Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
IDUL Fitri telah tiba. Aroma bahagia menyebar ke mana-mana. Canda tawa terdengar merata. Saling memaafkan sudah membudaya. Mudik menjadi sulit ditunda. Lontong opor tersedia di atas meja. Tamu bertandang silih berganti tiada jeda.
Sementara itu, di luar sana, resto dan tempat-tempat wisata penuh sesak tidak seperti biasa. Hari Raya Idul Fitri bak pesta rakyat yang terjadi begitu saja tanpa komando siapa-siapa. Inikah hari kemenangan menaklukkan hawa nafsu sehingga patut dirayakan dengan gegap gempita?
Semua berhak bahagia dengan cara masing-masing. Bagi mereka yang memiliki naluri kuasa tinggi, bisa jadi kebahagiaan terletak pada 'jabatan'. Tidak jarang untuk memuaskan hasrat itu, apa pun dilakukan, termasuk memanfaatkan jargon-jargon agama untuk memobilisasi dukungan.
Bagi yang memiliki motif berprestasi tinggi, kebahagiaan baru terasa jika dapat menjadi 'juara'. Memiliki prestasi yang selalu lebih baik daripada waktu ke waktu dapat berupa prestasi akademik, olahraga, seni atau hobi. Sementara itu, mereka yang menonjol kebutuhan afiliasi akan sangat bergembira jika update statusnya banyak yang nge-like, atau memiliki begitu banyak follower di media sosial.
Kebahagiaan subjektif
Dulu orang mengira kebahagiaan itu objektif, dapat dirasakan sama berdasarkan standar-standar tertentu. Belakangan para peneliti menyimpulkan kebahagiaan itu subjektif, sangat bergantung pada cara subjek masing-masing merasakannya. Peristiwa yang sama ternyata dapat memiliki makna yang berbeda-beda bagi setiap orang. Di mata jutawan, misalnya, uang Rp2 juta itu kecil, seperti uang receh saja, karena pundi-pundinya ada di mana-mana. Sementara itu, bagi orang kecil, Rp2 juta itu sangat besar, dapat untuk menyambung hidup satu bulan. Itulah sebabnya istilah yang kemudian lebih sering dipergunakan dalam kajian-kajian psikologi ialah subjective well-being, kebahagiaan subjektif.
Carr (2011) mengatakan, kebahagiaan ialah sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan seseorang tanpa pandang usia. Kebahagiaan ialah sebongkah perasaan yang dapat dirasakan sebagai perasaan senang, tenteram, dan damai. Dengan kata lain, kebahagiaan dapat didefinisikan sebagai keadaan psikologis positif yang ditandai dengan tingginya derajat kepuasan hidup (life satisfaction), perasaan positif (positive affects), dan rendahnya derajat perasaan negatif (negative affects).
Ketiadaan ketiga indikator kebahagiaan dimaksud bukan saja berakibat yang bersangkutan tidak dapat merasakan kebahagiaan dalam hidup, melainkan juga sulit membahagiakan orang lain. Tidak jarang orang mengekspresikan ketidakbahagiaan dengan berperilaku agresif. Menyerang orang lain secara verbal berupa ujaran ujaran kebencian yang meluncur dari mulutnya yang tajam, atau dari jari-jemarinya melalui media sosial.
Atau melalui tindakan kekerasan seperti perilaku klithih; konvoi keliling kota untuk mencari sasaran yang akan dijadikan korban, atau tawuran, yang melukai orang lain, bahkan dalam banyak kasus sering menelan korban jiwa. Kepuasan melihat orang lain terluka ialah mentalitas orang sakit yang hatinya yang sudah dipenuhi amarah. Mereka ini jauh dari pesan Nabi, seperti yang disampaikan kepada sahabat Uqbah bin 'Amir, "Sambunglah silaturahim dengan orang-orang yang memutus hubungan, beri mereka yang tidak pernah memberi, dan maafkan siapa saja yang pernah menzalimimu," (HR Ahmad).
Pendidikan yang membahagiakan
Tahun lalu Organisasi untuk Kerja Sama dan Pengembangan Ekonomi (OECD) merilis laporan terbaru berdasarkan data dari Program Penilaian Siswa Internasional (PISA) 2015. PISA adalah survei internasional tiga tahunan yang mengevaluasi sistem pendidikan di seluruh dunia. Ini menguji keterampilan dan pengetahuan siswa berusia 15 tahun, yang diikuti lebih dari setengah juta siswa dari 72 negara dengan berbagai tingkat sosial ekonomi yang beragam.
Laporan baru ini, hasil PISA 2015, ternyata menyertakan juga informasi mengenai kebahagiaan siswa, bagaimana motivasi belajar siswa di sekolah, seperti apa hubungan baik mereka dengan teman sebaya dan guru, kehidupan rumah, dan waktu yang dihabiskan di luar sekolah.
Tentu terdapat banyak faktor yang memengaruhi kebahagiaan siswa. Itu bisa dari dukungan yang diberikan orangtua kepada anak, hingga waktu yang dihabiskan siswa secara daring, sampai berbagai upaya yang dikembangkan personel sekolah untuk mengurangi bullying.
Namun, yang terpenting dari semua itu ialah guru. Sebagaimana ditunjukkan data PISA 2015, peran guru sangat penting bagi keberhasilan akademik dan perilaku siswa. "Siswa yang lebih bahagia melaporkan hubungan positif dengan para guru," kata Schliecher, direktur untuk pendidikan dan keterampilan serta penasihat khusus mengenai kebijakan pendidikan pada sekretaris jenderal di OECD.
Siswa di sekolah 'bahagia' (sekolah di mana kepuasan hidup siswanya berada di atas rata-rata di negaranya) melaporkan dukungan yang jauh lebih besar daripada guru bila dibandingkan dengan siswa di sekolah yang 'tidak bahagia'. Hubungan siswa-guru yang positif dilukiskan sebagai sebuah 'interaksi yang sopan dan baik'.
Carrie Furrer Dkk (2017), peneliti dari Portland State University, menggambarkan hubungan berkualitas tinggi di kelas. "Siswa berani mengatakan apa yang diinginkan dan bersedia mendengarkan perspektif orang lain secara terbuka, siswa memberikan kritik konstruktif dan menerima umpan balik, kelasnya ramah tetapi fokus pada kegiatan akademik, dipenuhi dengan tawa, tugas yang menantang, kerja keras, kepuasan, dan saling menghormati."
Dengan menciptakan lingkungan belajar yang peduli dan sarat respek seperti ini, guru dapat meningkatkan perkembangan sosial-emosional siswa secara lebih sehat. Bagi siswa yang secara historis kurang terlayani khususnya, hubungan positif dengan guru ini terasa semakin penting. Laporan OECD memberikan beberapa rekomendasi tentang bagaimana sekolah dapat meningkatkan kualitas hubungan guru-siswa agar semua siswa dapat lebih berbahagia.
Siswa, misalnya, dapat diberi pengalaman belajar berpikir kritis tentang ketidaksetaraan--tentang hambatan yang dihadapi siswa yang kurang mampu dan sumber daya internal atau eksternal apa yang diperlukan untuk dapat membantu mengatasinya. Sementara itu, pengembangan profesional dapat membantu guru untuk dapat lebih memahami dinamika keragaman sosial, ekonomi, dan budaya yang ada sehingga mereka dapat lebih siap ketika harus bekerja dengan siswa terutama yang paling rentan agar harga dirinya dapat membaik.
Di sekolah dengan komunitas dan budaya ta'awun (gotong royong) yang kuat, guru tidak mengabaikan pengaruh perbedaan sosial ekonomi siswa. Sebaliknya, mereka justru bertungkus rumus untuk mengidentifikasi dan mengatasi aspek-aspek apa dari perbedaan-perbedaan ini yang diduga memiliki dampak pada kebahagiaan subjektif siswanya, yang secara historis kurang terlayani. Intervensi guru yang terampil dan bijaksana dipastikan dapat meningkatkan harapan yang siswa miliki tentang apa yang mungkin mereka capai di masa depan.
Sebenarnyalah, kritik terhadap model pendidikan di banyak negara yang dinilai terlalu kognitif, tidak cukup disikapi dengan melakukan penguatan pendidikan karakter. Meski benar, bagi pegiat pendidikan karakter, siswa--khususnya di kelas-kelas dasar--lebih memerlukan fondasi karakter yang kuat bila dibandingkan dengan penguasaan pengetahuan dan teknologi. Karakter lebih dapat diharapkan menjadi lentera bagi perjalanan kehidupan anak ke depan. Tanpa karakter yang kuat, dikhawatirkan anak tidak akan berhasil mengarungi dinamika samudra kehidupan yang terkadang terasa sangat keras.
Meskipun demikian, pada hemat penulis, penguatan pendidikan karakter saja belum cukup. Pendidikan modern hendaknya bukan saja merupakan proses belajar-mengajar yang fun dan dapat mengembangkan sikap spiritual, melainkan juga mengajarkan how to be happy, bagaimana caranya menikmati hidup dengan benar. Tanpa keterampilan ini, anak cenderung akan memiliki perilaku malaadaptif jika berhadapan dengan persoalan-persoalan kehidupan yang rumit dan kompleks.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved