Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PERKEMBANGAN di pasar keuangan Turki dalam beberapa pekan terakhir, merupakan idiosyncratic yang bersumber dari memburuknya indikator ekonomi utama, yaitu tingginya inflasi dan melebarnya defisit current account di tengah-tengah penguatan ekonomi AS. Selain itu, aspek politis pemerintah yang akan terlibat dalam kebijakan suku bunga, ikut menambah tensi pelemahan mata uang dan standard setting bodies (SSB) di Turki.
Akibatnya, perhatian terhadap Turki semakin meningkat sejalan dengan pelemahan mata uang Turki, Turkish Lira (TRY) yang pada 23 Mei sempat diperdagangkan mendekati kurs TRY 5 per US$ sebelum akhirnya terkoreksi kembali. Imbal hasil (yield) surat utang pemerintah Turki (GTTRY 10 tahun) naik hingga 16,19% pada level 14,21% (23/5) jika dibandingkan dengan pada 27 April pada level 12,23%. Indeks saham Turki (XU100 Index) turun 16,73% pada level 22,113 (23/5) dari sebelumnya 26,556 (27/4).
Situasi ini akhirnya mendorong Central Bank of Republic Turkey (CBRT) pada 23 Mei menaikkan suku bunga late liquidity lending rate 300 bps ke level 16,5%. Sementara itu, suku bunga acuan CBRT berupa repo rate 1 minggu (1WRR) yang merupakan target suku bunga Bank Sentral dalam mengelola suku bunga pasar jangka pendek, dipertahankan pada level 8%.
Sinyal positif
Respons pasar terhadap langkah kenaikan suku bunga ini umumnya positif karena memberikan sinyal positif terkait eksistensi CBRT yang beberapa waktu lalu sempat dikhawatirkan tidak independen dalam kebijakan moneternya. Namun, masih perlu ditunggu langkah-langkah lanjutan pemerintah dan otoritas moneter dalam mengatasi over heating ekonomi dan kebijakan makroekonomi untuk mengurangi defisit current account.
Pelemahan mata uang Turkish Lira dipicu tingginya angka inflasi yang sejak Februari 2017 menembus 2 digit, dan saat ini berada pada level 10,85%. Inflasi Turki jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Eropa seperti Euro Zone 1,2%; Rusia 2,4%; Spanyol 1,1%; Italia 0,6%; dan Polandia 1,6%. Selain inflasi yang tinggi, Current Account Deficit (CAD) Turki terus melebar dan mencapai -4,8% (April 2018) jika dibandingkan dengan Februari 2018 sebesar -2,6%.
Faktor lain terkait rencana Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, untuk mempunyai kewenangan besar dalam kebijakan suku bunga yang selama ini merupakan kewenangan Gubernur Bank Sentral, ikut memberikan dampak negatif terhadap pasar.
Pada 24 Mei Turkish Lira (TRY) diperdagangkan pada level USD/TRY 4.5849, sedikit menguat jika dibandingkan dengan perdagangan sehari sebelumnya yang sempat mencapai USD/TRY 4.9253. Surat utang pemerintah Turki diperdagangkan pada yield 14,2% setelah sempat melemah dan mencapai level tertinggi 14,5% pada 21 Mei. Indeks Saham Turki tercatat pada level 22,226 setelah sempat turun pada level 21,974 pada 22 Mei.
Dalam kurun waktu empat tahun terakhir, ekonomi Turki sebenarnya tumbuh cukup baik dengan pertumbuhan di atas 7%, yaitu pada 2015 tumbuh 7,5% dan 2017 tumbuh 7,26%. Aktivitas ekspor terhadap mitra dagang utama 5 negara tujuan juga positif, yaitu terhadap Jerman dengan nilai ekspor US$15,6 miliar, Irak US$9,5 miliar, Inggris US$9,5 miliar, AS US$9,4 miliar, dan Italia dengan nilai ekspor US$9,3 miliar.
Di sisi lain, impor berasal dari 3 negara terbesar yaitu Tiongkok senilai US$23,3 miliar, Rusia senilai US$21,3 miliar, dan Italia senilai US$11,9 miliar.
Dampak buat Indonesia
Sejalan dengan penguatan ekonomi AS dalam beberapa waktu terakhir, outstanding portofolio kepemilikan asing SSB dan saham juga mengalami penurunan. Outstanding asing di awal 2018 terhadap surat-surat berharga pemerintah tercatat US$30,5 miliar (Mei 2018 tercatat menjadi US$29,6 miliar atau turun 12,4%). Pada pasar saham tercatat US$50,2 miliar (Mei 2018 tercatat menjadi US$40,8 miliar atau turun 21,4%).
Saat ini Credit Default Swap (CDS) Turki merupakan yang tertinggi di negara-negara emerging market lainnya seperti Filipina, Indonesia, dan Thailand. Angka CDS Turki mencapai 41,79% (mtd), Filipina dan Indonesia masing-masing sebesar 18,41% dan 18,90%, Malaysia 16,19%; dan Thailand 3,46%. Besaran CDS ini bersifat dinamis tergantung perkembangan indikator pasar keuangan di tiap-tiap negara.
Peningkatan volatilitas pasar yang terjadi di satu kawasan dapat berdampak terhadap kawasan lainya (spill over effect) sesama kategori emerging market. Namun, hal tersebut tidak serta merta memengaruhi masing-masing negara karena faktor kekhususan (idiosyncratic) juga menjadi pertimbangan penting bagi investor global.
Salah satu faktor yang menjadi fokus investor global ialah suku bunga riil (real yield) positif pada emerging market. Indonesia tergolong negara yang memiliki real yield yang cukup tinggi yaitu 3,4%; lebih tinggi jika dibandingkan dengan Malaysia 2,8%; Mexico 2,93%; Thailand 1,3%; Korsel 1,1%; Filipina 1,7% dan Tiongkok 1,8%.
Dari sisi kepemilikan asing terhadap surat utang pemerintah juga menunjukkan tren kenaikan, hal yang sama terjadi di negara emerging lain seperti Thailand, Malaysia, dan Filipina. Hal ini cukup memberikan gambaran bagaimana outlook pasar keuangan negara-negara emerging masih tetap positif dari sudut pandang investor global.
Namun, diperlukan kewaspadaan, khususnya otoritas pasar, untuk menghadirkan langkah-langkah kebijakan yang proaktif dan antisipatif sehingga dapat menjaga tingkat kepercayaan pasar.
Selain itu, kerja sama yang baik antarotoritas pasar tetap perlu dijaga dan bahkan ditingkatkan sehingga deteksi dini terhadap perubahan yang terjadi di pasar keuangan global yang demikian cepat, dapat dimitigasi kemungkin risiko yang terjadi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved