Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KELUARGA menjadi pilar dalam pendidikan. Sebagaimana Ki Hajar Dewantara nyatakan, pendidikan perlu terbangun dalam tiga pilar; Tripusat Pendidikan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat/pemerintah. Dengan demikian, keluarga menjadi sendi kehidupan bangsa yang vital.
Dari keluargalah anak-anak belajar dan mengenal lingkungan. Saat anak terdidik dalam lingkungan keluarga yang baik, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Demikian pula sebaliknya, saat mereka dididik dari lingkungan yang keliru, ia akan menjadi korban.
Pada aksi teror bom di Surabaya bulan lalu misalnya, satu keluarga menceburkan diri dalam tindak teroris. Ironisnya, kedua orangtuanya mengikutsertakan anak dalam aksi itu. Rita Pranawati (2018) menyatakan anak ialah korban. Anak yang dilibatkan dalam tindak terorisme ialah korban dari ego orang dewasa. Dengan menilik hal itu, perlu kerja bersama membangkitkan peranan keluarga dalam membangun keadaban. Pertanyaan yang muncul kemudian ialah bagaimana mewujudkan hal tersebut?
Peran orangtua
Driyarkara menulis, 'Sesudah dilahirkan secara fisik, manusia (muda) masih harus dilahirkan secara rohani. Ini adalah proses kelahiran yang lama, lebih penting, dan lebih sulit. Si manusia muda harus dibangun sedikit demi sedikit sehingga menjadi manusia yang patut disebut pribadi'.
'Manusia muda harus dipribadikan. Siapakah yang harus membimbing ke kepribadian? Orangtuanya. Sebab dengan orangtuanya si anak merupakan kesatuan yang dibawa oleh kodrat sendiri. Dan lagi, si anak merupakan kontinuasi dari hidup orangtuanya. Inilah dasar hak dan kewajiban orangtua menentukan hidup si anak, memilih suatu pengajaran tertentu, dan lain sebagainya. Hak dan kewajiban ini adalah bawaan dari kodrat; tidak boleh dicabut oleh siapa pun juga' (A Sudiarja, G Budi Subanar, St Sunardi, T Sarkim: 2006).
Keluarga dengan demikian merupakan pintu masuknya 'ideologi' dalam diri anak. Anak akan belajar bersikap dari orangtua mereka. Saat orangtua tidak mempunyai pandangan yang inklusif (terbuka), ia akan terperosok pada eksklusivisme. Saat eksklusivisme itu tidak terbendung dan tidak mendapat sapaan dari orang lain, ia akan menjadi bagian dari otoritarianisme.
Khaled M Abou el Fadl (2003) menyebut otoritarianisme adalah tindakan 'mengunci' atau mengurung kehendak Tuhan atau kehendak teks dalam sebuah penetapan tertentu, dan kemudian menyajikan penetapan tertentu sebagai sesuatu yang pasti, absolut, dan menentukan. Otoritarianisme yang terbangun dan menjadi laku bagi anak menjadi bukti ia ialah korban dari produk pendidikan keluarga yang keliru. Hal itu tentu tidak dapat dibiarkan. Perlu rekayasa sosial agar yang lain terlepas dari jebakan terorisme.
Dasawisma
Rekayasa itu dapat terbangun dalam lingkungan sosial yang sehat. Salah satu jalur menyehatkan keluarga Indonesia ialah menghidupkan lagi spirit dasawisma. Dasawisma dulu menjadi program andalan di era Orde Baru. Program itu menghimpun 10 rumah dalam suatu lingkungan masyarakat. Himpunan itu rutin mengadakan kegiatan. Misalnya sekadar bertemu sapa dalam bingkai arisan atau yang lain.
Dasawisma menjadi sarana untuk saling mengakrabkan anggota masyarakat. Melalui kegiatan-kegiatan santai dan ringan masyarakat akan dilatih untuk peduli terhadap sesama. Mereka bertegur sapa, saling bercerita, dan saling membantu di antara anggota dasawisma.
Mengembalikan spirit dasawisma menjadi penting di tengah semakin individualnya masyarakat. Melalui dasawisma, masyarakat 'dipaksa' untuk mengenal tetangga mereka secara baik. Mereka pun dapat saling belajar membangun keluarga dari hasil tukar pikiran dengan tetangga.
Dasawisma merupakan model pendidikan keluarga yang cukup baik. Model itu akan menguatkan sendi kehidupan dan memberi fondasi yang baik bagi anak. Anak akan mendapatkan pendidikan yang memadai, tidak hanya dari orangtua mereka. Namun, dari keluarga lain di lingkungan sekitar. Anak dengan demikian akan mempunyai cara pandang yang lebih luas. Pasalnya mereka melihat dan merasakan kehidupan orang lain secara langsung. Mereka akan mendapat pengalaman baru dari orang lain yang juga sedang berproses.
Ruang dialog
Inilah model pendidikan yang perlu ditanamkan orangtua sejak kecil. Kepedulian inilah yang akan menyelamatkan seseorang dari perilaku yang salah. A Lysen (1984) menyatakan tiap-tiap generasi baru dapat disamakan dengan suatu penyerbuan dari orang-orang biadab yang kecil. Saat orangtua lalai melatih mereka dengan memberikan pendidikan, keruntuhan akan mengancam. Sesungguhnya, pergaulan hidup manusia, peradaban kita, tidak dapat berlangsung berdasarkan pembawaan yang kita telah miliki pada waktu dilahirkan.
Kita ini lahir dalam suatu dunia yang sudah mempunyai sejarah ribuan tahun lamanya. Sejarah itu telah meninggalkan bekas-bekasnya yang tahan zaman; bukan saja dalam bentuk barang-barang dari lingkungan kebendaan kita, melainkan juga yang terlebih penting bagi yang berupa berbagai keuntungan rohani yang diperoleh dengan berangsur-angsur oleh mereka yang hidup sebelum kita.
Dengan demikian, pendidikan keluarga merupakan pilar utama dalam membentengi seseorang dari pengaruh radikalisme dan terorisme. Pendidikan keluarga tidak hanya terbangun dari internal anggota rumah tangga. Namun, perlu terbangun dari usaha sadar dan terencana dari seluruh komponen keluarga (masyarakat).
Masyarakat sebagai keluarga kedua bagi anak perlu kembali meneguhkan keadaban publik. Keadaban publik terbangun atas ruang dialog. Dialog mensyaratkan manusia berkomunikasi dua arah. Manusia saling menghargai satu sama lain. Jika yang satu berbicara, yang lain mendengarkan dengan saksama. Model itu tidak akan menguatkan ikatan masyarakat, tetapi akan menjadi penguat jiwa sosial kemanusiaan. Kemanusiaan akan dipenuhi tanda keutamaan dengan setiap manusia mampu memosisikan diri dalam membangun peradaban.
Pada akhirnya, keluarga menjadi pilar utama keadaban bangsa. Jika keluarga kuat, bangsa akan bermartabat. Pendidikan keluarga akan menjadi pintu masuk untuk menguatkan keadaban itu.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved