwipayana menanyakan, apakah hal itu sudah dipikirkan masak-masak. Berkali-kali pula Drestarastra menegaskan dirinya lila legawa. Oleh karena itu, Kresnadwipayana lalu memasrahkan kekuasaan kepada Pandu. Ia kembali ke Saptaarga menjadi begawan, passion hidupnya sejak dini.
Garis hidupnya, Pandu tidak berusia lama. Ia meninggal ketika kelima putranya (Puntadewa, Bratasena, Arjuna, Pinten, dan Tangsen) masih kanak-kanak. Berdasarkan konstitusi, takhta mesti jatuh ke tangan putranya. Sebelum wafat, Pandu menitipkan takhta Astina untuk sementara kepada Drestarastra. Pesannya, kekuasaan mesti diberikan kepada Puntadewa bila sudah beranjak dewasa.
Drestarastra memegang teguh wasiat adiknya itu. Namun, ia tidak bisa berlaku bijaksana akibat keterbatasan panca indranya. Kelemahan itulah yang dimanfaatkan putranya yang diarsiteki Sengkuni.
Tidak ada dendam
Duryudana terus-menerus merajuki bapaknya agar memberikan kekuasaan Astina kepada dirinya. Di sisi lain, Sengkuni melaporinya bahwa Pandawa telah mati dalam peristiwa Balai Sigala-gala. Situasi itulah yang membuat Drestarastra galau.
Pada akhirnya, seperti kehilangan kendali diri, Drestarastra melantik putranya, Duryudana, menjadi raja muda di Astina. Menurutnya, ini tidak ada pilihan lain karena ahli waris, Pandawa, telah tiada.
Padahal, sesungguhnya Pandawa masih segar bugar. Namun, Puntadewa (Pandawa) dengan tulus dan ikhlas tidak mempermasalahkan Duryudana menduduki takhta Astina walaupun itu haknya. Lebih dari itu, ia tidak benci ataupun dendam terhadap Kurawa meski telah terbukti berulang kali berusaha membunuhnya.
Hanya Bratasena yang semula tidak sejalan dengan sikap kakaknya dan ingin melabrak Kurawa. Namun, ia mampu meper (mengendalikan) amarahnya setelah dinasihati ibundanya, Kunti Talibrata. Hidup mesti dihadapi dengan ikhlas dan legawa apa pun yang terjadi.
Drestarastra kemudian merasa bersalah setelah mengetahui bahwa Pandawa ternyata masih hidup. Ia tidak ingin mencabut keputusannya yang telah mengukuhkan Duryudana sebagai raja Astina. Sabda pendhita ratu tan kena wola-wali. Maka, ia lalu memberikan wilayah yang masih berupa hutan belantara bernama Wanamarta kepada Pandawa untuk dibangun istana.
Secara swadaya Pandawa membangun negara yang ia beri nama Amarta alias Indraprastha. Mereka menolak bantuan Dresatrastra maupun Kurawa dalam bentuk apa pun. Pandawa benar-benar mandiri.
Duryudana ternyata belum puas atas kekuasaannya di Astina. Ia menginginkan juga Amarta yang elok. Maka, lewat tipu muslihat permainan dadu yang diatur Sengkuni, Amarta akhirnya juga pula ke tangan Duryudana.
Lagi-lagi Puntadewa dan adik-adiknya tidak dendam terhadap Kurawa yang merampas negara yang dibangun dengan susah payah. Lebih dari itu, mereka legawa menjalani hukuman pembuangan atas kekalahannya main dadu itu di Hutan Kamyaka selama 12 tahun.
Tidak hanya itu, Pandawa masih melakoni hukuman penyamaran selama satu tahun. Ini pun mereka tempuh dengan tawakal dan lulus melewati hukuman yang sejatinya penzaliman itu di Negara Wiratha.
Menuju ke keabadian
Pandawa menjalani penderitaan bertubi-tubi sebagai laku prihatin. Mereka berpegang kepada keyakinannya bahwa lelakon itu mesti dilakoni. Manungsa mung sak drema nglakoni, manusia sekadar menjalaninya sehingga tidak kata lain selain bersyukur.
Puntadewa menjadi ruh keluarga Pandawa dalam menghadapi semua ujian hidup yang sungguh pahit. Tidak ada secuil pun kebencian mereka terhadap Kurawa meski sudah jelas-jelas telah mencelakakannya.
Namun, Kresna--titisan Bathara Wisnu, yang juga botoh Pandawa, turun tangan. Peran Pandawa, sebagai kesatria, mesti bertindak sesuai dengan muruahnya. Mereka harus melawan kesewenang-wenangan Kurawa. Itu diejawantahkan dalam Bharatayuda, perang antara Pandawa dan Kurawa. Pada akhirnya, Kurawa tumpas di Kurusetra.
Seusai Bharatayuda, Pandawa pulang kampung ke Amarta dan lalu boyongan ke Astina. Tidak lama kemudian Pandawa meninggalkan Astina dan mendaki puncak Gunung Himalaya sebagai lambang menuju ke alam keabadian. (M-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved