Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM kultur politik di Indonesia, sebetulnya agak di luar pakem jika tiba-tiba ada seorang tokoh politik yang secara terbuka mencalonkan diri menjadi presiden. Akan tetapi, bukan Amien Rais jika tidak tampil beda.
Politikus gaek yang dikenal sebagai salah satu tokoh reformasi ini, tanpa tedeng aling-aling mencalonkan diri sebagai presiden dan bahkan menantang Presiden Jokowi sebagai petahana untuk bertanding secara fair.
Amien Rais mengungkapkan rencananya maju sebagai calon presiden 2019 saat berkumpul di rumah dinas Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, di acara buka puasa bersama. Jika dibandingkan dengan tokoh Partai Amanat Nasional (PAN) yang lain seperti Zulkifli Hasan, Soetrisno Bachir, dan Hatta Rajasa, Amien Rais boleh jadi yang paling berani melawan arus.
Amien Rais menilai dirinya sedikit layak menjadi calon presiden di 2019, meski ia sebetulnya sempat mencalonkan diri di 2014 dan kalah. Amien Rais mengaku ide maju dalam pertarungan presiden RI karena terinspirasi kesuksesan Mahathir Mohamad, yang mampu mengalahkan Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak.
Mahathir menang dan menjabat sebagai perdana menteri Malaysia di saat usianya sudah 92 tahun. Sementara itu, Amien Rais yang usianya baru 74 tahun merasa tidak ada yang keliru dengan keyakinan dirinya maju di pemilu tahun depan.
Apakah dalam Pemilu 2019 nanti Amien Rais benar-benar berpeluang menang ataukah langkah politik yang dilakukan sekadar bagian dari berita sensasional yang memang menjadi gaya penampilan Amien Rais di hadapan publik, tentu waktulah yang akan menguji.
Akan tetapi, yang jelas munculnya nama Amien Rais dalam pemberitaan tentang siapa penantang yang layak bagi petahana seperti Jokowi, diakui atau tidak telah membuat tensi politik menghangat kembali.
Bentuk ketidakpercayaan
Jika selama ini, tokoh politik yang kerap kali disebut-sebut sebagai lawan setimpal Jokowi ialah Prabowo Subianto. Dengan tampilnya nama Amien Rais, tentu peta politik pencalonan bukan tidak mungkin akan berubah. Ketika elektabilitas Prabowo Subianto dirasa belum juga meyakinkan dan menggembirakan kelompok oposan, munculnya Amien Rais bisa saja menjadi kuda hitam penantang Jokowi.
Amien Rais yang sebelumnya disebut-sebut sebagai pendukung Prabowo Subianto, tampaknya kini mulai berubah haluan. Keputusan untuk tampil secara terbuka menjadi calon presiden, bisa saja dibaca sebagai indikasi atau sinyal ketidakpercayaan pada elektabilitas Prabowo untuk mengejar elektabilitas calon presiden petahana.
Sejumlah partai politik yang berdiri di belakang Prabowo seperti PAN dan PKS, belakangan ini memang ditengarai mulai mengambil jarak. Koalisi sejumlah partai politik yang menjadi partai oposisi pemerintah dan lebih mendukung Prabowo sebagai calon presiden yang baru, pelan-pelan mulai tercerai.
Meski menjadi partai pelopor munculnya tagar ganti presiden 2019, PKS hingga sekarang tidak pernah secara tegas menyatakan mendukung pencalonan Prabowo. Sementara itu, PAN juga dikabarkan menolak logo dan nama partainya dicantumkan dalam struktur pengurus posko bersama yang digagas Gerindra.
Prabowo Subianto yang melaksanakan umrah bersama Amien Rais sekaligus untuk bertemu dengan tokoh FPI Rizieq Shihab, alih-alih memperoleh dukungan yang makin solid dari koalisasi partai politik pendukungnya, justru dalam kenyataan yang muncul ialah usulan koalisi baru, yaitu koalisi keumatan.
Di luar nama Prabowo dan Amien Rais, bahkan sempat muncul nama Anies Baswedan sebagai sosok yang pantas diusung bersaing menantang Jokowi. Peluang Prabowo pun untuk menjadi penantang Jokowi menjadi lebih sulit. Terutama kalau Gerindra sebagai partai utama pengusungnya tidak mampu merangkul dan meyakinkan partai politik lain untuk mempromosikan Prabowo sebagai penantang potensial.
Di tengah situasi politik di lingkungan partai oposan yang tak kunjung jelas seperti digambarkan di atas, akhirnya Amien Rais memberanikan diri mencalonkan dirinya sendiri sebagai penantang presiden petahana.
Retorika Amien Rais yang kerap kali bicara blak-blakan dan sering melontarkan kritik keras kepada kepemimpinan Jokowi, menjadi amunisi baru koalisi partai oposan untuk memunculkan lawan yang bisa diandalkan menantang Jokowi.\
Simplikasi masalah
Presiden Jokowi ketika ditanya pendapatnya tentang pencalonan Amien Rais menyatakan, sangat menghargai dan menyambut gembira kemungkinan Amien Rais ikut bertarung dalam Pemilu 2019.
Berbeda dengan sejumlah nama yang sempat muncul sebagai penantang yang pantas melawan Jokowi, seperti Prabowo, mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Agus Harimurti Yudhoyono, Anies Baswedan, atau nama-nama yang lain, Amien Rais diakui telah matang makan asam-garam dalam dunia politik. Cuma, yang menjadi masalah apakah partai koalisi bersedia mencalonkan Amien Rais dan menggeser calon-calon lain yang juga prospektif?
Klaim Amien Rais yang terilhami keberhasilan Mahathir Mohamad, dalam pandangan pengamat politik dinilai terlalu menyimplifikasi masalah. Di Malaysia, Mahathir dikenal sebagai sosok pemimpin yang berhasil membawa Malaysia menjadi negara maju.
Kebetulan Mahathir dapat berpeluang menang karena petahana yang menjadi lawan politiknya disinyalir terlibat dalam kasus korupsi yang menghebohkan masyarakat. Sementara Amien Rais, ketika mencalonkan diri 2014 justru kalah telak. Di sisi lain, Presiden Jokowi yang menjadi lawan politiknya nanti juga tidak tengah berbelit kasus korupsi seperti petahana di Malaysia.
Bagi insan pers, retorika Amien Rais yang meledak-ledak dan kerap melontarkan kritik terbuka kepada Presiden Jokowi, selama ini memang menjadi bahan pemberitaan media massa yang layak jual. Keberanian Amien Rais yang terang-terangan mengkritik pemerintahan Jokowi dan penggunaan idom-idiom politik yang bombastis, apalagi ketika dibumbui dengan terminologi keagamaan, harus diakui merupakan hal yang menyegarkan dalam kehidupan politik Indonesia.
Akan tetapi, sayangnya, gaya bertutur dan kritik keras yang dilontarkan Amien Rais ternyata tidak memperoleh respons seperti yang diinginkan. Berbagai kritik yang ditujukan kepada Jokowi justru membuat simpati publik meningkat terhadap mantan Gubernur DKI Jakarta itu. Respons Jokowi yang dengan kalem menyatakan sangat menghargai pencalonan Amien Rais sebagai presiden, membuat masyarakat makin bersimpati kepada Jokowi.
Meski semua hal mungkin saja terjadi dalam kehidupan politik. Namun, perjuangan Amien Rais untuk maju sebagai kandidat yang menantang petahana tampaknya masih harus menempuh jalan yang berliku. Bisa saja Amien Rais gagal maju karena tidak ada partai yang mengusulkannya, tetapi reputasinya tetap terjaga karena tak jadi bertarung dalam Pemilu 2019.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved